- The Antheia Project menyelenggarakan Antheia Merdeka Festival bagi anak-anak di Kepulauan Seribu pada 22-23 Agustus 2026.
- Festival di RPTRA Pulau Kelapa dan Pulau Tidung tersebut memadukan olahraga, kreativitas, kesehatan, serta edukasi lingkungan.
- Kegiatan ini bertujuan mendorong gaya hidup aktif, mengolah limbah tekstil, dan menumbuhkan kepedulian lingkungan bagi generasi muda.
Suara.com - Di antara laut biru, angin pesisir, dan kehidupan masyarakat yang berjalan lebih dekat dengan alam, perayaan kemerdekaan di Kepulauan Seribu meninggalkan cerita yang berbeda.
Bukan hanya tentang lomba dan kemeriahan, tetapi tentang bagaimana anak-anak mendapatkan ruang untuk bermain, bergerak, berkreasi, sekaligus mengenal lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Suasana itulah yang terasa dalam Antheia Merdeka Festival 2026 yang digelar The Antheia Project di RPTRA Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, dan RPTRA Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan, pada 22-23 Agustus 2026.
Di tengah kawasan kepulauan yang lekat dengan kehidupan laut dan ekosistemnya, pesan mengenai menjaga bumi terasa memiliki makna tersendiri.
Anak-anak tidak sekadar diajak mendengar tentang lingkungan, tetapi mendapatkan pengalaman langsung melalui permainan, olahraga dan aktivitas kreatif.
Bersama anak-anak yatim dan yatim piatu, festival tersebut memadukan olahraga, kreativitas, edukasi lingkungan, kesehatan dan kepedulian sosial. Sejak pembukaan, suasana kebersamaan dibangun melalui upacara, menyanyikan Indonesia Raya, senam bersama hingga tarik tambang.
Setelah itu, anak-anak bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Di Creative Zone, mereka mengolah limbah tekstil menjadi karya seni melalui Waste to Value: Textile Waste to Beautiful Frame Art.
Sebuah cara sederhana untuk memperkenalkan gagasan bahwa barang yang dianggap sudah tidak berguna masih dapat memiliki kehidupan kedua.
Di Discover Zone, keanekaragaman hayati dikenalkan melalui Animals Sensory Hunt dan Match the Puzzle. Sementara futsal dan voli di Move Zone menjadi ruang untuk belajar bekerja sama, membangun kepercayaan diri dan memahami arti sportivitas.
Bagi Ruhani Nitiyudo, Co-Founder & CEO The Antheia Project, ruang seperti ini penting untuk membantu generasi muda tumbuh dengan pengalaman yang positif.
“Dalam perayaan kemerdekaan, kami ingin menciptakan ruang yang sehat, kreatif, dan penuh kesempatan bagi generasi muda. Melalui Antheia Merdeka Festival, kami menghadirkan pengalaman yang positif untuk mendorong gaya hidup aktif dan sehat, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, serta menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat,” ujar Ruhani.
Pesan menjaga lingkungan pun tidak berhenti sebagai tema. The Antheia Project turut berkolaborasi dengan pemangku kepentingan pengelolaan sampah agar kebersihan selama kegiatan tetap menjadi perhatian.
Dukungan dari PT Nusa Halmahera Minerals (NHM), Pocari Sweat dan Kreasi Wisata Mania (KWM) sebagai Official Hydration Partner, serta Palang Merah Indonesia (PMI) turut melengkapi kegiatan dari sisi dukungan masyarakat, hidrasi, kesehatan dan keselamatan.
Namun, setelah festival usai, yang tersisa bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Ada pengalaman yang mungkin lebih lama melekat pada anak-anak: bahwa hidup aktif dapat dilakukan dengan gembira, kreativitas bisa lahir dari sesuatu yang sederhana, dan menjaga lingkungan bukan pekerjaan yang jauh dari keseharian.
Di Kepulauan Seribu, pesan itu terasa semakin dekat. Sebab ketika kehidupan sehari-hari bersentuhan langsung dengan laut dan alam, menjaga bumi pada akhirnya juga berarti menjaga ruang tempat generasi muda tumbuh.
Dari Pulau Kelapa hingga Pulau Tidung, semangat kemerdekaan pun dirayakan dengan cara yang lebih bermakna: memberi kesempatan kepada anak-anak untuk bergerak, berkarya, belajar dan tumbuh bersama.