Aktivis HAM Papua: Setop Serangan ke Deiyai

Reza Gunadha, Husna Rahmayunita

Jum'at, 30 Agustus 2019 | 07:35 WIB
Aktivis HAM Papua: Setop Serangan ke Deiyai
ILUSTRASI - Rakyat Papua di Deiyai saat duduki kantor bupati, 26 Agustus 2019. [Yuli Mote for SP]

Suara.com - Lembaga Advokasi dan Hak Asasi Manusia Papua (IPHAR) mengecam serangan militer di Kabupaten Deiyai pada Rabu (28/8/2019).

Insiden tersebut membuat kondisi kian memburuk terlebih dengan kedatangan para pasukan keamanan yang terdiri dari TNI-Polri.

Mereka disebut memicu konflik dengan melontarkan yel-yel rasialis kepada para demonstran sebelum menembakkan gas air mata.

Pun saat penduduk setempat bereaksi dengan melepas busur dan anak panah, petugas keamanan membalas dengan tembakan hingga menelan korban jiwa. 

Untuk itu, IPHAR meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertindak tegas, menarik seluruh pasukan keamanan dari Papua Barat.

"Presiden Indonesia harus menarik munduk pasukan keamanan di Papua Barat. Mereka adalah pelaku yang memicu konflik saat aksi damai," ungkap Paula Makabory, juru bicara IPHAR.

Lebih lanjut Paula Makabory menyebut kekerasan yang terjadi di Deiyai merupakan kejahatan Genosida militer Indonesia terhadap etnis Papua.

Mereka ingin, warga Papua Barat segera memperoleh kemerdekaannya dan mendapat perlindungan pascaoperasi militer selama beberapa bulan terakhir.

"Masalah Papua Barat khususnya pegunungan Deiyai, Paniai, Pucak Jaya dan Nduga harus dibuka ke dunia luar untuk diinvestigasi oleh Komisaris HAM PBB," terang Paula Makabory.

baca juga

Polemik Papua Barat nyatanya telah menjadi sorotan internasional. Dr Eben Kirksey, seorang profesor antropologi dari Deakin University, Melbourne mengklaim telah menemukan 29 kasus pembunuhan di Papua Barat yang melibatkan pasukan keamanan Indonesia selama dua dekade terakhir.

Oleh sebab itu, ia berharap pemeritah Indonesia memberikan kesempatan kepada PBB untuk mengatasi polemik yang ada.

"PBB telah meminta akses ke Papua Barat untuk menyelidiki sejarah panjang kasus pembunuhan dan pemerintah Indonesia harus memberikan akses," kata Dr. Kirksey.

Sebelumnya berdasarkan laporan telepon yang diterima IPHAR, ada 12 pesawat militer yang mendarat di bandara Enarotali dan Timika.

Mereka membawa pasukan keamanan yang kemudian disebar ke Kabupaten Deiyai selama aksi damai di kantor Bupati.

Demonstrasi yang semula damai, mendadak jadi ricuh saat pasukan memanggil demonstran Papua dengan sebutan 'monyet'.

Disebutkan, pasukan keamanan lalu menembakkan gas air mata yang disambut dengan busur dan anak panah dari warga setempat.

Dilaporkan media Reuters dan Aljazeera, akibat insiden tersebut enam orang warga sipil meninggal dunia. Salah satu di antaranya Alpius Pigai (20) yang di tembak mati.

Sementara korban lainnya terdiri dari Martinus Iyai (27), Naomi Pigome serta dua bocah berusia 9 dan 10 tahun yang juga ditembak di lokasi kejadian.

Di media sosial juga beredar foto dua warga sipil yang menjadi korban,  masing-masing dari mereka terluka perut dan bahunya.

Para korban sulit diindentifikasi karena pasukan keamaanan berjaga. Kabarnya, lima orang pasukan keamanan dan tiga korban warga sipil dilarikan ke rumah sakit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dua Mahasiswa Indonesia Bawa Isu Kesehatan Mental Lewat Sepak Bola ke Markas PBB

Dua Mahasiswa Indonesia Bawa Isu Kesehatan Mental Lewat Sepak Bola ke Markas PBB

Bola | Jum'at, 17 Juli 2026 | 19:31 WIB

Dituding Penjahat Perang, Amerika Diadukan ke PBB Usai Serang Warga Sipil di Iran Selatan

Dituding Penjahat Perang, Amerika Diadukan ke PBB Usai Serang Warga Sipil di Iran Selatan

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:39 WIB

PBB Turun Tangan! Senator Paraguay yang Hina Rasis Mbappe Melawan Balik

PBB Turun Tangan! Senator Paraguay yang Hina Rasis Mbappe Melawan Balik

Bola | Rabu, 08 Juli 2026 | 02:36 WIB

Wamensos Dorong Percepatan Sekolah Rakyat di Wilayah 3T Saat Terima Audiensi DPRD Teluk Wondama

Wamensos Dorong Percepatan Sekolah Rakyat di Wilayah 3T Saat Terima Audiensi DPRD Teluk Wondama

News | Senin, 06 Juli 2026 | 18:55 WIB

Pria Bakar Diri Hingga Tewas di Depan Maskar Besar PBB New York

Pria Bakar Diri Hingga Tewas di Depan Maskar Besar PBB New York

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 11:22 WIB

Gempa Bumi Venezuela, PBB Siapkan 10 Ribu Kantong Jenazah

Gempa Bumi Venezuela, PBB Siapkan 10 Ribu Kantong Jenazah

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 10:49 WIB

Ribuan Pengungsi di Indonesia Belasan Tahun Tanpa Kejelasan, Ini Penjelasan UNHCR

Ribuan Pengungsi di Indonesia Belasan Tahun Tanpa Kejelasan, Ini Penjelasan UNHCR

News | Senin, 29 Juni 2026 | 12:33 WIB

Resmi! Brigjen Yulius Audie Sonny Latuheru Jabat Kapolda Papua Barat, Ini Sosoknya

Resmi! Brigjen Yulius Audie Sonny Latuheru Jabat Kapolda Papua Barat, Ini Sosoknya

News | Jum'at, 26 Juni 2026 | 14:04 WIB

PBB: Hampir 1.000 Warga Palestina Dibunuh Israel Sejak Oktober 2025

PBB: Hampir 1.000 Warga Palestina Dibunuh Israel Sejak Oktober 2025

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 17:33 WIB

7 Poin Penting di Balik Tuntutan Soal BBM dan Program MBG

7 Poin Penting di Balik Tuntutan Soal BBM dan Program MBG

News | Senin, 15 Juni 2026 | 23:15 WIB

Terkini

Tersangka Pengeroyokan Anggota TNI hingga Tewas di Kelapa Dua Bertambah Jadi 7 Orang

Tersangka Pengeroyokan Anggota TNI hingga Tewas di Kelapa Dua Bertambah Jadi 7 Orang

Banten | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:57 WIB

KPAI Sebut Rumah, Sekolah, dan Ruang Digital Masih Jadi Tempat Rawan bagi Anak

KPAI Sebut Rumah, Sekolah, dan Ruang Digital Masih Jadi Tempat Rawan bagi Anak

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:57 WIB

Keponakan Prabowo Berikan Syarat Pembelian Dolar AS di Atas US$10.000

Keponakan Prabowo Berikan Syarat Pembelian Dolar AS di Atas US$10.000

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:53 WIB

Demo Desak Penahanan Febrie Adriansyah di Kejagung Berujung Ricuh

Demo Desak Penahanan Febrie Adriansyah di Kejagung Berujung Ricuh

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:45 WIB

Alasan Donald Trump Calonkan Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB

Alasan Donald Trump Calonkan Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:40 WIB

Adopsi Bus Listrik Masih di Bawah 10 Persen, Bagaimana Strategi Percepatannya?

Adopsi Bus Listrik Masih di Bawah 10 Persen, Bagaimana Strategi Percepatannya?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:40 WIB

Masihkah Pendidikan Menjadi Tiket Keluar dari Kemiskinan?

Masihkah Pendidikan Menjadi Tiket Keluar dari Kemiskinan?

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:40 WIB

Ditangkap di Tangerang via Red Notice Interpol, Ini Nasib WN Siprus Abdul Karim

Ditangkap di Tangerang via Red Notice Interpol, Ini Nasib WN Siprus Abdul Karim

Banten | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:38 WIB

Teka-teki Nama Baru di Ombudsman RI, Sudah Disetujui DPR, Tapi Belum Diungkap ke Publik Ada Apa?

Teka-teki Nama Baru di Ombudsman RI, Sudah Disetujui DPR, Tapi Belum Diungkap ke Publik Ada Apa?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:37 WIB

Meriahkan Pasar Tradisional, GEMPAR Kebonagung Dorong UMKM Sleman Kian Berkembang

Meriahkan Pasar Tradisional, GEMPAR Kebonagung Dorong UMKM Sleman Kian Berkembang

Jogja | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:36 WIB

×