- PT PPLI menyoroti peningkatan pemakaian air rumah tangga saat Ramadhan dan mendorong edukasi penghematan air.
- Penggunaan detergen busa berlebihan serta pemakaian air wudhu boros (2,9-5 liter) mengganggu lingkungan dan biota air.
- PPLI telah mendaur ulang 99 ribu meter kubik limbah air sejak 2021 untuk digunakan kembali dalam operasional industri.
Direktur LAZNAS Al-Azhar Iwan Rahman menilai kebiasaan boros air di Indonesia juga dipengaruhi faktor kultur dan ketersediaan sumber daya air yang relatif melimpah.
“Sebagai negara yang air tanahnya melimpah, kita tidak pernah merasakan panasnya gurun. Sehingga mengkonsumsi air dalam jumlah besar seolah hal biasa,” sesal Iwan.
Ia menambahkan desain kran di banyak masjid juga turut memengaruhi tingginya penggunaan air.
“Desain kran di masjid-masjid kita juga mayoritas mengeluarkan debit air yang terlalu besar," sambungnya.
Karena itu, Iwan mendorong penerapan konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) berbasis rumah ibadah maupun klaster pemukiman untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.
Ia mencontohkan program pemberdayaan di Muara Enim, Sumatera Selatan, yang memanfaatkan aliran air untuk pembangkit listrik sekaligus kebutuhan pertanian.
“Di sana kita menerapkan 3R. Ketika turbin berfungsi, arus listrik yang dihasilkan itu untuk menerangi masjid dan 200 rumah. Setelah itu airnya tidak dibuang, tapi dimanfaatkan untuk perkebunan, sawah dan sebagainya,” pungkas dia.