Suara.com - Krisis iklim yang semakin meluas tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan mental, khususnya di kalangan generasi muda.
Istilah anxiety kini kerap dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan terhadap masa depan bumi, yang banyak dialami oleh Generasi Z.
Gen Z dan Kecemasan Terhadap Iklim
Dalam riset bertajuk “Eco-Anxiety pada Gen Z dan implikasinya pada Kesehatan Mental”, eco-anxiety dijelaskan sebagai respons emosional kronis yang dipicu oleh perubahan iklim.
Kondisi ini muncul seiring meningkatnya paparan informasi terkait krisis lingkungan, terutama melalui media digital yang lekat dengan kehidupan Gen Z.
Fenomena ini juga diperkuat oleh survei global yang melibatkan 10.000 anak muda berusia 16 hingga 25 tahun di 10 negara.
![Sejumlah peserta membawa poster saat aksi krisis iklim di depan Kantor KPU, Jakarta, Jumat (3/11/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/original/2023/11/03/54199-demo-krisis-iklim-di-depan-kpu.jpg)
Hasilnya menunjukkan hampir 60 persen responden mengaku sangat khawatir terhadap kondisi lingkungan. Temuan tersebut menandakan bahwa kecemasan terhadap krisis iklim telah menjadi isu yang signifikan di kalangan generasi muda.
Meski demikian, sejumlah kajian menyebut bahwa eco-anxiety tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, kecemasan ini justru dapat mendorong kesadaran dan keterlibatan individu dalam aksi-aksi lingkungan.
Dengan demikian, eco-anxiety tidak hanya menjadi cerminan kekhawatiran generasi muda, tetapi juga dapat menjadi titik awal bagi perubahan perilaku menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Ada beberapa faktor yang memicu munculnya eco anxiety. Salah satunya adalah paparan informasi yang berlebihan. Saat ini, banyak anak muda menghabiskan waktu di sosial media. Berdasarkan survei Jakpat, sekitar 63 persen responden menyatakan bahwa mereka menggunakan waktu luang untuk scrolling sosial media.
Paparan informasi yang terus-menerus tentang kerusakan lingkungan, bencana alam, dan krisis iklim dapat memperkuat rasa cemas tersebut.
Selain itu, rasa bersalah juga menjadi faktor penting. Banyak gen Z merasa bahwa aktivitas manusia, termasuk diri mereka sendiri turut berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Perasaan ini kemudian berkembang menjadi beban emosional karena mereka merasa ikut bertanggung jawab atas kondisi bumi saat ini.
Di sisi lain, pengalaman langsung terhadap bencana alam juga memicu munculnya eco anxiety. Individu yang pernah mengalami peristiwa-peristiwa, seperti banjir, tanah longsor, atau kebakaran hutan dapat mengalami trauma yang memperkuat kecemasan terhadap perubahan iklim dan masa depan lingkungan.
Mengubah Rasa Takut Menjadi Kekuatan
Menariknya, eco anxiety tidak selalu berdampak negatif. Banyak gen z yang akhirnya mengubah kecemasan tersebut menjadi dorongan untuk bertindak lebih peduli terhadap lingkungan. Berdasarkan data Alfred 24, ada sebanyak 82 persen gen Z menyatakan keprihatinan terhadap kondisi bumi dan 72 persen di antaranya telah mengubah perilaku mereka menjadi lebih ramah lingkungan.