Pro Kontra Kartu Kuning dari BEM UI dan Kartu Merah Fahri Hamzah

Siswanto Suara.Com
Minggu, 04 Februari 2018 | 12:32 WIB
Pro Kontra Kartu Kuning dari BEM UI dan Kartu Merah Fahri Hamzah
Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo bertolak menuju Afghanistan. [Foto Biro Pers Setpres]

Suara.com - Jumat pagi, usai Presiden Joko Widodo pidato tentang perkembangan dunia dan tantangan dunia pendidikan di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa UI Zaadit Taqwa yang berada di tengah acara, tiba-tiba berdiri.

Lalu, Zaadit mengacungkan buku berwarna kuning --- belakangan disebut sebagai kartu kuning -- tinggi-tinggi. Paspampres sampai cepat-cepat bergerak dengan membawanya keluar dari ruangan.

Sontak, aksi di tengah acara Dies Natalis ke 68 UI itu menjadi sorotan. Aksi Zaadit dimaksudkan sebagai ekspresi kritik terhadap kebijakan pemerintahan Jokowi.

Peristiwa itu rupanya menginspirasi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah. Di acara Musyawarah Kerja Nasional 1 KA-KAMMI di Jakarta, Sabtu (3/2/2018), ketika tengah berpidato, Fahri tiba-tiba mengambil kartu merah dari dalam jas. Kartu ini juga ditujukan kepada pemerintahan Jokowi.

Suasana menjadi ramai. Di acara itu juga ada Wakil Ketua DPR dari Gerindra Fadli Zon .

Usai pidato, Fahri diwawancara para wartawan mengenai peristiwa menghebohkan barusan.

"Waktu anak-anak UI keluarkan kartu itu, itu seperti komando juga buat kita. Untuk mengingatkan pemerintah dengan metode mahasiswa, gitu loh, ya. Kaum pergerakan mahasiswa."

"Yang lain kan kuning, kalau saya kebetulan yang ada itu merah. Jadi jaya kasih kartu merah." Fahri tersenyum.

Makna kartu merah yang dikeluarkan Fahri yaitu kritik terhadap perjalanan pemerintah agar senantiasa mengevaluasi diri.

"Intinya gini, Indonesia ini harus secara terus-menerus mengevaluasi perjalanan dirinya secara radikal secara mendalam, kita ini on the right track atau tidak."

Peneliti politik Populi Center Usep S. Achyar mengatakan kritik dalam konteks demokrasi memang harus ada karena itu baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Tapi kritik seperti apa, yang kemudian menjadi lebih produktif dan konstruktif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan hanya sekedar kritik yang hanya didasarkan pada suka dan tidak suka, apalagi kepentingan kelompok tertentu," kata Usep kepada Suara.com.

Usep yang juga seorang dosen itu mengatakan mahasiswa memang harus kritis, tetapi tentu saja harus disertai dengan data-data yang jelas dan mendasar.

Tapi, Usep mengakui kritik seperti yang ditunjukkan mahasiswa UI itu terbilang efektif, terlepas caranya yang kurang tepat dan isu yang mereka angkat masih debatable.

"Cuma kan akhirnya masyarakat jadi terbelah, kalau saya lihat begitu. Menjadi pro kontra. Apalagi dalam konteks politik, ini kan digoreng bagi yang tidak suka. Digoreng jadi peluru untuk menyerang pemerintah yang saat ini."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI