- Masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan fertilitas dini untuk merencanakan kehamilan dan mendeteksi gangguan kesehatan reproduksi secara tepat.
- Dr. Steven Aristida menyatakan infertilitas dipengaruhi faktor pria dan wanita, termasuk masalah endometriosis serta kualitas sperma dan genetik.
- Pemeriksaan kesuburan sejak dini sangat krusial bagi pasangan agar mendapatkan penanganan medis yang tepat sebelum usia membatasi peluang.
Suara.com - Di balik meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan reproduksi, masih ada berbagai tantangan yang membuat sebagian pasangan harus berjuang lebih panjang untuk mendapatkan keturunan.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas dari Bocah Indonesia, dr. Steven Aristida, Sp.OG, Subsp.FER, FICS, melihat perubahan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Jika dahulu banyak pasangan datang berobat setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan hamil, kini semakin banyak yang memilih memeriksakan diri lebih awal untuk mengetahui kondisi kesuburan mereka.
"Kesadaran untuk diagnosis sebenarnya meningkat. Orang makin berani memeriksa diri, mengetahui ada atau tidaknya gangguan fertilitas. Namun sebagian pasangan masih menunda memulai program hamil karena mempertimbangkan kondisi ekonomi," ujarnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin memahami pentingnya kesehatan reproduksi. Pemeriksaan fertilitas tidak lagi dianggap sebagai langkah terakhir ketika semua upaya gagal, melainkan bagian dari perencanaan keluarga yang lebih matang.
Meski demikian, masalah infertilitas masih menjadi tantangan yang cukup besar. Menurut dr. Steven, gangguan kesuburan dapat berasal dari berbagai faktor, baik pada perempuan maupun laki-laki.
Pada perempuan, kondisi yang sering ditemukan antara lain polycystic ovarian morphology syndrome (PCOM/PMOS), endometriosis, hingga keguguran berulang atau recurrent pregnancy loss. Sementara itu, faktor kesuburan pria ternyata menyumbang porsi yang tidak sedikit.
"Male factor menempati sekitar 30 persen dari keseluruhan kasus infertilitas. Jadi bukan hanya persoalan perempuan," katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus mematahkan anggapan lama yang selama bertahun-tahun melekat di masyarakat bahwa kesulitan memiliki anak selalu berasal dari pihak perempuan. Kini semakin banyak laki-laki yang bersedia menjalani pemeriksaan fertilitas sebagai bagian dari evaluasi pasangan.
Perkembangan ilmu reproduksi juga membuat pemeriksaan kesuburan pria menjadi lebih komprehensif. Tidak hanya menghitung jumlah sperma, dokter kini mengevaluasi empat parameter utama, yakni konsentrasi sperma, motilitas atau kemampuan bergerak, morfologi atau bentuk sperma, serta DNA Fragmentation Index (DFI) yang menggambarkan kualitas materi genetik sperma.
Menurut dr. Steven, DFI menjadi salah satu parameter penting yang sering luput dari perhatian masyarakat.
"DFI yang tinggi dapat memengaruhi kesuburan dan meningkatkan risiko keguguran, bahkan ketika kehamilan sudah berhasil terjadi," jelasnya.
Selain masalah kesuburan, dokter juga menyoroti tingginya kasus keguguran berulang yang tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga mental. Secara medis, kondisi ini ditetapkan ketika seorang perempuan mengalami dua kali keguguran atau lebih, tanpa memandang jarak waktu kejadiannya.
"Kondisi ini tidak hanya soal kegagalan kehamilan, tetapi juga dapat menurunkan mental pasangan karena mengalami kehilangan berulang," ujar dr. Steven.
Karena itu, penanganan kasus keguguran berulang tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemeriksaan harus mencakup berbagai aspek, mulai dari kondisi rahim dan endometrium, kualitas sel telur, faktor pembekuan darah, gangguan autoimun, hingga faktor pria termasuk pemeriksaan DFI.