Kekurangan APD, Tenaga Medis di Inggris Meninggal Terinfeksi Covid-19

Iwan Supriyatna | Bimo Aria Fundrika
Kekurangan APD, Tenaga Medis di Inggris Meninggal Terinfeksi Covid-19
Ilustrasi tenaga medis Covid-19. [Paolo Miranda/BBC]

Beberapa hari sebelum kematiannya, layanan darurat RS "menolak" datang untuk membawanya ke rumah sakit,

Suara.com - Seorang tenaga medis di Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), Thomas Harvey, meninggal akibat Covid-19. Putrinya Tamira Harvey, menuding pihak rumah sakit mengabaikan ayahnya. Meski telah melaporkan bahwa sang ayah memiliki gejala sakit Covid-19.

Harvey sebenarnya belum pernah melakukan tes Covid-19. Namun salah satu orang dalam di NHS mengkonfirmasi bahwa pria 57 tahun itu telah terinfeksi virus tersebut.

Menurut Tamira, ayahnya dikecewakan oleh rumah sakit tempat dia membantu merawat pasien stroke.

Seperti dilaporkan CNN, Tamira menuding bahwa Rumah Sakit Goodmayes London tidak memberikan alat pelindung diri (APD) kepada ayahnya.

"Kadang-kadang, sebagian dari kami hancur: kami merasa putus asa, kami menangis karena merasa tidak berdaya ketika kondisi pasien kami tidak membaik," tutur Paolo tentang dia dan rekan-rekan kerjanya. [Paolo Miranda/BBC]
Ilustrasi tenaga medis Covid-19. [Paolo Miranda/BBC]

Beberapa hari sebelum kematian Harvey, layanan darurat RS "menolak" datang untuk membawanya ke rumah sakit, kata Tamira. Padahal saat itu pernapasan Harvey telah terganggu.

Perwakilan NHS yang bertanggung jawab atas rumah sakit tersebut mengonfirmasi bahwa tidak ada pasien Covid-19. Mereka juga mengatakan telah mengikuti panduan APD nasional.

Sementara itu, NHS London yang memimpin layanan kesehatan publik di Inggris dan mengawasi layanan darurat, belum menerima tanggapan dari CNN.

London Ambulance Service (LAS) tidak menanggapi secara langsung klaim Tamira bahwa mereka menolak untuk membawa Thomas Harvey ke rumah sakit.

Pihak LAS mengatakan bahwa ada banyak permintaan ambulans pada layanan 999 dan 111 mereka saat ini.

Ada lebih dari 8.000 panggilan masuk ke ruang kendali 999 mereka setiap hari.

Tetapi Tamira tetap bersikeras bahwa kematian ayahnya harus dipertanggungkawabkan pemerintah Inggris. Menurutnya, Harvey telah terpapar virus di RS tempatnya bekerja karena kurangnya APD.

Sebelum meninggal, Harvey bercerita kepada Tamira bahwa APD yang disediakan RS tidak cukup.

"Dia memberi tahu saya, di bangsal mereka hanya ada celemek dan sarung tangan yang tipis," katanya.

Pandemi virus corona di Inggris saat tercatat mencapai 34.000 kasus dan angka kematian negara meningkat menjadi lebih dari 2.900, menurut data dari Universitas Johns Hopkins.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS