Minke, yang Mati dalam Kesepian

Reza Gunadha

Selasa, 05 Juni 2018 | 08:00 WIB
Minke, yang Mati dalam Kesepian
Batu nisan Tirto Adhi Soerjo di Pemakaman Umum Blender, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, 3 Juni 2018. [Suara.com/Rambiga]

"Dulu saya cuma bersih-bersih makam di sini. Kemudian saya bertemu, dipercaya untuk merawat dan menjaga makam sejak tahun 2006," ujar Abdul.

Abdul enggan menjawab riwayat makam RM Tirto. Tapi ia mencetuskan sepotong informasi bahwa, "Dewi Yul (artis lawas) juga masih cucu RM Priatman. Anaknya juga ada dimakamkan di sini."

Ia menuturkan, mendapatkan uang dari keluarga besar Tirto sebagai balas jasa merawat makam tersebut. Selain itu, ia juga mendapat honorarium Rp 600 per bulan dari Dinas Sosial Kota Bogor.

“Sejak tahun 2011, honorarium saya diberikan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat,” tukasnya.

Abdul memberikan kesaksian, sejak menjadi penjaga makam Tirto, tak sedikit awak media dan komunitas-komunitas datang berkunjung. Tapi, ia tak pernah melihat ada pejabat pemerintah yang datang.

“Kalau dari pihak keluarga, kali terakhir datang awal bulan Ramadan ini. Mereka berziarah ke sini,” tuturnya.

Kiprah Tirto semasa hidup, terbilang gemerlap. Aktivitas jurnalistiknya saat membangun Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907), dan Poetri Hindia (1908), menjadikannya sebagai sosok perintis pers Indonesia.

Ia juga yang membidani pendirian Sarikat Dagang Islam, pendahulu Sarikat Islam, organisasi pertama yang berseberangan dengan kolonial Belanda.

Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah orang Indonesia—suatu yang baru saat itu.

baca juga

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.

Namun, jejak langkahnya tersebut pernah terkubur seiring kematiannya. Seperti yang ditulis sastrawan terbesar Indonesia Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya “Sang Pemula” (1985), saat Tirto wafat, tak banyak orang yang mengantarkannya ke pemakaman.

Menjelang kematiannya, Tirto memang dibuang, diasingkan, bahkan dimiskinkan. Saat meninggal pun, tak ada pemberitaan besar mengenai orang besar itu.

“Bagi seorang jurnalis kenamaan, yang dalam dasawarsa pertama abad 19 dan 20 banyak disebut oleh pers di Hindia maupun Belanda, memang terlalu sedikit tanggapan orang atas kematiannya,” tulis Pramoedya, hlm 5.

Sesudah kematiannya, satu dari sedikit warta mengenai Tirto terdapat dalam sepucuk surat dari Batavia (Jakarta) kepada surat kabar De Locomotief, di Semarang. Surat itu, tercantum dalam skripsi J Erkelens, “Krant in Indonesie”, Skripsi Vrije Universiteit, Amsterdam, 1971.

“Sebuah kuburan di Manggadua, Batavia, yang sedikit pun tak berbeda dari kuburan-kuburan lain di sekitarnya, adalah tempat istirahat terakhir pekerja dan jurnalis ini…. Harian-harian pribumi tiada menyinggung lagi tentangnya dan sampailah kemudian ke telinga kami, bahwa orang membisu tentangnya dikarenakan hormat yang mendalam kepadanya lantaran tahun-tahun terakhirnya yang memilukan. Karena Tirto Adhi Soerjo telah menjadi kurban kerja kerasnya sendiri, dalam tujuh-delapan tahun terakhir telah sepenuhnya rusak ingatan dan takut orang.”

Satu dari sedikit obituari lainnya ditulis oleh murid sekaligus penerus perjuangan Tirto, yakni Mas Marco Kartodikromo.

Lima hari setelah kematian Tirto, Mas Marco menuliskan artikel “RM Tirto Adhi Soerjo” dalam Sinar Hindia, 12 Desember 1918.

“… saya mesti mengaku juga bahwa lantaran pimpinannya…. Saya bisa menjadi redaktur, pada ketika saya ada di Bandung, kumpul serumah dengan beliau. Seorang jurnalis Jawa paling tua, pun beliau seorang bumiputra yang pertama kali membikin NV (perusahaan) pada 10 tahun lalu, mashur di seluruh Hindia lantaran keberaniannya mengusik laku sewenang-wenang, menerbitkan Medan Prijaji, Poetri Hindia, Soeara BOW, Soeara Spoor dan Tram, Soeara Pegadaian dan Sarotomo…..”

Sehari setelah artikel itu terbit, yakni 13 Desember 1918, dalam surat kabar Djawi Hisworo, Mas Marco menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai “Penggoncang Bumiputera bangun dari tidurnya.” [Rambiga]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kontroversi Film dan Kisah Heroik di Balik Buku Bumi Manusia

Kontroversi Film dan Kisah Heroik di Balik Buku Bumi Manusia

Entertainment | Sabtu, 26 Mei 2018 | 19:47 WIB

Google Rayakan Ulang Tahun Pramoedya Ananta Toer dengan Doodle

Google Rayakan Ulang Tahun Pramoedya Ananta Toer dengan Doodle

Tekno | Senin, 06 Februari 2017 | 14:54 WIB

"Bunga Penutup Abad" Sambut 10 Tahun Meninggalnya Pramoedya

"Bunga Penutup Abad" Sambut 10 Tahun Meninggalnya Pramoedya

Lifestyle | Senin, 08 Agustus 2016 | 06:56 WIB

Tiket Habis, Pentas Teater "Bunga Penutup Abad" Menjadi Tiga Hari

Tiket Habis, Pentas Teater "Bunga Penutup Abad" Menjadi Tiga Hari

Entertainment | Kamis, 04 Agustus 2016 | 14:47 WIB

Tetralogi Bumi Manusia Karya Pramoedya Cetak Ulang

Tetralogi Bumi Manusia Karya Pramoedya Cetak Ulang

News | Senin, 10 Agustus 2015 | 05:58 WIB

Terkini

Rudy Susmanto dan Gerindra Bogor Rapatkan Barisan Kawal Program Prabowo hingga 2029

Rudy Susmanto dan Gerindra Bogor Rapatkan Barisan Kawal Program Prabowo hingga 2029

Bogor | Senin, 12 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Menhut Bidik 6 Perusahaan Lagi soal Karhutla, Siapa yang Terancam Kehilangan Izin Usaha?

Menhut Bidik 6 Perusahaan Lagi soal Karhutla, Siapa yang Terancam Kehilangan Izin Usaha?

Kalbar | Senin, 12 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Nilai Kinerja Positif, Gerindra Beri Lampu Hijau Rudy Susmanto Lanjut Periode Kedua

Nilai Kinerja Positif, Gerindra Beri Lampu Hijau Rudy Susmanto Lanjut Periode Kedua

Jabar | Senin, 12 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Misteri Mayat Membusuk di Podomoro Tenjo, Sempat Titip Kucing ke Tetangga Sebelum Meninggal

Misteri Mayat Membusuk di Podomoro Tenjo, Sempat Titip Kucing ke Tetangga Sebelum Meninggal

Bogor | Senin, 12 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Asap Tebal Hambat Pemadaman Karhutla, 3 Helikopter Malaysia Masih Menunggu Respons RI

Asap Tebal Hambat Pemadaman Karhutla, 3 Helikopter Malaysia Masih Menunggu Respons RI

Sumsel | Senin, 12 Oktober 2026 | 23:14 WIB

Hilang 10 Hari, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di Apartemen Tangerang

Hilang 10 Hari, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di Apartemen Tangerang

Jabar | Senin, 12 Oktober 2026 | 23:03 WIB

Pemkab Bogor Targetkan Utang Proyek Rp44 M Cair Akhir Oktober

Pemkab Bogor Targetkan Utang Proyek Rp44 M Cair Akhir Oktober

Bogor | Senin, 12 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Kronologi Bus Persib U-18 Diserang di Batang, Kaca Pecah hingga Official Dikeroyok

Kronologi Bus Persib U-18 Diserang di Batang, Kaca Pecah hingga Official Dikeroyok

Jabar | Senin, 12 Oktober 2026 | 22:48 WIB

PSSI Apresiasi Bobby Nasution Sebagai Satu-satunya Gubernur Peduli Timnas

PSSI Apresiasi Bobby Nasution Sebagai Satu-satunya Gubernur Peduli Timnas

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Polda Banten Gagalkan Peredaran 11 Kg Ganja dan Sabu Modus Jasa Ekspedisi di Bogor

Polda Banten Gagalkan Peredaran 11 Kg Ganja dan Sabu Modus Jasa Ekspedisi di Bogor

Banten | Senin, 12 Oktober 2026 | 22:37 WIB

×