Pengobatan Kanker dengan Teknologi Nuklir, Benarkah Lebih Aman dari Kemoterapi?

Husna Rahmayunita | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Senin, 10 November 2025 | 10:05 WIB
Pengobatan Kanker dengan Teknologi Nuklir, Benarkah Lebih Aman dari Kemoterapi?
Ilustrasi pasien kanker menjalankan kemoterapi. [Dok.Antara]
  • Pengobatan untuk kanker semakian berkembang seiring berjalannya waktu, termasuk dengan memanfaatkan teknologi nuklir.
  • Terkini,  terdapat dua teknologi kedokteran nuklir termutakhir yang digunakan untuk pengobatan di Indonesia.
  • Apakah metode pengobatan tersebut lebih aman dari kemoterapi? Simak penjelasan dokter.

Suara.com - Pengobatan kanker kini sudah melibatkan kedokteran nuklir, dengan teknologi radiasi yang masih sangat asing bagi masyarakat Indonesia. Tapi benarkah radiasi kanker dengan radioaktif lebih aman dibanding kemoterapi?

Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi, dr. Esther Devina Panjaitan, SpKN menjelaskan sudah ada dua teknologi kedokteran nuklir termutakhir yang digunakan di Indonesia yaitu Positron Emission Tomography (PET) CT Scan dan Single-Photon Emission Computed Tomography (SPECT) CT.

Kedua alat ini merupakan pencitraan dengan teknologi canggih yang dapat meningkatkan akurasi diagnosis dan penanganan berbagai penyakit, khususnya dalam bidang onkologi alias kanker.

"Keunggulan kedokteran nuklir bisa buat diagnosis dini, seperti perubahan fungsi atau gangguan metabolismenya. Kemudian bisa buat deteksi kelainan yang belum terlihat pada CT scan, kenapa ini efisien? Karena pemeriksaan dilakukan langsung," ujar dr. Esther dalam acara Kerja Sama GE HealthCare dan RS Mitra Keluarga Bekasi Timur di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/11/2025).

dr. Esther menambahkan dua alat ini digunakan bukan hanya untuk deteksi kanker di tahap awal, tapi juga untuk terapi yang lebih menyasar sel kanker alias targeted therapy.

Inilah yang membedakan cara kerja kedokteran nuklir, memanfaatkan bahan radioaktif yang disebut tracer untuk nantinya mengalir ke jaringan dan organ tubuh. Tracer yang disuntikkan sebelum tubuh dipindai ini nantinya akan memancarkan sinar gamma yang dapat dideteksi.

Setelah terdeteksi, maka pengobatan kedokteran nuklir berupa terapi radiasi terbuka menggunakan radiofarmaka akan lebih terarah pada sel abnormal atau kanker. Sehingga sel sehat tidak akan terpengaruh seperti efek samping pada kemoterapi.

"Terapi menyerang langsung organ yang sakitnya, tanpa berikan efek samping pada organ lain. Kalau pada kemoterapi bukan hanya sel kankernya yang rusak tapi sel sehat juga. Jadi efeknya kemoterapi bisa mual, mual muntah," papar dr. Esther.

"Pada kedokteran nuklir ini pengobatan lebih targeted, maka tidak akan menyebabkan efek samping berlebihan," sambungnya.

Kedokteran nuklir dengan memanfaatkan radioaktif atau radiofarmaka juga tidak perlu mengkhawatirkan seberapa buruknya fungsi ginjal. Ini karena tidak seperti CT scan contrast yaitu pemeriksaan dengan zat kontras yang tidak bisa dilakukan jika fungsi ginjalnya buruk.

Padahal kebanyakan pasien kanker cenderung memiliki fungsi ginjal yang menurun sehingga bisa mengganggu proses pemeriksaan. Sedangkan metode kedokteran nuklir ini tidak akan memengaruhi organ yang sakit.

"Sedangkan pada pemeriksaan kedokteran nuklir, berapa pun fungsi ginjal Anda, berapa pun fungsi liver Anda, kondisi apa pun, dia bisa dikerjakan, kenapa? Karena obatnya dibuat sefisiologis mungkin dengan kondisi tubuh. Sehingga dia tidak akan mengganggu atau merusak organ-organ yang sudah sakit ataupun organ yang masih sehat," jelas dr. Esther.

Adapun prosedur deteksi dan terapi kanker pada kedokteran nuklir yang memanfaatkan radiofarmaka, yaitu pasien akan diminta berganti pakaian untuk memastikan tidak adanya kontaminasi radiasi. Apalagi pakaian juga akan digunakan saat pulang sehingga mencegah pasien tidak akan membawa radiasi ke luar ruang tindakan.

"Kemudian pasien akan kita suruh untuk menunggu di ruangan yang telah disediakan. Lalu dilakukan penyuntikan radiofarmaka, namanya penyuntikan pasti sakit ya, tuh kayak mengambil darah saja seperti itu," kata dr. Esther.

Selanjutnya pasien akan menunggu sekitar 60 menit untuk memastikan obat terdistribusi dari kepala hingga kaki. Barulah dilakukan pemeriksaan scan, di mana durasinya bergantung dari tinggi dan berat badan pasien.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BPOM Larang 2 Produk Pinkflash Mengandung Pewarna K10 dan Acid Orange, Ini Bahayanya untuk Kesehatan

BPOM Larang 2 Produk Pinkflash Mengandung Pewarna K10 dan Acid Orange, Ini Bahayanya untuk Kesehatan

Lifestyle | Kamis, 06 November 2025 | 17:32 WIB

Bukan Berhenti Berkarya, Ini Alasan Vidi Aldiano Vakum dari Dunia Musik

Bukan Berhenti Berkarya, Ini Alasan Vidi Aldiano Vakum dari Dunia Musik

Your Say | Minggu, 02 November 2025 | 14:32 WIB

Mitos atau Fakta: Biopsi Bisa Bikin Kanker Payudara Menyebar? Ini Kata Ahli

Mitos atau Fakta: Biopsi Bisa Bikin Kanker Payudara Menyebar? Ini Kata Ahli

Health | Minggu, 02 November 2025 | 08:25 WIB

Terkini

Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan

Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan

Health | Rabu, 25 Maret 2026 | 17:44 WIB

Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit

Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit

Health | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:11 WIB

Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak

Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak

Health | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:11 WIB

Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini

Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini

Health | Jum'at, 20 Maret 2026 | 13:04 WIB

Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi

Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi

Health | Kamis, 19 Maret 2026 | 13:49 WIB

Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!

Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!

Health | Rabu, 18 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?

Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?

Health | Selasa, 17 Maret 2026 | 15:31 WIB

Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung

Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 17:14 WIB

Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 16:49 WIB

Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi

Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 15:52 WIB