Suara.com - Ketika Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI—lembaga tinggi negara bagi senator—asyik gontok-gontokan memperebutkan jabatan di gedung parlemen, sebuah kisah haru bocah-bocah di kawasan perbatasan RI-Malaysia viral di media sosial dan mengundang simpati.
Foto dan video yang viral itu menunjukkan betapa lusuhnya seragam merah-putih yang dipakai bocah-bocah SD di Desa Sungkung II, Kecamatan Siding, Bengkayang, Kalimantan Barat. Bahkan, tampak pula seragam seorang bocah yang sudah koyak.
Adalah Akun Facebook Bayu Gawtama, yang mengunggah foto anak-anak tersebut. Bayu dikenal sebagai inisiator sekaligus aktivis “Sekolah Relawan”, organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang kemanusiaan.
Bayu, selain mengunggah foto, juga memberikan catatan kesaksiannya atas kehidupan serta pendidikan bocah-bocah di wilayah perbatasan yang jauh dari kemewahan anak-anak sekolah dalam sinetron.
“Akhirnya kami mengerti kenapa anak-anak di Desa Sungkung II, Kecamatan Siding, Bengkayang, Kalimantan Barat ini sumbang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Mereka bahkan punya dua mata uang, rupiah dan ringgit,” tulis Bayu dalam bagian permulaan catatan.
Karenanya, kata dia, jangan heran kalau anak sekolah membeli makanan di kantin menggunakan Ringgit Malaysia. Mereka yang tidak sekolah bahkan lebih kenal Ringgit dari pada Rupiah.
Tak heran pula, sambung Bayu, banyak anak putus sekolah karena mereka merasa tidak punya masa depan. Lulusan SD ataupun SMA tetap memunyai “takdir” yang sama: menjadi petani di ladang.
“Mereka lebih memilih kerja di ladang milik toke-toke Malaysia karena bayarannya lebih besar. Tetapi, kami menyaksikan anak-anak Sungkung masih punya semangat belajar tinggi. Meski lusuh dan sobek seragam mereka, meski hanya kantong plastik sebagai tas mereka, dan tanpa alas kaki. Meski keseharian aktifitas warga tanpa listrik sama sekali,” terangnya.
Bayu, beserta relawan lain, memberikan bantuan tahap awal berupa seragam, alat tulis, tas, dan sepatu, untuk 130 siswa di SDN 04 Sungkung II. Namun, masih ada 3 SD lain yang memerlukan bantuan serupa.
Sebenarnya, kata Bayu, bantuan yang paling dibutuhkan warga Sungkung dan desa lainnya adalah kemudahan transportasi dan juga listrik.
“Di sana, bisa dibangun PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hydro) karena banyak sungai. Akses jalan akan memudahkan para guru lebih aktif mengajar, juga membantu perekonomian. Bayangkan saja, saat ini untuk mengantar barang apapun warga harus membayar Rp400 ribu untuk satu ojek.”
“Tentu kami akan kembali lagi, untuk Sungkung, Bengkayang, untuk Merah Putih. Agar tak sumbang lagi nada nyanyian lagu kebangsaan mereka,” tuntas Bayu.