facebook

Gara-Gara Menangis Usai Konsultasi, Pasien Ini Harus Bayar Lebih dari Rp 500 Ribu ke Rumah Sakit

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Gara-Gara Menangis Usai Konsultasi, Pasien Ini Harus Bayar Lebih dari Rp 500 Ribu ke Rumah Sakit
Ilustrasi rumah sakit. (Shutterstock)

Biaya tersebut lebih mahal dari pemeriksaan mata maupun pengambilan sampel darah kapiler.

Suara.com - Menjadi sensitif secara emosional atau sedih selama di rumah sakit bukanlah hal aneh. Orang-orang juga biasanya akan menghabiskan waktu sampai mereka tenang sebelum memutuskan pulang.

Berkaitan dengan hal ini, sebuah insiden tak terduga terjadi pada adik Camille Johnson (25) asal New York ketika ia berada di rumah sakit.

YouTuber ini menceritakan bahwa adiknya dikenai biaya 40 USD (Rp 589 ribu) hanya karena menangis di rumah sakit, setelah ia berkonsultasi dengan dokternya.

"Akhir-akhir ini adik perempuanku sedang sakit dan akhirnya pergi ke dokter. Mereka menagih 40 USD karena menangis," cuit Johnson, Rabu (18/5/2022).

Baca Juga: Bahaya! Pria Ini Tidur Pakai Kipas Angin Sepanjang Malam Berakhir di Rumah Sakit

Johnson pun menunjukkan bukti dengan melampirkan foto struk dari rumah sakit. Dalam struk tersebut tertera keterangan "ASSMT Emosional/Perilaku Singkat 40 USD".

Cuitan Camille Johnson tentang adiknya (Twitter)
Cuitan Camille Johnson tentang adiknya (Twitter)

Dalam utasnya, Johnson menceritakan bahwa adiknya menderita penyakit langka.

"Ia menjadi emosional karena dia merasa frustasi dan tidak berdaya. Satu tetes air mata dan mereka menagihnya 40 USD tanpa membahas alasan dia menangis, mencoba membantu, melakukan evaluasi apa pun, resep apa pun," sambungnya, dikutip New York Post.

Ia juga menyinggung biaya yang lebih mahal daripada tes penglihatan, tes hemoglobin, penilaian risiko kesehatan dan pengambilan sempel darah kapiler.

Padahal, Johnson mengklaim pihak rumah sakit tidak pernah memeriksa kesehatan mental sang adik. Bahkan untuk depresi sekali pun.

Baca Juga: Viral Pasangan Berjodoh, Bertemu di Rumah Sakit saat Jaga Orang Tua

"Dia tidak pernah berkonsultasi dengan spesialis, tidak dirujuk ke siapa pun, tidak diberi resep apa pun, dan mereka tidak melakukan apa pun untuk menyembuhkan kesehatan mentalnya," imbuh Johnson berapi-api.

Atas hal ini, Johnson menginginkan adanya perubahan dalam bidang perawatan kesehatan di negaranya.

"Saya pikir berbagi kisah nyata secara online akan menjadi cara yang baik untuk membuka percakapan ini dan membantu mengadvokasi perubahan," lanjutnya.

Ia menekankan, "Saya sangat berharap cuitan ini dapat mendorong perbaikan dalam sistem perawatan kesehatan kita serta menjadi peringatan untuk masa depan."

Namun, Johnson tidak menyebutkan nama rumah sakit tempat adiknya memeriksakan diri.

Komentar