60 Orang Dikremasi Tiap Hari di India karena Lonjakan Kematian

Siswanto, BBC

Rabu, 21 April 2021 | 12:26 WIB
60 Orang Dikremasi Tiap Hari di India karena Lonjakan Kematian
BBC

Suara.com - Pengelola krematorium dan kuburan di India sedang kewalahan mengatasi lonjakan jumlah kematian akibat wabah virus corona di negara itu.

India kini menjadi negara kedua paling terdampak virus corona, mengambil alih posisi Brasil, dan sedang menghadapi gelombang kedua kasus Covid-19 yang mematikan.

"Tsunami Covid" menerjang negara itu, mengakibatkan rumah sakit kewalahan dengan hampir 1.000 kematian terkait Covid tercatat setiap harinya.

'Kami kremasi 50-60 orang per hari'

Di Maharashtra, negara bagian India yang terdampak parah akibat virus corona, banyak krematorium bekerja lembur untuk mengatasi lonjakan kematian.

"Hari masih siang dan kami telah melakukan kremasi 22 mayat," kata Varum Jangam, seorang pekerja di rumah duka milik pemerintah di kota Pune.

"Kami harus kremasi 50-60 mayat tiap harinya. Kami hanya memiliki enam lemari pendingin, tapi banyak sekali mayat yang dibawa ke sini. Orang-orang harus menunggu di luar bersama mayat kerabat mereka."

Varun menuturkan, kendati ia bekerja selama delapan jam dalam sehari, beban kerjanya sangat besar sehingga ia terpaksa bekerja lembur selama beberapa jam setelah sifnya usai.

Ia adalah satu dari segelintir pekerja yang mengenakan alat pelindung diri (APD) selama proses kremasi.

Di wilayah lain seperti Rajkot dan Gujarat, tempat kasus virus corona juga mengalami pelonjakan, mereka yang bekerja di krematorium pemerintah terpaksa mengkremasi korban Covid-19 tanpa mengenakan masker atau sarung tangan.

baca juga

Para pekerja mengatakan kepada BBC kadang kala mereka mendapatkan sarung tangan dari rumah sakit jika mereka bepergian dengan ambulans, namun sebalika, mereka tak memiliki alat pelindung yang layak.

Menurut kantor berita Reuters, sejumlah kota besar melaporkan jumlah kremasi dan penguburan dengan protokol virus corona yang jauh lebih besar ketimbang jumlah kematian resmi COVID-19.

Tungku gas dan kayu bakar di salah satu krematorium di negara bagian Gujarat, India barat, telah beoperasi begitu lama tanpa jeda selama pandemi COVID-19, sehingga bagian logam mulai meleleh.

'Dua belas jam' menunggu demi mayat kerabat

Namun, staf krematorium bukan satu-satunya yang menghadapi kesusahan dan ketidakberdayaan.

Setelah berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain mencoba untuk mendapatkan tempat tidur rumah sakit untuk orang yang mereka cintai, anggota keluarga dihadapkan pada penantian yang lama untuk agar mereka bisa dikremasi setelah kematian mereka.

Beberapa rumah sakit dilaporkan menunda penyerahan mayat karena betapa kewalahannya krematorium di negara tersebut.

Hemant Jadav, dari negara bagian Gujarat, berkata ia harus menunggu lebih dari 12 jam agar jenazah saudara laki-lakinya diserahkan oleh rumah sakit setelah kematiannya.

"Ketika kami berbicara dengan saudara saya via telepon, tampaknya kesehatannya membaik," tutur Hermant.

"Kami berpikir ia akan kembali sehat dan pulang ke rumah. Namun kami mendapat kabar dari rumah sakit yang memberi tahu bahwa ia meninggal."

Orang-orang diberi nomor token dan menunggu dalam antrian panjang di luar kamar mayat.

Shakti Lal Trivedi, yang baru-baru ini mengatur kremasi salah satu kerabatnya, mengatakan bahwa meski mendapat nomor token, gilirannya baru datang enam jam kemudian.

Mengapa situasinya begitu mengerikan?

India sedang dilanda gelombang kedua yang mematikan sejak awal April.

Negara itu melaporkan lebih dari 200.000 kasus harian sejak 15 April - jauh lebih tinggi dari puncak penambahan kasus harian tahun lalu, yang berkisar sekitar 93.000 kasus setiap hari.

Rumah sakit bekerja keras untuk mengakomodasi pasien yang dinyatakan positif Covid-19 di Delhi dan di kota lain yang terdampak parah seperti di Mumbai, Lucknow dan Ahmedabad.

Sejumlah wilayah melaporkan kekurangan tempat tidur di bangsal Covid dan ICU.

Bahkan, hasil pengetesan tertunda karena permintaan yang banyak, yang oleh para dokter disebut membuat banyak orang tidak didiagnosa dan tidak dirawat tepat waktu.

Para ahli mengungkapkan bahwa pemerintah India mengabaikan peringatan akan gelombang kedua dan hanya melakukan sedikit upaya untuk mencegah, bahkan mengatasinya.

Mereka merujuk pada pertandingan kriket yang dihadiri oleh banyak orang tanpa mengenakan masker, kampanye pemilu yang mengabaikan protokol Covid dan festival yang dihadiri oleh jutaan umat Hindu di tepi sungai Gangga awal bulan ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India

Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 21:54 WIB

Bom Waktu BLT India saat Pengangguran Anak Muda Makin Kronis

Bom Waktu BLT India saat Pengangguran Anak Muda Makin Kronis

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 13:47 WIB

Heboh Kereta Kuda Turis Central Park New York Mengamuk, Turis India Tewas Mengenaskan

Heboh Kereta Kuda Turis Central Park New York Mengamuk, Turis India Tewas Mengenaskan

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:32 WIB

Mengejutkan! India Blokir Telegram, Ada Apa?

Mengejutkan! India Blokir Telegram, Ada Apa?

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 13:31 WIB

Ulasan Film Main Vaapas Aaunga: Romantisme Pilu di Balik Tragedi Tahun 1947

Ulasan Film Main Vaapas Aaunga: Romantisme Pilu di Balik Tragedi Tahun 1947

Your Say | Selasa, 16 Juni 2026 | 11:10 WIB

Sinopsis Main Vaapas Aaunga, Film India Terbaru Diljit Dosanjh dan Sharvari

Sinopsis Main Vaapas Aaunga, Film India Terbaru Diljit Dosanjh dan Sharvari

Your Say | Senin, 15 Juni 2026 | 12:50 WIB

Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun

Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:19 WIB

Sinopsis Maa Behen, Film Terbaru Madhuri Dixit dan Triptii Dimri di Netflix

Sinopsis Maa Behen, Film Terbaru Madhuri Dixit dan Triptii Dimri di Netflix

Your Say | Kamis, 11 Juni 2026 | 11:25 WIB

Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam

Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam

Your Say | Rabu, 03 Juni 2026 | 18:09 WIB

10 Hari Jelang Kick-off Warga India Akhirnya Bisa Nonton Piala Dunia 2026 tapi...

10 Hari Jelang Kick-off Warga India Akhirnya Bisa Nonton Piala Dunia 2026 tapi...

Bola | Selasa, 02 Juni 2026 | 13:10 WIB

Terkini

Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen

Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:45 WIB

Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi

Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 20:05 WIB

Ribuan Taruna TNI-Polri Jadi Kakak Asuh Siswa di 178 Sekolah Rakyat

Ribuan Taruna TNI-Polri Jadi Kakak Asuh Siswa di 178 Sekolah Rakyat

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:55 WIB

833 ASN Pendamping PKH Punya Pekerjaan Sampingan, Kemensos Tagih Pengembalian Gaji Rp7,9 Miliar

833 ASN Pendamping PKH Punya Pekerjaan Sampingan, Kemensos Tagih Pengembalian Gaji Rp7,9 Miliar

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:53 WIB

Prabowo Bakal Resmikan B50 Pekan Depan

Prabowo Bakal Resmikan B50 Pekan Depan

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:53 WIB

PDIP: Prabowo Tahu Hukum Masih Dipakai untuk Kepentingan Politik, Rakyat Tunggu Perubahan

PDIP: Prabowo Tahu Hukum Masih Dipakai untuk Kepentingan Politik, Rakyat Tunggu Perubahan

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:40 WIB

Presiden Belarus Tawarkan Alih Teknologi Otomotif hingga Alat Berat untuk Indonesia

Presiden Belarus Tawarkan Alih Teknologi Otomotif hingga Alat Berat untuk Indonesia

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:40 WIB

Lagu Bupati Purwakarta 'Lalaki Langit' Berpotensi Langgar UU TPKS, Ancaman Hukuman 9 Bulan Penjara

Lagu Bupati Purwakarta 'Lalaki Langit' Berpotensi Langgar UU TPKS, Ancaman Hukuman 9 Bulan Penjara

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:29 WIB

Lagu Om Zein Dinilai Lecehkan Perempuan, Dianggap Humor Pun Tidak Lucu!

Lagu Om Zein Dinilai Lecehkan Perempuan, Dianggap Humor Pun Tidak Lucu!

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 19:17 WIB

ICW: Prabowo Menormalisasi Rangkap Jabatan lewat Pengangkatan Nanik S. Deyang Cs

ICW: Prabowo Menormalisasi Rangkap Jabatan lewat Pengangkatan Nanik S. Deyang Cs

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:26 WIB

×