- Indonesia menghadapi ancaman serius penyakit tropis DBD, tifoid, dan TBC dengan jutaan kasus serta angka kematian tinggi.
- Data Allianz menunjukkan lonjakan klaim kesehatan dan kenaikan biaya perawatan rumah sakit secara signifikan sejak tahun 2020.
- Kurangnya kesadaran masyarakat serta faktor lingkungan menyebabkan keterlambatan penanganan medis yang memicu beban finansial bagi pasien.
Suara.com - Selama ini penyakit tropis seperti demam berdarah dengue (DBD), demam tifoid, dan tuberkulosis (TBC) kerap dianggap sebagai penyakit yang "biasa" terjadi di Indonesia. Padahal, ketiganya masih menjadi ancaman kesehatan serius yang setiap tahun memakan korban sekaligus menimbulkan beban biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Data terbaru menunjukkan, penyakit-penyakit tersebut masih menjadi salah satu penyebab utama masyarakat harus menjalani rawat inap maupun rawat jalan. Bahkan, biaya perawatannya terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI dan World Health Organization (WHO), Indonesia masih menghadapi tingginya kasus penyakit tropis.
Pada 2024, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi kedua di dunia, dengan sekitar 1,06 juta kasus setiap tahunnya.
Sementara itu, kasus demam berdarah dengue (DBD) mencapai 210.644 kasus dengan 1.239 kematian. Di sisi lain, demam tifoid juga masih menyebabkan puluhan ribu kasus setiap tahun.
Data tersebut menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan Indonesia.
Ribuan Klaim Penyakit Tropis
Tingginya angka kejadian penyakit tropis juga tercermin dari data klaim kesehatan Allianz Indonesia.
Hingga pertengahan Juni 2026, Allianz Indonesia mencatat:
- 1.686 klaim DBD dengan nilai lebih dari Rp21,5 miliar
- 1.534 klaim demam tifoid senilai lebih dari Rp14,5 miliar
- 815 klaim TBC dengan nilai lebih dari Rp5,4 miliar
Angka tersebut memperlihatkan bahwa ketiga penyakit ini masih menjadi alasan utama masyarakat membutuhkan layanan kesehatan.
Tidak hanya jumlah kasus yang tinggi, biaya pengobatan pun terus meningkat.
Berdasarkan data Allianz Indonesia sepanjang periode 2020–2025, rata-rata biaya rawat inap pasien:
- Demam tifoid meningkat sekitar 66 persen
- DBD meningkat hingga 88 persen
"Data klaim yang kami miliki menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat adanya peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini, tidak hanya untuk menjaga kesehatan tetapi juga untuk membantu mengurangi risiko beban finansial," ujar dr. Tubagus Argie F.S. Sunartadirdja, Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia.
Mengapa Penyakit Tropis Masih Banyak Terjadi?
Dalam diskusi Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertema Waspada Tropical Diseases, dokter dan edukator kesehatan dr. Dion Haryadi menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah masih banyak masyarakat yang menganggap penyakit tropis sebagai penyakit biasa.