alexametrics

Istana Bantah Berada di Balik Buzzer Penyerang Koordinator Jatam

Erick Tanjung | Ummi Hadyah Saleh
Istana Bantah Berada di Balik Buzzer Penyerang Koordinator Jatam
Jokowi memberi uraian tentang penanganan pandemi Covid-19. (YouTube/Presiden Joko Widodo)

"Buzzer dan Istana itu hal yang berbeda. Buzzer sekelompok orang yang kebetulan bersimpati terhadap pemerintah dan mereka bergerak secara spontan, swadaya," kata Donny.

Suara.com - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Donny Gahral Adian membantah bahwa pihak Istana Kepresidenan berada di balik Buzzer atau pendengung yang menyerang Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Merah Johansyah.

"Buzzer dan Istana itu hal yang berbeda. Buzzer sekelompok orang yang kebetulan bersimpati terhadap pemerintah dan mereka bergerak secara spontan, independen, swadaya," kata Donny kepada Suara.com, Selasa (27/10/2020) malam.

Pernyataan Donny merespon kasus Merah Johansyah yang mengalami tindakan doxing dari buzzer pasca menuliskan perihal pengabadian jalan untuk Presiden Joko Widodo di Abu Dhabi atau Uni Emirat Arab (UEA) melalui media sosial Twitter. Doxing terhadap Merah oleh buzzer yang disinyalir dari pendukung Jokowi itu pun mendapat kecaman dari organisasi masyarakat sipil, seperti SAFEnet.

Donny berdalih, tindakan doxing yang dilakukan para buzzer tersebut merupakan tanggungjawab pribadi dan tidak ada kaitannya dengan pemerintahan Presiden Jokowi. Dia pun menyanggah, para buzzer tersebut diorganisir oleh pemerintah.

Baca Juga: Jokowi Dapat Sepeda Dari Daniel Mananta, KSP Segera Laporkan ke KPK

"Jadi apapun yang mereka lakukan itu tanggung jawab pribadi. Jadi negara tidak campur tangan atau pemerintah tidak campur tangan. Pemerintah tidak memobilisasi, mengorganisir buzzer-buzzer, mereka bergerak sendiri tanpa ada komando," kilahnya.

Menurut Donny, doxing dan kegiatan penyerangan yang dilakukan oleh para buzzer terhadap aktivis maupun pihak yang mengkritik rezim Jokowi tanpa sepengetahuan Istana.

"Kalau suara resmi pemerintah ya seperti dari saya, Pak Ngabalin, pak Fadjroel. Kalau bazzer-bazzer itu kan diluar sepengetahuan dan perintah dari pemerintah," tutur Donny.

Bantah Isu Barter Lahan

Donny pun membantah adanya isu pemberian nama jalan Jokowi di Uni Emirat Arab (UEA) hasil ditukar dengan lahan 256 ribu hektare di Kalimantan Timur.

Baca Juga: Tak Yakin SBY Bayar Rp100 Miliar Aksi 212, Rizal Ramli: Rp10 Miliar Mungkin

"Ya kalau dari Istana saya kira menyangkal ya, tidak ada barter penghargaan, pemberian nama jalan di Uni Uni Emirat Arab di Abu Dhabi dengan tanah (Di Kalimantan Timur)," kata Donny.

Komentar