Kisah Tunanetra: Hilang Penglihatan, Putus Asa sampai Temukan Titik Balik

Siswanto

Senin, 12 April 2021 | 07:00 WIB
Kisah Tunanetra: Hilang Penglihatan, Putus Asa sampai Temukan Titik Balik
Ilustrasi tunanetra. (Elements Envato)

Puncaknya diawali dengan Bakat mengalami panas tinggi dan disertai penglihatan yang kabur.

“Kayaknya ngelihat satu orang jadi tujuh orang. Kanan ada kiri ada orang,” katanya.

Matanya kemudian benar-benar buta.

Semenjak dunia menjadi gelap gulita, kepercayaan diri Bakat menurun drastis. Setiap hari, perasaannya berkecamuk.

Kemudian dia memilih untuk mengurung diri saja di dalam rumah setiap hari dan bertahun-tahun lamanya.

Bakat hanya berani ke luar untuk buang air besar di sungai dekat rumah, itu pun pada malam hari ketika kebanyakan orang berada di tempat tinggal masing-masing. Buang air besar di sungai merupakan kebiasaan sebagian warga desa tempat kelahiran Bakat tahun itu.

Pernah ada keinginan bunuh diri

Selama bertahun-tahun, Bakat merasa rendah diri karena terbebani oleh kebutaannya. Dia selalu menghindar setiap kali teman-teman sebaya mengajak bermain bersama.

Setiap hari, dia menghabiskan waktunya membantu kakak yang berjualan nasi, bubur, dan gethuk. Dia ngrewangi pekerjaan yang lebih ringan: memarut atau mengupas singkong.

Dia sangat cemas dengan masa depannya. Apalagi dia mendengar kabar teman-teman sebayanya telah lulus sekolah dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Sampai suatu suatu ketika, terbersit niat Bakat untuk mengakhiri hidup.

“Saya sama sekali sudah tidak bisa lihat. Waktu itu saya sampai pernah mau bunuh diri.”

“Malam-malam, saya masih inget itu malam Jumat, saya mau nyemplung sumur. Tapi kebetulan lagi musim kemarau panjang, ada temen saya yang mungkin lagi topo atau semedi, tidur di pelataran sumur saya itu (menggagalkan rencana bunuh diri).”

Sementara itu kedua orang tua Bakat, selain berdoa, mereka masih berusaha mencari jalan keluar untuk membantu anak lanang mendapatkan kembali penglihatannya.

Mereka mendatangi dukun, mencoba bermacam-macam pengobatan alternatif, dan juga mengikuti saran-saran dari berbagai orang.

“Saya masih inget, waktu itu ikut pengobatan dukun gitu. Tetangga saya katanya dapat impian, dapat wangsit, ketemu (almarhum) kakek saya. Saya udah yakin (dapat melihat). Saya disuruh (kakek dalam mimpi) cuci muka pakai air tawar yang direndam sama daun waluh (labu), sama kembangnya.”

“Tapi juga nggak bisa sembuh juga.”

Suatu hari di salah satu pasar, kedua orangtua Bakat mendapat saran dari pedagang, penglihatan Bakat kemungkinan dapat kembali lagi setelah cuci muka dengan memakai air rebusan daun sirih.

“Tapi ya nggak bisa sembuh juga.”

Menginjak usia 15 tahun atau 16 tahun, orangtua membawa Bakat ke Rumah Sakit Mangkubumen Solo.

Setelah menjalani pemeriksaan mata oleh dokter, Bakat diberi obat-obatan yang harus dia minum sampai habis.

“Bu ini saya bawain obat kalau misalnya nanti obatnya habis dan mulai bisa melihat sedikit demi sedikit, bawa ke sini lagi ya. Tapi kalau nggak bisa melihat ya mungkin sudah garisnya Yang Maha Kuasa, nanti ada rezeki sendiri,” kata dokter yang ditirukan Bakat.

“Terus saya sampai rumah, obat saya minum, terus sampai habis. Saya ditanya orangtua, ‘gimana ada perubahan nggak.’ Masih nggak bisa lihat juga.”

Titik balik

Berkat saran dari seorang lurah, pada tahun 1980 tahun, Bakat dikirim orangtuanya ke pusat pendidikan di bawah Departemen Sosial (sekarang Kementerian Sosial) di Pajang, Laweyan, Solo.

“Terus saya waktu mau masuk ke asrama saya dites dulu penglihatannya. Ditanya, lampu listrik ini nyala atau mati. Saya bilang nggak tahu pak. Kata gurunya berarti ini sudah bener-bener nggak lihat sama sekali.”

Singkat cerita, bakat kemudian berpisah dengan orangtuanya karena dia mesti mengikuti pendidikan umum setingkat sekolah dasar dan dia tinggal di asrama.

Di asrama, Bakat berbaur dengan orang-orang yang juga punya masalah pada indra penglihatan. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Wonogiri, Sukoharjo, Sragen, Klaten, dan Boyolali.

Dalam salah satu kesempatan di pusat pendidikan Pajang, Bakat bertemu seorang perempuan tunanetra asal Boyolali. Yani namanya. Yani kemudian menjadi kekasihnya dan pada Januari tahun 1985 mereka menikah. Kelak mereka dikaruniai empat orang anak.

Di situlah Bakat menemukan titik balik kehidupan. Untuk pertamakalinya dia menemukan kembali keceriaan yang telah hilang selama bertahun-tahun semenjak matanya tidak berfungsi.

“Karena ketemu temen-temen, jadi seneng lagi mas. Perasaan malu dan nggak berani pergi kemana-mana, itu sudah masa lalu, sudah saya lupakan.”

Kehilangan indra penglihatan bukanlah akhir dari segala-galanya. Prinsip itulah yang kemudian menjadi pegangan hidup Bakat.

Di pusat pendidikan, Bakat remaja membenamkan diri pada berbagai macam kegiatan edukasi.

“(Salah satu yang paling dikenang) ada cerdas cermat P4, saya pernah dibawa ke TVRI Yogya itu mas.”

Dua setengah tahun di Pajang, kemudian Bakat dikirim ke Pemalang untuk menempuh pendidikan Sekolah Luar Biasa A.

Di Pemalang, pergaulan Bakat semakin luas. Teman-teman yang sekolah di sana berasal dari seluruh daerah di Indonesia.

Ketika menempuh pendidikan SLB A, bapak dan ibu dari Bakat mangkat.

Kematian orangtua membuat tekad Bakat untuk mendalami keterampilan pijat tradisional semakin bulat. Setelah tiga tahun sekolah di Pemalang, dia kembali lagi ke Solo untuk kursus pijat selama satu tahun.

Merantau ke Jakarta

Selesai pendidikan, Bakat tidak pulang ke kampung halaman untuk mencari mata pencaharian.

Tahun 1986 akhir atau 1987 awal, Bakat menyusul istrinya yang lebih dulu merantau ke Ibu Kota Jakarta. Sebuah keputusan penting dalam kehidupan pasangan suami istri tunanetra itu akhirnya hidup di perantauan bersama-sama.

Mereka memilih Jakarta karena meyakini di pusat perekonomian nasional ini dapat memberikan pengharapan.

Mereka pertamakali bekerja pada seorang keturunan Cina di Gadjah Mada Plaza, Jakarta Pusat, menjadi tenaga pemijat tradisional.

Besaran penghasilan Bakat kala itu dihitung berdasarkan berapa jumlah pelanggan yang dia dapatkan. Biaya pijat per orang ketika itu Rp4.500 dan Bakat mendapatkan persentase Rp1.400 untuk setiap orang.

Seandainya tidak mendapatkan pelanggan pun setiap pemijat tetap diberi uang makan sebesar Rp500 yang disebut Bakat sudah sangat cukup untuk makan sehari pada waktu itu.

“Tahun 87-88. Uang Rp500 itu bisa makan dengan lauk ayam. Waktu itu nasi Padang cuma 400 sama rendang.”

Tapi sangat jarang pada masa itu, tenaga pemijat sampai tidak mendapatkan pelanggan. Setiap hari, tempat kerja Bakat rata-rata kedatangan 20 orang sampai 25 orang. Apalagi akhir minggu, jumlahnya bisa lebih banyak lagi karena biasanya orang-orang keturunan yang baru selesai olahraga, langsung pijat atau akupuntur.

Tahun 1980-an sampai tahun 1990-an awal disebut Bakat sebagai masa-masa keemasan jasa pijat kesehatan di Jakarta.

“Di Santa, di tempat temen-temen, sehari malah bisa masuk pasien 40 orang sampai 50 orang.”

Setelah beberapa lama bekerja pada pemilik pusat kesehatan di Gadjah Mada Plaza, Bakat dan istrinya mulai berpetualang. Mereka memutuskan pindah kerja untuk memperluas pengalaman.

“Seluruh wilayah DKI saya sudah pernah mas. Pertama kan di Gadjah Mada Plaza. Dari situ pindah ke Mangga Besar dekat RS Husada, dari situ pindah lagi ke Kemanggisan, terus pindah ke Palbatu Tebet.”

Bakar-bakaran Mei 1998

Bakat dan Yani membuka praktik pijat sendiri tahun 1992 dengan menyewa rumah kontrakan di daerah Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan.

Masa-masa itu merupakan puncak keemasan praktik pijat tunanetra. Biaya makan murah, biaya kontrakan pun demikian: setahun hanya Rp300 ribu.

Dia teringat pengalaman lucu. Saking capek selepas melayani banyak pelanggan, Bakat dan Yani ketiduran. Uang kertas Rp20 ribu yang pada tahun 1992 disebut Bakat sebagai uang “paling gede” yang ditaruh di atas radio dimakan tikus.

Jumlah pelanggan terus mengalami peningkatan menjelang tahun 1998. “Ajeng mudunnya Soeharto di situ (Tebet) ramai sekali pelanggan.”

Hampir tiap hari, Bakat buka praktik dari jam 06.00 WIB sampai jam 10.00 WIB. Rata-rata jumlah pelanggan yang datang per hari sepuluh orang.

Bakat dan istrinya menjadi salah satu saksi penjarahan dan pembakaran pada Mei tahun 1998.

“98 itu ada bakar-bakaran lagi (setelah pengalaman pertama tahun 1965). Jadi saya saya pelajari kehidupan ini kok penuh dengan bakar-bakaran,” kata Bakat.

Beda sama dulu, sekarang sebagian orang mulai cuek

“Sekarang ada era baru, sampai ke sini kok kayaknya hidup nggak hidup, mati nggak mati,” kata Bakat.

Setelah menyatakan keheranan atas situasi negaranya yang dia rasakan sekarang, Bakat tertawa lepas.

Dia melanjutkan mengungkapkan uneg-unegnya, “Sekarang hidup di negara sendiri kayak hidup di negara orang. Kayaknya perasaan enak zaman dulu, zamannya orba, zaman Pak Harto.”

“Pemerintah ini bagaimana ini, mas.” Dia kembali bergelak.

Bakat teringat ketika awal-awal merantau di Jakarta, antara 1986 dan 1990-an. Kebanyakan masyarakat kala itu bersikap ramah kepada kalangan disabilitas, terutama tuna netra.

Menurut penilaiannya, makin ke belakang, terutama setelah Orde Baru runtuh dan datang masa reformasi, sikap sebagian masyarakat mulai berubah. Dia tidak tahu persis kenapa itu terjadi.

“Semakin ke sini kayaknya semakin acuh atau gimana gitu lho, semakin nggak peduli.”

Bakat tidak tahu persis kenapa perekonomian pada 1980-an sampai tahun 1990-an awal dirasakan lebih bagus dari sekarang, setidaknya ditandai jumlah pelanggan tempat pijat yang disebutnya selalu banyak.

“Ya mungkin karena ada perubahan stigma atau perubahan apa gitu, saya kurang ngerti.”

Ketika bicara tentang perubahan, Bakat menekankan bahwa dia sama sekali tidak bermaksud untuk mengeluhkan keadaannya.

Selama berbincang-bincang di teras rumah, dia berkali-kali mengucap syukur atas rezeki yang telah diberikan Yang Maha Kuasa selama ini.

Dia berterimakasih pula, berkat tempaan pendidikan yang didapat selama belajar di pusat pendidikan milik Departemen Sosial (kini Kementerian Sosial) dulu bermanfaat untuk menjalani kehidupan sekarang.

“Karena sudah dididik masalah agama, ketuhanan, yang penting prisipnya Innamal A'malu Bin Niyat, gitu aja mas. Niat saya cari rezeki,” kata Bakat.

Pengalaman jadi korban kriminal

Suatu hari ketika dalam perjalanan pulang ke kampung halaman seorang diri menumpang bus, Bakat pernah menjadi korban kejahatan.

Di tengah perjalanan, Bakat ketiduran. Setelah bangun, dia mencari-cari dompet. Lalu dengan kaki, dia mencoba mencari-cari lagi di bawah kolong tempat duduk dan baru berhasil menemukannya.

“Tapi uangnya udah nggak ada.”

Pengalaman lain terjadi ketika dia bersama istri ke kampung halaman. Setelah kereta api berhenti di Stasiun Tirtonadi, Solo, mereka menyetop taksi -- ternyata taksi gelap atau berpelat hitam.

Di daerah Purwosari, oleh-oleh dan pakaian untuk anak-anak dua anaknya dibawa kabur sama supir taksi.

“Untung tas yang ada uangnya nggak ditaruh di situ.”

Di rumah kontrakan daerah Palbatu, Bakat juga pernah kehilangan radio.

“Katanya (pelaku) mau mijet. Pas saya mau ganti baju (sebelum mijet), kok nggak ada radionya.”

Bakat berprinsip dalam menjalani kehidupan tidak perlu neko-neko dan tenang setiap menghadapi masalah.

Beberapa aksi kejahatan yang menimpanya dianggap sebagai bagian dinamika kehidupan dan dia meyakini semua telah diatur oleh Tuhan.

“Terserah Yang Maha Kuasa. Kan saya juga kerja, kalau orang berbuat jahat seperti itu kan sudah ada hukuman sendiri. Kan Tuhan nggak tidur mas.”

Diskriminasi

Ketika saya minta tanggapan mengenai diskriminasi terhadap kalangan disabilitas? Jawaban Bakat didasarkan pada aspek ekonomi dan yang dirasakannya pada zaman Orde Baru dan reformasi.

“Diskriminasi sekarang lebih besar. Dulu zaman Pak Harto masih mikirin tunanetra. Karena waktu itu banyak tunanetra dimasukin ke Departemen Sosial.”

“Temen saya yang masuk Depsos dari tahun 70-an itu masih banyak yang hidup mas sampai sekarang, mereka usianya sudah 70-an. Masih sehat sampai sekarang ini.”

Kemudian dia memberikan contoh diskriminasi yang dialami kalangan disabilitas, di antaranya lapangan pekerjaan sangat sulit didapat.

Akibatnya, kebanyakan tunanetra, terutama di Jabodetabek, beralih menjadi penjual krupuk keliling. Padahal, keterampilan utama yang diajarkan kepada mereka sewaktu menempuh pendidikan adalah pijat.

“Jadi sekarang ini banyak yang alih profesi (dari pemijat) jadi pedagang krupuk, meski risikonya lebih besar daripada pijet.”

“Pembayaran (pendapatan) dari pijet sekarang ini nggak seimbang (jumlah pelanggan semakin sedikit).”

Bersyukur

Walaupun penghasilan yang didapat di Kabupaten Bogor sekarang sudah jauh berkurang, bapak empat orang anak ini memutuskan akan tetap bertahan di tanah rantau karena dia merasa tidak mungkin lagi melanjutkan usaha pijat di tanah kelahiran.

Sebab, membuka usaha baru di daerah akan kalah saing dengan yang sudah lama merintis di sana.

“Tapi pedoman saya sekarang, kan anak tinggal satu yang masih lajang. Dalam agama kan disebutkan, siapa yang mensyukuri akan ditambah nikmatnya.”

“Sekarang tinggal nikmatin hidup saja mas istilahnya, udah nggak ada tanggungan anak.”

Bakat amat bangga menceritakan anak bungsunya yang sekarang sudah mendapatkan pekerjaan sebagai staf Indomart di Solo. Dia juga bangga sekali ketika bercerita telah berhasil mengantarkan ketiga anaknya yang lain sampai memasuki kehidupan berumahtangga.

“Sekarang tinggal jagain aja, sambil berdoa supaya anak-anak rumah tangganya bagus, bisa punya keturunan. Kita sudah tinggal nunggu umur aja mas, tinggal nunggu panggilan Tuhan aja.”

Dia bersyukur tetap diberi kesehatan sehingga sambil menunggu pelanggan pijat datang ke rumah kontrakan atau menunggu panggilan ke rumah pelanggan, bisa sambil keliling kompleks perumahan untuk menjajakan krupuk kulit.

“Kalau di sini kan misalnya orang pijet jarang, sekarang ada pabrik krupuk, kita bisa dagang krupuk, ada kegiatan pagi-pagi bisa jalan, olahraga, kalau di kampung halaman kan paling diem di rumah mas.”

“Istilahnya orang hidup mah spekulasi mas, hidup kan permainan, kata Iwan fals.”

Catatan redaksi:
Jika teman-teman mempunyai kecenderungan untuk bunuh diri, segera hubungi dokter kesehatan jiwa di puskesmas terdekat atau rumah sakit terdekat. Sahabat sekalian juga bisa mengakses laman intothelightid.org untuk mendapatkan berbagai informasi menyangkut masalah kejiwaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cemburu Buta Berujung Bacok Pegawai Restoran di Tomang, Dua Pelaku Ditangkap

Cemburu Buta Berujung Bacok Pegawai Restoran di Tomang, Dua Pelaku Ditangkap

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 18:51 WIB

Andrie Yunus Nyaris Buta, Bakal Dikirim ke Profesor India yang Tangani Novel Baswedan

Andrie Yunus Nyaris Buta, Bakal Dikirim ke Profesor India yang Tangani Novel Baswedan

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 19:08 WIB

Kontroversi 'Totok Sirih' di Palembang, Ini Tahapan Pijat Bayi yang Benar Menurut IDAI

Kontroversi 'Totok Sirih' di Palembang, Ini Tahapan Pijat Bayi yang Benar Menurut IDAI

Lifestyle | Rabu, 29 April 2026 | 19:05 WIB

5 Mobil Listrik dengan Kursi Pijat, Perjalanan Jauh Anti Pegal

5 Mobil Listrik dengan Kursi Pijat, Perjalanan Jauh Anti Pegal

Otomotif | Jum'at, 24 April 2026 | 15:48 WIB

AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi

AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi

Health | Selasa, 21 April 2026 | 19:44 WIB

Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta: Menyelami Makna dari Cahaya yang Tak Terlihat

Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta: Menyelami Makna dari Cahaya yang Tak Terlihat

Your Say | Rabu, 01 April 2026 | 13:20 WIB

Sadis! Pasutri di Cirebon Habisi Nyawa Tukang Pijat Hamil 8 Bulan Demi Uang Rp83 Ribu

Sadis! Pasutri di Cirebon Habisi Nyawa Tukang Pijat Hamil 8 Bulan Demi Uang Rp83 Ribu

News | Selasa, 17 Maret 2026 | 16:55 WIB

Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan Tanpa Gejala, Ini Hal-Hal yang Perlu Diketahui

Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan Tanpa Gejala, Ini Hal-Hal yang Perlu Diketahui

Health | Selasa, 10 Maret 2026 | 23:22 WIB

Jelang Ramadan 1447 H, Kelab Malam hingga Panti Pijat di Jakarta Wajib Tutup Sementara

Jelang Ramadan 1447 H, Kelab Malam hingga Panti Pijat di Jakarta Wajib Tutup Sementara

News | Selasa, 17 Februari 2026 | 16:56 WIB

Transjakarta Minta Maaf atas Insiden Penumpang Tunanetra Jatuh, Janji Perketat SOP dan Pendampingan

Transjakarta Minta Maaf atas Insiden Penumpang Tunanetra Jatuh, Janji Perketat SOP dan Pendampingan

News | Rabu, 14 Januari 2026 | 15:39 WIB

Terkini

Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi

Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 21:15 WIB

Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir

Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 21:12 WIB

Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan

Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 20:46 WIB

Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda

Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 20:30 WIB

Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi

Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 20:21 WIB

Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan

Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:56 WIB

Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet

Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:30 WIB

Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan

Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 18:56 WIB

Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 18:30 WIB

'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama

'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 18:27 WIB