- Indonesia maju ke peringkat 97 dalam Global Gender Gap Report 2025, menunjukkan peningkatan keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan.
- Indikator kesehatan menunjukkan 63,2 persen persalinan di fasilitas kesehatan, namun 5,9 persen perempuan menikah di bawah usia 18 tahun.
- Forum Hari Perempuan Internasional menekankan aksi lintas sektor diperlukan untuk kesetaraan gender dan penguatan peran perempuan dalam kesehatan.
“Hari Perempuan Internasional adalah momentum untuk melihat perempuan sebagai pemimpin dan agen perubahan. Kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat,” kata Nila.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar upaya memperkuat kesehatan perempuan tidak berhenti pada komitmen semata, tetapi benar-benar terwujud dalam kebijakan dan aksi nyata yang berdampak langsung di masyarakat.
Dari sisi sistem kesehatan, pendekatan berbasis pencegahan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Perempuan memiliki peran strategis karena sering kali menjadi pengambil keputusan terkait kesehatan keluarga, mulai dari kesehatan ibu dan anak hingga kesehatan reproduksi.
Oleh karena itu, akses terhadap informasi kesehatan, layanan medis yang berkualitas, serta perlindungan terhadap hak-hak kesehatan reproduksi menjadi hal yang sangat penting.
Isu perlindungan perempuan dari kekerasan juga menjadi bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang sehat. Verania Andria dari United Nations Population Fund Indonesia menyoroti pentingnya sistem penanganan kekerasan terhadap perempuan yang lebih kuat dan terintegrasi.
“Perlindungan terhadap perempuan dan anak perempuan merupakan bagian integral dari upaya membangun masyarakat yang sehat dan setara. Melalui program Perempuan Indonesia Hidup Tanpa Kekerasan atau PIHAK, kami berupaya memperkuat sistem penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan melalui peningkatan kapasitas layanan lini depan, penguatan koordinasi antar lembaga, serta kampanye kesadaran publik,” jelasnya.
Sementara itu, sektor swasta juga berperan dalam memperluas upaya peningkatan kesehatan perempuan melalui berbagai kemitraan. Figen Samdanci dari Growth and Emerging Market Leadership Team Takeda Pharmaceuticals menegaskan bahwa peningkatan kesehatan masyarakat membutuhkan kolaborasi yang luas antara berbagai pihak.
“Peningkatan kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada pengembangan obat-obatan dan vaksin yang inovatif. Di Takeda, kami berkomitmen menjalankan kemitraan yang dapat memperluas akses terhadap layanan kesehatan perempuan, memperkuat perlindungan dari kekerasan berbasis gender, serta mendukung upaya pencegahan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Melalui berbagai kemitraan tersebut, Takeda juga mendukung program yang bertujuan memperkuat akses terhadap layanan kesehatan reproduksi serta meningkatkan upaya perlindungan perempuan dari kekerasan berbasis gender. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat bagi perempuan.
Baca Juga: Memperingati International Womens Day 2026, API Serukan Perlawanan atas Penghancuran Tubuh
Forum perempuan yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai sektor ini menunjukkan bahwa isu kesehatan perempuan tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja.
Pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas perlu bekerja bersama untuk memastikan perempuan memiliki akses yang adil terhadap layanan kesehatan, perlindungan, serta kesempatan berkontribusi dalam pembangunan.
Ketika perempuan diberdayakan untuk memimpin dan mengambil peran aktif dalam komunitasnya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perempuan itu sendiri.
Lebih dari itu, langkah tersebut turut memperkuat fondasi keluarga, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, serta menciptakan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.