
"Fortifikasi itu jalan yang paling murah dan cost (biaya) paling efektif dengan fortifikasi. Seperti yang kita ketahui garam biasa kalau tidak difortifikasi dengan yodium, kita kekurangan yodium, makanya difortifikasi dengan iodine kayak atom 53," papar Prof. Ahmad.
Fortifikasi yaitu penambahan zat, mineral dan vitamin dalam produk pangan yang sudah jadi. Contohnya garam yodium hingga susu fortifikasi yang ditambahkan zat besi, vitamin C, vitamin A dan sebagainya.
Dr. Ray mengatakan zat besi jadi salah satu mikronutrien yang paling mudah difortifikasi, salah satunya melalui susu pertumbuhan seperti SGM Eksplor. Apalagi format susu ini juga tetap berbentuk pangan yang dikonsumsi sehari-hari, sehingga mudah diserap tubuh anak dibanding suplemen.
“Idealnya zat gizi mikro masuk berbarengan dengan makanan. Kalau pada anak-anak zat besi itu sudah banyak penelitiannya paling gampang difortifikasi pada salah satunya susu pertumbuhan. Kenapa? Bioavailitas (jumlah yang diserap tubuh) tinggi banget. Jadi yang masuk lewat susu pertumbuhan, akan lebih banyak diserap tubuh daripada dibuang,” ungkap Dr. Ray.
Lelaki yang juga Pengajar Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu juga mengingatkan cara kerja zat gizi mikro atau mikronutrien cenderung keroyokan, sehingga jika ada satu saja zat yang kurang alias tidak lengkap maka penyerapannya di tubuh menjadi tidak maksimal.
“Ini karena zat gizi mikro kerjanya barengan alias keroyokan. Contoh zat besi butuh vitamin C butuh vitamin A, juga ada zinc dan lain-lain. Lewat susu pertumbuhan, itu udah ada penelitian bahwa kalau vitamin C-nya ditambahin zat besi itu lebih bagus bioavailitasnya (penyerapannya) kendaraanya sudah jalan dengan baik, nempel dengan bagus di hemoglobin,” papar Dr. Ray.
Bukan cuma susu pertumbuhan yang difortifikasi, Danone Indonesia juga berinovasi lewat program binaan budidaya padi sehat hasil kerjasama dengan Pandawara Agri dan Bulog, yaitu menginisiasi penanaman padi biofortifikasi untuk mengatasi gap alias celah masyarakat Indonesia kekurangan zat besi. Khususnya mencegah ibu hamil kekurangan zat besi yang memicu anemia hingga melahirkan anak stunting.
Berbeda dengan pangan fortifikasi, di mana zat gizi mikro ditambahkan setelah bahan pangan jadi. Sedangkan biofortifikasi yaitu zat, mineral hingga vitamin diserap bersama dengan proses pertumbuhan bahan pangan tersebut.
Contohnya, beras biofortifikasi ditanam dalam bentuk bibit padi yang akan ditanam, sudah lebih dulu mengandung nutrisi dan mineral seperti zinc (seng) hingga zat besi.

"Sekarang banyak diteliti dan terbukti efektif namanya biofortifikasi. Jadi bukan berasnya yang udah jadi, begitu jadi padi, begitu mulai dibenihkan, benihnya itu yang difortifikasi. Ini namanya biofortifikasi, jadi lebih natural alami dan tidak merusak siklus tanam," ujar Dr. Ray.
Perwakilan Pandawara Agri, Wahyudi dalam acara penanaman padi biofortifikasi oleh peserta Jelajah Gizi 2024 dan talkshow di Desa Benelan Kidul, Banyuwangi mengungkap jika padi biofortifikasi memiliki sederet keunggulan untuk kesehatan.
Contohnya padi biofortifikasi mengandung 3 kali zinc (seng) lebih banyak yakni sebesar 9,62 ppm (bagian per sejuta), rendah pestisida 50 persen sehingga lebih rendah residu alias cemaran pada beras, hingga lebih efisien karena hemat air hingga 49 persen dibanding lahan sawah yang ditanami padi varietas lain.

"Paling penting uji coba varian beras biofortifikasi ini bukan hanya kandungan zinc 3 kali lebih tinggi dari varian lainnya. Padi fortifikasi ini juga memiliki kandungan nutrisi 3 kali lebih tinggi dari jenis padi yang dimiliki petani di sini," ujar Wahyudi.
Apalagi data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 21,6 persen. Sementara Riskesdas 2018 mencatat 1 dari 3 anak Indonesia mengalami anemia.
Namun Dr. Ray mengingatkan tidak semua produk pangan bisa difortifikasi. Ini karena kata dia, syarat fortifikasi bisa dilakukan hanya pada produk pangan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Adapun selain beras, beberapa produk yang wajib difortifikasi di Indonesia yaitu garam ditambah yodium, terigu ditambah zat besi, seng, asam folat, vitamin B1 dan B2 hingga minyak goreng dengan vitamin A.
"Syarat fortifikasi itu format makanannya yang banyak dikonsumsi orang, tujuannya apa? Supaya zat gizi mikro seperti vitamin mineral itu gampang kekurangan bisa terpenuhi, karena masuk bersamaan dengan konsumsi sehari-hari," papar Dr. Ray.
"Di Indonesia idealnya memang beras, karena beras makanan yang paling banyak dikonsumsi, juga tepung sudah bisa dan banyak fortifikasi," sambung Dr.Ray.
Pangan fortifikasi terjangkau dan wajib makan isi piringku
Staf Khusus Badan Gizi Nasional, Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS mengingatkan tantangan dari pangan fortifikasi hingga beras biofortifikasi yaitu harganya cenderung sulit dijangkau masyakarat pra sejahtera karena harganya yang mahal. Hasilnya keluarga miskin dengan anggota keluarga anemia dan stunting sulit membelinya.
"Fortifikasi beras itu bagus, tapi yang saya tanyakan itu, apakah harga bisa masuk (sesuai harga pasaran) atau tidak? Ternyata kalau beras biasa itu Rp 12.000 per kilogram, kalau premium Rp 13.500, kan kalau makan sekali beras 100 gram, kalau dua kali minimal jadi 200 gram karena nasi 100 gram 1.350 kalori, nah itu sudah masuk sesuai kebutuhan harian," papar Prof. Ikeu.
Namun terakhir Dr. Ray mengingatkan, mengonsumsi beras hasil biofortifikasi tidak lantas menghilangkan kewajiban makan bergizi seimbang. Apalagi kata Prof. Sulaeman, tidak ada satu pun jenis makanan yang bisa mencukupi semua kebutuhan tubuh, sehingga setiap orang perlu mengonsumsi makanan selaiknya program Isi Piringku.

Isi Piringku adalah panduan kebutuhan gizi harian seimbang, yang dalam satu kali makan terdiri dari 50 persen piring diisi sayur dan buah. Lalu 50 persen lainnya diisi makanan pokok dan lauk pauk.
"Yang difortifikasi hanya zat tertentu saja, kita kan kebutuhan zat gizi bukan cuma difortifikasi saja. Kalau enggak makan yang lain, terus protein dari mana asam lemak esensial dari mana, jadi tetap walaupun fortifikasi kita tetap perlu pangan yang beragam bergizi seimbang. Ini karena tidak ada satupun bahan pangan yang bisa mencukupi kebutuhan zat gizi kita," jelas Prof. Sulaeman.
Perjalanan Jelajah Gizi 2024 telusuri pangan lokal Banyuwangi
Jelajah Gizi 2024 berlangsung sejak 5 hingga 7 November 2024, menyuguhkan serangkaian perjalanan yang mengeksplorasi keunikan pangan lokal dengan membedah secara ilmiah kandungan nutrisi dari sajian kuliner tradisional dan mengulik cerita nutrisi di balik pangan lokal Banyuwangi seperti Nasi Tempong, Rujak Soto, Pecel Rawon, Ayam Kesrut, Pecel Pitik.

Program ini juga mengajak peserta untuk mengunjungi Pabrik AQUA Banyuwangi, di mana peserta mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung bagaimana pabrik beroperasi serta teknologinya memungkinkan pengawasan dan pengendalian proses produksi secara real-time, sehingga meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.
Jelajah Gizi 2024 juga mengajak peserta untuk mengunjungi program binaan Danone Indonesia yaitu budidaya padi sehat atau beras biofortifikasi yang dilengkapi dengan vitamin dan mineral termasuk zat besi, dan petaninya juga diberikan pemberdayaan maupun edukasi untuk menerapkan praktik pertanian sawah sehat.
Selanjutnya, peserta juga mengunjungi masyarakat binaan Danone Indonesia di Desa Benelan Kidul yang mengembangkan budidaya sayuran di area perumahan, di mana bahan tersebut diolah bersamaan dengan protein hewani untuk menjadi makanan tambahan melalui komunitas Isi Piringku di Kabupaten Banyuwangi untuk pencegahan stunting. (Reporter Suara.com/Dini Afrianti Efendi)