facebook

AJI Indonesia Catat 28 Kasus Arogansi Polisi ke Jurnalis

Dythia Novianty | Welly Hidayat
AJI Indonesia Catat 28 Kasus Arogansi Polisi ke Jurnalis
Aksi massa menolak Undang-Undang Cipta Kerja di Jalanb Medan Merdeka Selatan, jakarta, dipukul mundur aparat kepolisian, Kamis (8/10/2020). [Suara.com/Muhammad Yasir]

AJI mencatat setidaknya 28 kasus kekerasan terhadap jurnalis atas sikap arogan polisi.

Suara.com - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat, setidaknya 28 kasus kekerasan terhadap jurnalis atas sikap arogan polisi, selama peliputan aksi penolakan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja disejumlah wilayah 7-8 Oktober 2020.

Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia, Sasmito menyebut, kekerasan yang terjadi terhadap jurnalis berbagai macam. Mereka ada yang diintimidasi, hingga dirampas alat peliputannya serta dilakukan penangkapan.

"Hasil sementara catatan AJI kekerasan terhadap jurnalis ada 28 kasus di berbagai kota. Paling banyak itu kasus jenisnya pengerusakan atau perampasan data hasil liputan," kata Sasmito dalam diskusi daring, Sabtu (10/10/2020).

Sasmito pun merinci, sikap arogan polisi terhadap jurnalis diberbagai kota dalam pengamana aksi demonstrasi UU Cipta Kerja. Pertama, pengerusakan hingga perampasan alat kerja jurnalis mencapai sembilan kasus.

Baca Juga: Satgas Covid-19: Demonstrasi Berisiko Timbulkan Klaster Baru Penularan

Kemudian, intimidasi oleh polisi ada tujuh kasus. Serta kekerasan fisik hingga penangkapan, masing-masing enam kasus.

"Sisi pelakunya dari 28 kasus itu, Kalau di aksi menolak omnibus law ini, semua pelakunya dari pihak kepolisian," ucap Sasmito.

Sasmito menuturkan, dari verifikasi AJI di masing-masing kota bahwa jurnalis yang mengalami kekerasan sudah menunjukan ID Card mereka.

"Itu sebagian jurnalis menunjukan id cardnya ke polisi. Tidak ada alasan lagi bagi kepolisian. Yang mengatakan tidak mengetahui itu jurnalis," tutup Sasmito

Baca Juga: AJI Surabaya Kecam Intimidasi ke Jurnalis Saat Demo Omnibus Law

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar