- Analis Selamat Ginting menyatakan Presiden Prabowo menerapkan strategi konsolidasi hati-hati dengan mengakomodasi loyalis Jokowi demi menjaga stabilitas pemerintahan.
- Keberadaan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berisiko memicu kompetisi internal yang dapat mengganggu soliditas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
- Momentum reshuffle kabinet di masa mendatang diprediksi menjadi pembuktian kendali politik Prabowo setelah dua tahun menjalankan roda pemerintahan.
Suara.com - Analis Politik dan Militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, memberikan analisis mendalam terkait dinamika pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai masih berada di bawah bayang-bayang pengaruh Joko Widodo.
Menurut Selamat Ginting, langkah politik yang diambil Prabowo saat ini, termasuk dalam penyusunan kabinet dan reshuffle, merupakan strategi konsolidasi yang sangat hati-hati. Prabowo sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan kekuatan besar yang telah mengakar selama satu dekade.
"Pemerintahan Prabowo ini sedang dalam fase konsolidasi. Jadi karena dalam konsolidasi dia tidak bicara tentang dominasi. Ini masih satu setengah tahun. Orang yang memerintah satu setengah tahun melawan orang yang berkuasa 10 tahun. Prabowo menghitung itu," ujar Selamat Ginting di podcast Madilog, kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (29/4/2026).
Akomodasi Bukan Singkirkan
Selamat menilai bahwa alih-alih melakukan pembersihan total terhadap loyalis Jokowi, Prabowo justru memilih untuk merangkul demi menjaga stabilitas politik dan ekonomi di awal masa jabatannya.
"Prabowo menghitung itu. Maka dia lebih memilih akan merangkul daripada kemudian memutus jaringan lama, tapi dia lebih mengakomodasi daripada menyingkirkan. Jadi pelan-pelan itu. Kapan waktunya untuk putus ya kita tunggu saja," lanjutnya.
Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Selamat memperingatkan bahwa keberadaan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai Wakil Presiden bisa memicu "kompetisi diam-diam" di dalam internal pemerintahan.
"Jika tidak dikelola dengan cermat, maka harmoni antara dua kekuatan yaitu kekuatan Jokowi dan kekuatan dirinya akan bisa berubah menjadi kompetisi diam-diam dan ingat loh karena orang Jokowi, Wapres kan anaknya. Itu bisa mengganggu soliditas di dalam pemerintahan Presiden Prabowo," tegasnya.
Menanti Titik Balik
Meski saat ini terlihat kompromistis, Selamat Ginting memprediksi bahwa wajah asli pemerintahan Prabowo akan terlihat lebih jelas setelah dua tahun berjalan. Ia menyebut momentum reshuffle di masa mendatang akan menjadi pembuktian siapa yang benar-benar memegang kendali.
"Kunci dari efektivitas untuk menjaga pemerintahannya sejauh mana Presiden Prabowo bersedia untuk memberikan dukungan politik yang nyata kepada figur-figur yang memang diandalkan untuk menghadapi kemungkinan berbeloknya partai politik di separo pemerintahannya," pungkas Selamat.
Kini, publik tinggal menunggu apakah strategi "pelan-pelan" Prabowo ini akan membuahkan hasil atau justru berujung pada kekecewaan masyarakat yang menginginkan perubahan cepat.
"Publik sekarang tentu saja akan menunggu apakah reshuffle kali ini adalah sebuah babak baru dalam perang politik atau hanya sekadar episode mewujudkan janji kepada publik yang tidak pernah ditepati," tutup Ginting.
Reporter: Dinda Pramesti K