Hukum Hamil di Luar Nikah dalam Islam: Haramkah untuk Menikahinya?

Bella Suara.Com
Rabu, 23 Juli 2025 | 15:54 WIB
Hukum Hamil di Luar Nikah dalam Islam: Haramkah untuk Menikahinya?
Ilustrasi ibu hamil (freepik)

Suara.com - Kehamilan di luar nikah merupakan isu yang sangat sensitif dalam perspektif ajaran Islam.

Dianggap sebagai akibat dari perbuatan zina, sebuah dosa besar, persoalan ini memunculkan berbagai pertanyaan hukum (fiqh) yang kompleks, terutama terkait status pernikahan, nasab (garis keturunan), dan hak-hak anak yang dilahirkan.

Islam memandang perbuatan zina sebagai tindakan keji dan jalan yang buruk.

Namun, di sisi lain, Islam juga merupakan agama yang memberikan jalan keluar dan solusi, dengan penekanan utama pada taubat dan perlindungan terhadap kehidupan baru yang tidak berdosa.

Ilustrasi ibu hamil. [Negative Space/arteida mjeshtri]
Ilustrasi ibu hamil. [Negative Space/arteida mjeshtri]

Hukum Menikahi Wanita yang Hamil karena Zina

Salah satu pertanyaan paling umum adalah mengenai keabsahan menikahi wanita yang sedang hamil akibat perzinaan.

Dalam hal ini, para ulama dari berbagai mahzab memiliki perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berpendapat bahwa menikahi wanita yang hamil karena zina adalah sah, baik oleh pria yang menghamilinya maupun oleh pria lain.

Alasannya, wanita hamil akibat zina tidak termasuk dalam kategori wanita yang haram untuk dinikahi.

Namun, ada juga pandangan yang lebih ketat.

Baca Juga: Usai DJ Panda Diblacklist, Seruan Erika Carlina Agar Diboikot Menggema di Medsos

Kelompok ulama lain berpendapat bahwa tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berzina, baik oleh pelaku maupun pria lain, kecuali setelah ia bertaubat dan masa iddah (tunggu)-nya selesai, yang ditandai dengan melahirkan.

Di Indonesia, Kompilasi Hukum Islam yang banyak menjadi rujukan di Pengadilan Agama, cenderung mengambil jalan tengah.

Aturan ini memperbolehkan perkawinan antara seorang wanita hamil dengan pria yang menghamilinya, dan perkawinan tersebut dapat dilangsungkan tanpa harus menunggu kelahiran si anak.

Status dan Hak Anak yang Dilahirkan

Fokus utama dalam hukum Islam terkait kasus ini adalah perlindungan terhadap si anak.

Para ulama sepakat bahwa anak yang lahir adalah suci dan tidak menanggung dosa perbuatan orang tuanya.
Namun, status nasabnya menjadi titik krusial.

Hubungan Nasab: Mayoritas ulama menegaskan bahwa anak yang lahir di luar pernikahan yang sah tidak memiliki hubungan nasab dengan ayah biologisnya. Nasabnya hanya terhubung kepada ibunya dan keluarga dari pihak ibu. Konsekuensi dari putusnya hubungan nasab ini sangat signifikan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI