Bagaimana Jakarta Bebaskan Warga Dataran Rendah dari Langganan Banjir?

Siswanto, Fakhri Fuadi Muflih

Rabu, 17 Februari 2021 | 15:00 WIB
Bagaimana Jakarta Bebaskan Warga Dataran Rendah dari Langganan Banjir?
Kepadatan pemukiman penduduk terlihat dari ketinggian di salah satu kawasan di Jakarta, Rabu (28/9/2016). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Sejumlah kawasan di Jakarta yang selama ini menjadi langganan banjir merupakan dataran rendah. Wakil Gubernur Jakarta Ahmad Riza Patria menganalogikan lokasi tersebut "seperti kubangan."

"Kenapa masih ada banjir? Itu memang daerah yang daratannya sangat rendah, kenapa rendah? Banyak, di antaranya ada satu lokasi di perkampungan yang dulu lokasi itu digali tanahnya," ujar Riza di Balai Kota Jakarta, Rabu (17/2/2021).

"Sekarang daerahnya banjirnya minta ampun, karena memang rendah seperti kubangan." 

Bagaimana cara menolong warga yang menetap di dataran daratan rendah agar tak selalu kebanjiran?

Dari sekian program, salah satunya, pemerintah Jakarta berencana kembali merelokasi warga ke rumah susun.

"Nanti ada program cara mengatasi, warga direlokasi, di sana dibangun rusun umpamanya supaya kalau banjir, warga bisa tetap tinggal di situ, di rusun. Di situ kalau banjir bisa jadi tempat penampungan," kata Riza.

Sementara daerah yang telah ditinggalkan warga -- jika tak sedang kebanjiran -- bisa diperuntukkan untuk fasilitas publik.

"Kalau kering bisa jadi tempat parkir, tempat bermain, dan sebagainya," kata Riza.

Secara umum, Riza menilai penanganan genangan air sejauh ini sudah berjalan dengan baik, genangan di beberapa kawasan bisa disurutkan lebih cepat.

baca juga

"Kita rasakan, sampai hari ini memang ada genangan, tapi cepat surut, memang ada banjir di beberapa titik tapi cepat surut," kata dia.

Kanal-kanal pengendali banjir

Dikutip dari Antara, pada 1913 boleh jadi merupakan salah satu bagian sejarah penting upaya pengendalian banjir di Jakarta.

Sebuah saluran sepanjang 4,5 kilometer  berkedalaman empat hingga 12 meter  dengan lebar mencapai 13,5 hingga 16 meter mulai dibangun, menjadinya kanal yang berfungsi khusus untuk mengendalikan air agar tidak “berkumpul” di tengah kota yang kala itu masih bernama Batavia.

Saluran yang dikerjakan oleh Burgerlijke Openbare Werken yang merupakan cikal bakal Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia itu saat ini dikenal dengan nama Kanal Banjir Barat.

Sungai Ciliwung, Sungai Krukut, Sungai Cideng dan Sungai Grogol adalah empat sungai yang aliran airnya dapat ditampung oleh banjir kanal yang didesain insinyur Belanda bernama Herman van Breen.

Keberhasilan kanal pertama yang membentang dari wilayah Matraman hingga Karet dilanjutkan dengan memperpanjang pembangunan sistem drainase makro tersebut hingga mencapai Muara Angke hingga tuntas di 1919.

Lebih dari seratus tahun Kanal Banjir Barat beroperasi, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah masih efektifkah kanal tersebut mengatasi banjir di masa kini?

Kanal Banjir Barat kini

"Tentu masih efektif juga sekarang. Karena air dari Bogor ya jalur airnya tetap lewat Kanal Banjir Barat," kata Sekretaris Dinas Sumber Daya Air Jakarta Dudi Gardesi saat ditanyai mengenai peran Kanal Banjir Barat di masa kini.

Desain Kanal Banjir Jakarta sedari awal sudah dirancang untuk jangka panjang, setidaknya diperhitungkan dari lebar saluran dan kemampuan menampung banyaknya air yang akan mengisi kanal.

Salah satu langkah Pemprov DKI Jakarta menjaga peninggalan era “kumpeni” itu adalah menjaga agar kapasitas Kanal Banjir Barat menampung air tidak berkurang dan justru dapat meningkat.

Dalam sebuah buku berjudul Mengapa Jakarta Banjir dijelaskan salah satu langkah yang diambil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 2006 di era Gubernur Sutiyoso adalah mengganti tembok di kedua sisi Kanal Banjir Barat dengan beton yang semula hanya berupa tanah.

Dengan penggantian bahan tembok Kanal Banjir Barat maka kapasitas saluran menampung air yang sebelumnya berkurang karena terjadi pendangkalan menjadi bertambah.

Pakar Bioteknologi Lingkungan Universitas Indonesia Firdaus Ali turut mendukung pernyataan Dinas SDA Jakarta, ia mengatakan tanpa Kanal Banjir Barat saat ini, kawasan Jakarta Pusat mungkin saja sudah terendam dan tidak bisa dihuni.

"Kalau enggak ada itu, kita bisa lumpuh total," kata Firdaus Ali dengan nada yang serius menjelaskan peran besar Kanal Banjir Barat mencegah Jakarta tenggelam.

Namun Kanal Banjir Barat tidak selalu bekerja sempurna mengendalikan banjir di Jakarta, terbukti pada 2007 saat Kanal Banjir Jakarta di sisi timur belum ada, kapasitas kanal yang hanya mampu menampung 500 meter kubik per detik itu kewalahan menampung curah hujan maksimal 340 milimeter per hari sehingga menghasilkan volume hingga 750 meter kubik per detik.

Oleh karena itu, bersamaan dengan setahun operasional Kanal Banjir Timur, Pemerintah Pusat memutuskan membangun satu pintu air baru di kawasan Jakarta Pusat yang dikenal dengan nama Pintu Air Karet yang melengkapi Pintu Air Manggarai pendahulunya.

Penambahan Pintu Air Karet ini berdampak pada kapasitas saluran Kanal Banjir Barat menjadi 734 meter kubik per detik.

"Jadi untuk debit maksimum, saat ini kita masih mengandalkan Kanal Banjir Barat," ujar Firdaus Ali.

Integrasi dua kanal

Mengutip sebuah jurnal dua mahasiswa Universitas Oxford berjudul The evolution of Jakarta’s flood policy over the past 400 years: The lock-in of infrastructural solutions yang terbit pada 2018, sistem kanal sudah menjadi “peluru utama” melawan Banjir di Jakarta sejak 1619.

Sistem kanal pun terukir sebagai bagian Sejarah Indonesia dalam Prasasti Tugu tentang asal muasal pengerukan kanal dalam tata kelola air pada saat itu.

Saat ini, Jakarta memiliki dua kanal, yaitu Kanal Banjir Barat peninggalan Belanda yang berusia lebih dari 100 tahun serta Kanal Banjir Timur yang hampir mencapai satu dasawarsa.

Kedua sistem kanal yang merupakan bagian dari drainase makro Jakarta yang memiliki fungsi untuk mengalirkan air dari hulu melalui saluran yang sudah tercipta di pinggir kota menuju langsung ke laut sehingga tidak merendam rumah-rumah warga.

Meski saat ini keduanya memiliki kapasitas mumpuni, untuk Kanal Banjir Barat berkapasitas 734 meter kubik per detik dan Kanal Banjir Timur berkapasitas 390 meter kubik per detik hal itu tidak menjamin Jakarta sepenuhnya bebas dari banjir.

"Dua kanal bisa jadi tidak terlalu cukup, karena peningkatan debit air akan terus bertambah seiring jalannya waktu," kata Firdaus Ali yang juga bekerja sebagai Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Bidang Air dan Sumber Daya Air.

Menurut dia, agar kapasitas kedua kanal banjir Jakarta itu lebih efektif maka harus disatukan melalui sebuah saluran yang dikenal dengan sodetan Kali Ciliwung. Namun sayangnya pengerjaan saluran penghubung yang dirancang berkapasitas 60 meter kubik per detik itu, saat ini dalam posisi mandek karena alotnya proses pembebasan lahan di bantaran Kali yang meliuk sepanjang 119 kilometer melintasi Jakarta tersebut.

"Ya jadi sekarang, antisipasi lainnya tentu bekerja sama dengan Pemerintah Kota maupun Pemerintah Kabupaten dari daerah hulu untuk membangun Waduk Sukamahi dan Waduk Ciawi, tidak ketinggalan reboisasi di kawasan itu," ujar Firdaus Ali.

Selain pemeliharaan infrastruktur secara fisik dengan pembangunan pintu air, ada juga campur tangan petugas-petugas harian yang kerap dikenal sebagai “pasukan oranye” dan pasukan hijau yang disiagakan sebagai “penjaga gawang” di pintu-pintu air agar aliran menjadi lancar.

Tidak jarang mereka terjun langsung berbalut pelampung oranye ke dalam air untuk menyingkirkan sampah-sampah yang mengganggu aliran di pintu air.

"Tugas kita kan yang penting airnya bisa lancar buat sampai ke tujuannya, enggak boleh itu sampai meluap. Jadi ya, kalau ada sampah besar yang ‘ngehalangin’ jalur air, ya mau enggak mau, kita angkut langsung," kata salah satu petugas Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air di Pintu Air Karet, Solihin.

Tugas para petugas UPK Badan Air yang bertanggung jawab terhadap aliran kanal banjir Jakarta setiap harinya agar berjalan lancar tidaklah mudah. Butuh waktu, tenaga dan dana agar saluran Kanal Banjir Jakarta tidak dipenuhi sampah-sampah sehingga aliran air menuju laut semakin mudah.

"Dulu belum dilengkapi peralatan memadai, peralatan harus rakit sendiri. Dulu bahkan pengambil sampah menggunakan kipas angin untuk jadi saringan secara manual," kata Prasetyo, petugas UPK Badan Air lainnya yang bertugas di kawasan Menteng.

Saat ini kondisi saluran Kanal Banjir Jakarta di pintu-pintu air sudah jauh lebih tertata. Tidak ada lagi gundukan sampah yang terlalu menggunung yang dapat terbawa arus menuju laut. Kondisi para petugas di badan air itu pun semakin membaik dengan fasilitas yang ditambahkan.

"Dulu saya ‘nyebur’ ya ‘nyebur’ aja. Tapi sekarang setidaknya harus pakai pelampung. Semakin baik. Enggak cuma kondisi kitanya ya, kondisi saluran airnya juga. Karena sebelum ada kami, dulunya sampah-sampah pasti sudah terbawa arus sampai ke laut, " kata Solihin.

Para “penjaga gawang” Kanal Banjir Jakarta itu pun berpesan agar masyarakat yang masih membuang sampah langsung ke aliran air sungai segera berhenti melakukan, sehingga tidak menyumbat dan menyebabkan banjir.

"Ya semoga aja, kepingin saya sih, orang-orang yang buang sampah enggak buang lagi ke saluran, biar bersih, enggak ada banjir-banjir lagi," kata Solihin.

Bukan satu-satunya solusi

Meski memiliki peran utama dalam pengendalian banjir Jakarta, kanal banjir bukanlah satu-satunya solusi.

Firdaus Ali mengatakan Ibu Kota Jakarta juga seharusnya menyiapkan sistem pengendalian banjir khusus untuk di dalam kota dengan memperbaiki saluran drainase mikro dan penghubung hingga menambah armada pompa.

Ali, saluran drainase mikro di Jakarta sudah mengalami penurunan kapasitas sehingga upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan melakukan pengerukan saluran tidak cukup. Perlu dilakukan peremajaan terhadap saluran-saluran drainase yang eksis dengan menghitung volume air limpasan.

"Drainase Jakarta sudah tidak baik, sebagai contoh Sabtu kemarin (18/1), tidak ada hujan di kawasan hulu, tapi Jakarta kena hujan lokal. Beberapa daerahnya langsung tergenang cukup tinggi. Artinya perlu ada pengkajian ulang dari sistem drainase. Bayangkan kalau hujan besar seperti tahun baru terjadi lagi, mungkin akan terendam terus," kata Firdaus.

Lebih lanjut langkah antisipasi lainnya adalah dengan penambahan pompa. Akibat sistem drainase mikro yang memiliki kedalaman dangkal, pompa menjadi salah satu solusi Jakarta menangani genangan. Pompa juga dinilai cukup efektif karena langsung menyedot air yang menggenang menuju aliran air terdekat untuk selanjutnya dialirkan menuju hilir.

"Jangan sampai ada pompa yang tidak berfungsi, kita harus belajar dari banjir tahun baru. Pemprov DKI harus tingkatkan pompa agar genangan cepat surut," kata Firdaus.

Kanal mungkin salah satu solusi jitu yang masih bisa diandalkan untuk mengendalikan air banjir Jakarta, khususnya menangani banjir kiriman dari hulu.

Meski demikian, agaknya langkah-langkah pencegahan baik dari masyarakat untuk tidak menutup saluran drainase maupun pemerintah setempat untuk mengkalkulasi kondisi alam Jakarta harus lebih ditingkatkan.

Hal itu agar tidak hanya mewaspadai banjir kiriman tapi juga ada pengendalian yang seimbang dari dalam kota untuk mencegah banjir lokal sehingga membuktikan Jakarta menjadi kota maju dan menyejahterakan serta membahagiakan warganya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir?

Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir?

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Prabowo Resmikan Bendungan Meninting, Proyek Rp1,4 Triliun untuk Pangan dan Air Baku

Prabowo Resmikan Bendungan Meninting, Proyek Rp1,4 Triliun untuk Pangan dan Air Baku

Foto | Jum'at, 10 Juli 2026 | 19:04 WIB

Mengapa Penebangan Hutan Bisa Membuat Banjir Semakin Sering Terjadi?

Mengapa Penebangan Hutan Bisa Membuat Banjir Semakin Sering Terjadi?

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 14:55 WIB

Mengapa Banjir Pesisir kini Semakin Sering Terjadi? Penelitian Ungkap Imbas Krisis Iklim

Mengapa Banjir Pesisir kini Semakin Sering Terjadi? Penelitian Ungkap Imbas Krisis Iklim

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 13:09 WIB

Hamparan Eceng Gondok Selimuti Kali Blencong di Bekasi

Hamparan Eceng Gondok Selimuti Kali Blencong di Bekasi

Foto | Selasa, 07 Juli 2026 | 06:00 WIB

Harga Material Naik, Bantuan Rumah Korban Banjir Sumatra Diusul Jadi Rp80 Juta

Harga Material Naik, Bantuan Rumah Korban Banjir Sumatra Diusul Jadi Rp80 Juta

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 15:25 WIB

Akhiri Banjir Seatap, Kemanggisan Kini Ditata: Jalan Inspeksi Harus Bebas Bangunan Liar!

Akhiri Banjir Seatap, Kemanggisan Kini Ditata: Jalan Inspeksi Harus Bebas Bangunan Liar!

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:43 WIB

Target 2027: Jakarta Bakal Bangun 11 Rusun Baru Demi Evakuasi Warga dari Zona Bencana

Target 2027: Jakarta Bakal Bangun 11 Rusun Baru Demi Evakuasi Warga dari Zona Bencana

News | Senin, 29 Juni 2026 | 17:36 WIB

Apakah Indomobil Tyranno Aman Lewat Banjir? Cek Hasil Tes Ekstremnya di Sini

Apakah Indomobil Tyranno Aman Lewat Banjir? Cek Hasil Tes Ekstremnya di Sini

Otomotif | Jum'at, 26 Juni 2026 | 16:05 WIB

Gerak Cepat Tangani Rob Pati, Ahmad Luthfi Siapkan Rp400 Juta untuk Rehabilitasi Tanggul

Gerak Cepat Tangani Rob Pati, Ahmad Luthfi Siapkan Rp400 Juta untuk Rehabilitasi Tanggul

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 17:58 WIB

Terkini

Ibu Tiri Usia 19 Tahun di Bekasi Siksa Anak Sambungnya Hingga Tewas

Ibu Tiri Usia 19 Tahun di Bekasi Siksa Anak Sambungnya Hingga Tewas

Jabar | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:34 WIB

IESR Ungkap Tiga Kunci Percepatan Investasi Energi Surya di Indonesia, Apa Saja?

IESR Ungkap Tiga Kunci Percepatan Investasi Energi Surya di Indonesia, Apa Saja?

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:30 WIB

Liburan dengan Miles Jadi Tren, Pengeluaran Sehari-hari Kini Bisa Jadi Modal Bepergian

Liburan dengan Miles Jadi Tren, Pengeluaran Sehari-hari Kini Bisa Jadi Modal Bepergian

Lifestyle | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:29 WIB

5 Rekomendasi Facial Wash Jepang untuk Kulit Putih dan Bersih

5 Rekomendasi Facial Wash Jepang untuk Kulit Putih dan Bersih

Lifestyle | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:25 WIB

Modus Ternak Rekening Judol Libatkan Petani hingga IRT, Dugaan Keterlibatan Bank Perlu Diusut

Modus Ternak Rekening Judol Libatkan Petani hingga IRT, Dugaan Keterlibatan Bank Perlu Diusut

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:24 WIB

Lima Tahun Diabaikan Pemerintah, Warga Mekarsari Lebak Banten Patungan Perbaiki Jembatan Rusak

Lima Tahun Diabaikan Pemerintah, Warga Mekarsari Lebak Banten Patungan Perbaiki Jembatan Rusak

Banten | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:24 WIB

KUR BRI Dukung Rosyidah Terus Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut di Indramayu

KUR BRI Dukung Rosyidah Terus Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut di Indramayu

Kaltim | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:20 WIB

Gibran Minta PSEL Palembang Tak Sekadar Olah Sampah, Warga dan UMKM Harus Ikut Untung

Gibran Minta PSEL Palembang Tak Sekadar Olah Sampah, Warga dan UMKM Harus Ikut Untung

Sumsel | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:18 WIB

BRI Hadirkan Harapan Baru Bagi Mantan Pekerja Migran Indonesia Melalui KUR dan Pemberdayaan UMKM

BRI Hadirkan Harapan Baru Bagi Mantan Pekerja Migran Indonesia Melalui KUR dan Pemberdayaan UMKM

Jatim | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:15 WIB

Wajah Pendidikan Karakter: Ketika Pemimpin Gagal Menjadi Contoh

Wajah Pendidikan Karakter: Ketika Pemimpin Gagal Menjadi Contoh

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 20:15 WIB

×