Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Vania Rossa

Selasa, 07 Juli 2026 | 15:03 WIB
Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak
Ilustrasi lingkungan belajar inklusif. (dok. ist)
baca 10 detik
  • Irma Ivana Christiani menekankan bahwa pendidikan inklusif harus mencakup penyiapan lingkungan belajar, tenaga pendidik, dan pendampingan anak secara menyeluruh.
  • Tingginya prevalensi anak dengan autisme dan ADHD di Indonesia menuntut sekolah menyediakan lingkungan belajar yang ramah bagi setiap individu.
  • Sekolah inklusif yang ideal wajib melibatkan tenaga profesional, memantau perkembangan individual anak, serta menjalin kolaborasi aktif dengan orang tua murid.

Suara.com - Sebelum tahun ajaran baru dimulai, banyak orang tua disibukkan dengan memilih sekolah atau tempat pengayaan yang dinilai paling sesuai bagi anak. Namun di tengah semakin banyaknya lembaga yang mengusung label "inklusif", orang tua perlu lebih cermat karena tidak semua benar-benar menerapkan prinsip pendidikan inklusif dalam praktiknya.

Psikolog Atelier of Minds, Irma Ivana Christiani, S.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar menerima anak dengan latar belakang atau kebutuhan belajar yang beragam. Lebih dari itu, inklusivitas harus tercermin dalam cara sekolah merancang lingkungan belajar, menyiapkan tenaga pendidik, hingga mendampingi setiap anak sesuai kebutuhannya.

"Inklusi bukan sekadar kebijakan penerimaan. Inklusi adalah cara sebuah tempat merancang lingkungan, memilih pendekatan, dan melatih timnya setiap hari untuk setiap anak. Orang tua berhak tahu perbedaannya," ujar Irma dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026).

Kesadaran akan pentingnya pendidikan inklusif memang semakin meningkat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 2,4 juta anak di Indonesia hidup dengan autisme, sementara prevalensi ADHD diperkirakan mencapai 3–5 persen dari populasi anak usia sekolah. Kondisi ini membuat sekolah dituntut mampu menyediakan lingkungan belajar yang ramah bagi setiap anak, tanpa terkecuali.

Lalu, bagaimana mengenali lingkungan belajar yang benar-benar inklusif? Berikut lima hal yang perlu diperhatikan orang tua.

1. Program disusun oleh tenaga profesional

Orang tua sebaiknya mencari tahu apakah program pembelajaran dirancang bersama psikolog, terapis okupasi, atau ahli tumbuh kembang anak. Keterlibatan mereka penting agar metode belajar mampu mengakomodasi beragam kebutuhan peserta didik.

"Pemahaman tentang bagaimana anak belajar, memproses informasi, dan meregulasi diri justru membuat lingkungan belajar lebih kaya untuk semua anak," jelas Irma.

2. Inklusivitas tidak berhenti pada slogan

baca juga

Sekolah yang benar-benar inklusif tidak memisahkan anak berdasarkan kemampuan belajarnya. Sebaliknya, mereka memberikan dukungan yang berbeda sesuai kebutuhan setiap anak agar dapat belajar bersama dalam lingkungan yang sama.

3. Mengenali setiap anak sebagai individu

Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, sekolah idealnya melakukan asesmen awal, memantau perkembangan secara berkala, serta memberikan laporan perkembangan yang komprehensif kepada orang tua.

"Tanpa pemahaman individual yang mendalam, program terbaik sekalipun hanya akan efektif bagi anak-anak yang sudah mudah beradaptasi," kata Irma.

4. Cara sekolah memandang anak menjadi cerminan budaya inklusif

Orang tua juga perlu memperhatikan bagaimana guru atau tenaga pendidik berbicara tentang anak yang dianggap "sulit". Lingkungan belajar yang inklusif melihat perilaku anak sebagai bentuk komunikasi yang perlu dipahami, bukan sekadar masalah yang harus dihukum atau dikendalikan.

5. Orang tua menjadi bagian dari proses belajar

Pendidikan tidak berhenti di sekolah. Karena itu, komunikasi yang baik antara sekolah dan keluarga menjadi salah satu indikator penting lingkungan belajar yang sehat. Sekolah yang inklusif akan melibatkan orang tua dalam memantau perkembangan anak dan memberikan strategi yang dapat diterapkan di rumah.

"Apapun yang dibangun di lingkungan belajar hanya akan berlipat ganda dampaknya jika ada kesinambungan di rumah. Orang tua adalah mitra kami yang paling penting karena merekalah yang paling mengenal anak mereka," tutup Irma.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mendikdasmen Kritik Perpustakaan Sekolah yang Hanya Jadi Syarat Akreditasi

Mendikdasmen Kritik Perpustakaan Sekolah yang Hanya Jadi Syarat Akreditasi

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 14:56 WIB

Gagal Masuk SD Negeri? Ini Alasan Mengapa SDIT Bisa Jadi Pilihan Terbaik untuk Si Kecil

Gagal Masuk SD Negeri? Ini Alasan Mengapa SDIT Bisa Jadi Pilihan Terbaik untuk Si Kecil

Your Say | Selasa, 07 Juli 2026 | 13:37 WIB

Investasi Kebaikan yang Tidak Bisa Dihitung dengan Gaji: Catatan Seorang Guru PAUD

Investasi Kebaikan yang Tidak Bisa Dihitung dengan Gaji: Catatan Seorang Guru PAUD

Your Say | Selasa, 07 Juli 2026 | 12:04 WIB

Terkini

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Health | Senin, 06 Juli 2026 | 16:40 WIB

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Health | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:00 WIB

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:10 WIB

×