- Tradisi primbon Jawa menggunakan perhitungan neptu weton untuk menentukan karakter seseorang dalam usaha kuliner dan perdagangan.
- Beberapa weton seperti Kamis Legi, Rabu Legi, dan Senin Legi dipercaya memiliki karakter pekerja keras untuk berdagang.
- Pemahaman weton dalam tradisi Jawa merupakan bagian dari warisan budaya, bukan metode ilmiah penentu kesuksesan bisnis.
4. Senin Pahing
Selain Senin Legi, Senin Pahing juga kerap masuk dalam pembahasan weton yang memiliki potensi berwirausaha.
Dalam referensi primbon, Senin Pahing sering dikaitkan dengan sifat pekerja keras dan tidak mudah mengikuti tekanan dari orang lain.
Dalam konteks usaha kuliner, karakter tersebut dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk mempertahankan usaha meskipun menghadapi persaingan.
Misalnya ketika membuka warung makan, bisnis katering, usaha frozen food, jajanan pasar, atau usaha kuliner rumahan.
5. Rabu Pahing
Rabu Pahing juga disebut dalam sejumlah referensi primbon sebagai salah satu weton yang memiliki potensi wirausaha.
Weton ini memiliki neptu 16, yakni Rabu 7 dan Pahing 9. Dalam perspektif primbon populer, Rabu Pahing sering dikaitkan dengan kemampuan berpikir dan intuisi dalam mengambil keputusan bisnis.
Jika diterapkan pada dunia usaha, karakter tersebut dapat dikaitkan dengan bisnis yang membutuhkan keberanian mengambil keputusan sekaligus kemampuan membaca peluang.
Karena itu, Rabu Pahing kerap dianggap cocok untuk perdagangan, kuliner, maupun usaha yang membutuhkan inovasi produk.
6. Rabu Pon
Rabu Pon juga termasuk weton yang disebut memiliki karakter yang mendukung dunia kewirausahaan dalam sejumlah referensi primbon.
Rabu memiliki nilai 7 dan Pon bernilai 7 sehingga neptunya berjumlah 14. Kombinasi ini kerap dikaitkan dengan kemampuan mengambil keputusan dan potensi untuk mengembangkan usaha secara mandiri.
Untuk usaha kuliner, karakter tersebut dapat diarahkan pada bisnis seperti restoran, kedai, katering, coffee shop, makanan kekinian, atau bisnis makanan berbasis online.
Mengapa Weton Sering Dikaitkan dengan Usaha Dagang?
Hubungan antara weton dan aktivitas usaha sebenarnya merupakan bagian dari petungan dalam tradisi Jawa.
Javanologi UNS menjelaskan bahwa primbon memiliki berbagai jenis ajaran, salah satunya petungan, yaitu perhitungan berdasarkan nilai numerik atau neptu. Dalam tradisi tersebut, gabungan hari dan pasaran menjadi weton yang kemudian digunakan untuk berbagai perhitungan.
Penelitian di UIN Sunan Kalijaga mengenai Petungan Weton dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna juga mencatat bahwa petung weton merupakan tradisi yang masih digunakan dalam masyarakat Jawa.
Dengan kata lain, ketika masyarakat menyebut weton tertentu "cocok untuk berdagang", hal tersebut perlu dipahami sebagai interpretasi budaya terhadap karakter dan neptu, bukan sebagai metode ilmiah untuk memprediksi kesuksesan bisnis.
Justru, tradisi petungan memiliki banyak metode dan versi sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa hanya weton tertentu yang bisa sukses berdagang. Penelitian mengenai tradisi weton menunjukkan bahwa perhitungan tersebut merupakan bagian dari praktik budaya masyarakat Jawa yang diwariskan dan terus digunakan dalam konteks kehidupan sosial.
Bahkan dalam perhitungan membuka usaha, weton kelahiran biasanya masih dipertemukan dengan hari dan pasaran ketika usaha akan dimulai, bukan sekadar melihat weton lahir seseorang.
Sebagai contoh, metode Pancasuda menggunakan penjumlahan neptu weton kelahiran dengan neptu hari yang dipilih untuk memulai usaha, kemudian hasilnya dibagi lima untuk melihat kategori hasil perhitungan.
Dengan demikian, weton dapat diposisikan sebagai bagian dari warisan budaya dan refleksi tradisi Jawa, bukan satu-satunya dasar ketika seseorang menentukan pilihan usaha. Javanologi UNS sendiri menempatkan primbon sebagai bagian dari tradisi dan pengetahuan budaya Jawa yang memiliki konteks historis serta sosial.