- Ning Jazil protes nama Gus Kautsar dicatut di buku Islam ala Prabowo.
- Penulis diduga memakai obrolan santai saat bertamu menjadi bahan tulisan buku.
- Gus Kautsar tidak pernah memberikan naskah resmi atau dukungan politik tertulis.
Suara.com - Publik tengah digegerkan dengan kemunculan buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Mengamalkan Ajaran Islam.
Bukannya menuai apresiasi, buku "Islam ala Prabowo" ini justru memicu polemik panas setelah sejumlah tokoh merasa nama mereka dicatut tanpa izin, termasuk ulama muda kondang Muhammad Abdurrahman Kautsar atau yang akrab disapa Gus Kautsar.
Penulis buku "Islam ala Prabowo" datangi rumah Gus Kautsar untuk berbincang santai dan tidak ada obrolan akan membuat buku.
Reaksi keras datang langsung dari istri Gus Kautsar, Ning Jazil. Melalui kolom komentar di akun Instagram @kabarmahasiswa.id, Ning Jazil meluapkan kekecewaannya lantaran nama suaminya tiba-tiba muncul dalam daftar isi buku yang kental dengan muatan politik tersebut.
Ning Jazil mengaku terkejut saat melihat daftar isi buku tersebut yang mengklaim adanya tulisan dari Gus Kautsar.
Ia menegaskan bahwa suaminya tidak pernah menulis artikel atau memberikan naskah khusus untuk buku tersebut.
"Kok bisa ada nama suami saya? Padahal Gus Kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu?" tulis Ning Jazil dengan nada protes.
Dalam buku tersebut, nama Gus Kautsar tercatat pada Bagian III dengan judul tulisan Dukungan pesantren untuk Prabowo.
Padahal, menurut Ning Jazil, tidak pernah ada komitmen untuk menulis hal tersebut.
Bongkar Modus Penulis: Datang Bertamu Bawa Anak Istri
Ning Jazil kemudian membeberkan kronologi bagaimana obrolan suaminya bisa berakhir di dalam buku.
Ia mengenang ada seseorang yang datang bertamu ke kediamannya dengan cara yang sangat kekeluargaan.
"Saya ingat orang itu datang ke rumah bersama anak dan istrinya, kami sambut layaknya tamu yang lain. Kami benar-benar tidak tahu kalau obrolan itu akhirnya akan dimasukkan dalam buku," ungkapnya.
Ia menyayangkan sikap penulis yang dianggap tidak transparan. Menurutnya, jika obrolan tersebut diniatkan untuk materi buku, seharusnya penulis meminta izin secara resmi sejak awal, apalagi menyangkut nama besar seorang tokoh agama.
"Maaf, penulis harusnya terus terang saat wawancara kalau akan dibuat buku dengan judul tersebut. Kalau hanya wawancara banyak juga wartawan yang wawancara dengan Gus Kautsar," tambahnya.
Hanya Doa dan Harapan, Bukan Dukungan Politik Tertulis
Lebih lanjut, Ning Jazil menjelaskan bahwa pertemuan yang terjadi sekitar awal tahun 2024 itu hanya berisi obrolan santai mengenai harapan-harapan untuk pemimpin bangsa ke depan.
Menurutnya, Gus Kautsar hanya memberikan doa dan harapan sewajarnya bagi siapa pun pemimpin Indonesia.
"Saat itu, jawaban Gus hanya harapan-harapan terbaik untuk pemimpin, tidak paham kalau mau dimasukkan buku tersebut. Gus Kautsar hanya menyampaikan harapan dan doa sewajarnya, tidak ada niat untuk menjadi bagian bahan dari buku tersebut," tegasnya lagi.
Sebut Nasib yang Sama dengan TGB
Tak hanya suaminya, Ning Jazil juga menyebut bahwa tokoh lain seperti Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi juga mengalami hal yang sama, namanya tertera di buku namun merasa tidak pernah menulisnya.
"Sama dengan Tuan Guru Bajang, sama-sama tidak merasa menulis atau niat menjadi bagian buku tersebut," pungkas Ning Jazil.
Ning Jazil mengingatkan kepada siapa pun agar memiliki etika dalam berkarya, terutama jika menyangkut tokoh publik.
"Kalau mencatut nama dalam buku apalagi berbau politik, minimal pamit dulu," tutupnya.