Niat Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto, untuk menjadi penguasa seumur hidup berakhir tragis pada tahun 1998. Masyarakat bersatu-padu menggulingkan Soeharto dari kursi RI 1 dan otomatis menghentikan era pemerintahan orde baru.
Banyak momen serba cepat sekaligus sangat emosional terjadi di masa-masa transisi tersebut. Hal inilah yang diceritakan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra di kanal YouTube Total Politik.
Yusril menceritakan pengalaman yang disaksikannya selama menjadi penulis naskah pidato untuk Soeharto dan BJ Habibie.
"Jadi Pak Harto itu memang sudah ada pikiran begitu (mengundurkan diri)," kata Yusril, dikutip pada Jumat (20/1/2023).
Bahkan saat itu Soeharto sempat menggunakan istilah "lengser keprabon", alias sudah siap bila harus meletakkan jabatannya sebagai RI 1.
"(Soeharto bilang) 'Saya kan sudah lama. Saya ini mau lengser keprabon'. Cuma dia tidak terlalu yakin dengan Pak Habibie bisa meneruskan ini," tutur Yusril.
Alhasil malam sebelum bulat memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya, Soeharto memanggil BJ Habibie yang notabene wakil presidennya.
Ditegaskan pula oleh Yusril, Soeharto bukannya mengajak Habibie untuk turut meletakkan jabatannya, tetapi hanya merasa belum yakin dengan calon penerusnya.
"Enggak (Soeharto tidak berharap Habibie ikut mundur). Kan memang harus digantikan oleh wakil presiden, kalau tidak kan vakum kekuasaan," beber Yusril.
Padahal saat itu Indonesia tidak boleh sedetik pun vakum kekuasaan lantaran besarnya tensi krisis yang terjadi. Bahkan Yusril sempat menyebut armada pasukan Amerika Serikat sudah berjaga di wilayah terdekat dan bisa sewaktu-waktu menyerang, sehingga keberadaan presiden sangat diperlukan.
Namun saat itu Yusril tidak tahu apa yang dibicarakan Soeharto dan Habibie saat bertemu empat mata. Baru belakangan, ketika Habibie sudah menjabat sebagai RI 1, terungkap apa yang terjadi.
Bukan diskusi yang tenang, rupanya Soeharto dan Habibie sempat terlibat perdebatan panas.
"Barangkali, ya hanya masalah temperamen saja. Pak Habibie kan kalau bicara temperamen tinggi. Jadi (waktu itu) Pak Harto nanya, 'Bagaimana? Keadaan seperti ini. Kalau saya mundur, apa Saudara Habibie sanggup mengambil alih tanggung jawab?'" ujar Yusril.
"(Habibie) Langsung berdiri, 'Pak, saya wakil presiden, setiap saat saya harus siap menjadi presiden'," ungkap Yusril melanjutkan.
Tak disangka, sikap tegas sang Presiden ke-3 Indonesia ini sempat membuat Soeharto sedikit tidak enak hati. Yusril menduga hal ini berkaitan dengan perangai masing-masing, di mana Habibie yang berasal dari Sulawesi Selatan sementara Soeharto yang orang Jawa tulen.