Kisah Perempuan Aktivis Somalia Gagal Dibunuh, Kini Coba Dibungkam Lewat FB

Siswanto | BBC | Suara.com

Senin, 13 September 2021 | 13:37 WIB
Kisah Perempuan Aktivis Somalia Gagal Dibunuh, Kini Coba Dibungkam Lewat FB
BBC

Suara.com - "Kami tidak dapat membunuhmu di Somalia, dan sekarang kamu punya kebebasan di Inggris, sekarang kami akan membungkammu lewat Facebook."

Itu merupakan peringatan yang diterima aktivis pembela hak-hak perempuan Somalia yang sekarang tinggal di Inggris.

Hanna Paranta, yang dikenal sebagai Hanna Abubakar di dunia maya, membantu para penyintas pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga melalui halaman Facebooknya.

Ia mengatakan telah menerima panggilan telepon setahun lalu dari seseorang yang ikut menentang kampanyenya.

Baca juga:

Perempuan 44 tahun itu mengatakan, fungsi laporan terkait aktivitas di Facebook diciptakan untuk memastikan ruang aman internet yang bebas dari kekerasan, tapi sekarang kondisinya jadi terbalik.

Halaman Facebook-nya memiliki 130.000 pengikut, tapi dia meyakini bahwa sebagian orang Somalia yang menetang kesetaraan perempuan, telah melaporkan media sosialnya itu sebagai upaya untuk membekukan akunnya.

Facebook mengatakan setiap laporan diperlakukan dengan serius dan diselidiki.

Makanan beracun

Kini tinggal di Inggris, Paranta pindah dari Somalia ke Swedia saat berusia tujuh tahun. Di sana, dia memulai karir sebagai pekerja sosial, dan dalam satu dekade terakhir ia mendedikasikan diri sebagai pembela hak-hak perempuan.

Dia mulai menolong korban kekerasan dalam rumah tangga dan pemerkosaan di kalangan diaspora Somalia di Swedia.

Di Somalia, dia juga terlibat dalam pelbagai gerakan badan amal - kadang hal ini mengganggu kelompok konservatif di negara mayoritas Muslim tersebut.

Ketika dia pergi ke Somalia, dia selalu didampingi oleh pengawal pribadi untuk melindunginya. Dan, pada kunjungan terakhir September 2020, seseorang berusaha untuk meracuni makanannya di sebuah hotel di Kota Mogadishu.

Beruntung, berkat petunjuk yang diterima, dia tak jadi memakan hidangan tersebut. Tapi kemudian geng bersenjata berusaha untuk menculiknya - para pengawal priadinya turun tangan, dan geng bersenjata itu melarikan diri.

Setelah meninggalkan Somalia, datanglah panggilan telepon dan sejak itu halaman Facebooknya sering dinonaktifkan atau dibatasi oleh raksasa media sosial tersebut.

Dia meyakini, mereka yang sering menentangnya berada di balik laporan-laporan ini, yang menginginkan akunnya ditutup permanen.

Meskipun menghadapi persoalan dengan Facebook, menurutnya perusahaan ini tak mampu untuk mengidentifikasi dan mengatur laporan-laporan palsu tersebut.

Dan, menurut Paranta, dia telah menjadi korban serangan massal yang terkoordinasi.

Laporan palsu

"Saya mulai menghubungi Facebook di bulan Desember. Saya mengatakan semuanya kepada mereka. Bahwa kelompok ini ingin menutup halaman akun saya, dan mengirim ancaman kepada saya, tapi tak ada yang mendengarkan," kata Paranta.

Dia yakin, orang-orang di balik laporan ini "memiliki grup pesan Facebook lebih dari 300 anggota, di mana mereka menargetkan dan melaporkan orang".

Seorang simpatisan Paranta bergabung dengan grup ini, dan mengirimkan tangkapan layar dari percakapan di dalamnya.

Tangkapan layar ini - juga rincian tentang keluhannya telah dilaporkan ke kepolisian Inggris - yang kemudian dikirim ke Facebook.

Sejumlah tangkapan layar percakapan orang-orang ini terkait dengan keberhasilan mereka dalam membatasi halaman Facebook Paranta dan berencana untuk menghapus akun YouTube-nya.

Paranta sendiri kecewa, karena Facebook telah membekukan akunnya tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu atas laporan-laporan yang masuk.

Saat menghadapi Facebook pun membuatnya frustasi: kerap dilempar ke departemen lainnya, atau dibiarkan berkomunikasi dengan pesan otomatis (bots).

Setelah BBC menghubungi Facebook untuk menanggapi tuduhan itu, Paranta mengatakan sejumlah pembatasan dalam halaman akunnya mulai dicabut beberapa bulan lalu, seperti fitur siaran-langsung atau live streaming.

Seorang juru bicara Facebook mengatakan, saat diskusi kritis diizinkan, pihaknya tidak membiarkan orang untuk melakukan "penyalahgunaan atau pelecehan" terhadap orang lain di Facebook.

"Kami menghapus konten kekerasan yang melanggar dalam aspek perhatian kami, dan penyelidikan kami tidak menemukan batasan dalam akun aktivis yang bersangkutan."

Perempuan-perempuan yang dipelihara


Amina Musse Wehelie, jurnalis dan pegiat kesehatan mental, menemukan ada seorang figur berpengaruh di Somalia yang menyokong kelompok-kelompok penggugat itu ke Facebook.

Bersama sejumlah laki-laki Somalia lainnya, pria itu telah "memelihara" para penggugat itu di diaspora dan mengerahkan mereka untuk memerangi para aktivis perempuan, ujar Wehelie.

"Mereka menghubungi ibu-ibu yang tidak punya pekerjaan atau tidak punya kerabat dekat - para perempuan yang sendirian dan merasa sangat jauh dari negeri mereka [Somalia].

"Mereka lantas bilang kepada ibu-ibu itu bahwa mereka 'bisa berbuat apa saja' dan mereka itu 'spesial.' Setelah itu para perempuan tersebut dibujuk untuk bekerja sama dengan mereka dan mendapat ditawari imbalan."

Maka muncul kampanye negatif dengan menyebarkan kabar-kabar bohong di media sosial atas para aktivis Somalia - dan serangan itu kian brutal terhadap Paranta dalam beberapa bulan terakhir.

"Pemimpin geng itu awalnya mengatakan bahwa saya menyelundupkan organ-organ tubuh.

"Lalu dia menuduh saya menjual para perempuan Somalia sebagai pekerja seks dan kini dia menuding saya berupaya membuat orang-orang Somalia pindah agama jadi umat Kristen," ujarnya.

Propaganda seperti ini membuat makin banyak yang melaporkan Paranta di Facebook, seakan-akan dia adalah seorang kriminal, dan itu kian menyulitkan dia untuk bekerja.

Bagi Wehelie dan Paranta, bahasa adalah alasan utama mengapa Facebook tidak menginvestigasi laporan-laporan palsu itu - dan mereka merasa tidak dianggap serius karena merupakan perempuan dari komunitas Somalia.

"Pandangan saya adalah saat orang-orang ini menggunakan bahasa mereka, Facebook tidak mengerti," kata Wehelie, yang menduga fungsi translasi di Facebook untuk Bahasa Somalia tidak berjalan baik.

Jurnalis itu yakin bahwa jalan keluarnya adalah Facebook perlu mempekerjakan lebih banyak orang Somalia untuk melakukan penerjemahan.

Sedangkan Paranta khawatir halamannya di Facebook akan terus jadi sasaran dan orang-orang yang dia tolong justru tidak akan punya siapa-siapa lagi untuk diandalkan.

Layla Mahmood merupakan reporter investigasi yang berbasis di London.


Anda mungkin juga tertarik dengan tayangan berikut ini:


Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketika Penolakan Berujung Tragedi: Budaya Kita yang Salah?

Ketika Penolakan Berujung Tragedi: Budaya Kita yang Salah?

Your Say | Minggu, 22 Maret 2026 | 16:25 WIB

Hak Korban Kekerasan Seksual Terabaikan, LBH APIK Kritik Penerapan RJ dan Pemotongan Anggaran

Hak Korban Kekerasan Seksual Terabaikan, LBH APIK Kritik Penerapan RJ dan Pemotongan Anggaran

News | Rabu, 04 Maret 2026 | 19:03 WIB

Tubuh, Lingkungan, dan Hak Perempuan Jadi Sorotan Women's March Jakarta 2025

Tubuh, Lingkungan, dan Hak Perempuan Jadi Sorotan Women's March Jakarta 2025

News | Jum'at, 26 September 2025 | 15:48 WIB

Daster Bukan Simbol Kemalasan: Membaca Ulang Makna Pakaian Perempuan

Daster Bukan Simbol Kemalasan: Membaca Ulang Makna Pakaian Perempuan

Your Say | Sabtu, 07 Juni 2025 | 18:46 WIB

EIGER Women Rayakan Hari Perempuan Internasional di Tiga Kota, Berbagi: Dari  Perempuan Untuk Perempuan

EIGER Women Rayakan Hari Perempuan Internasional di Tiga Kota, Berbagi: Dari Perempuan Untuk Perempuan

News | Senin, 10 Maret 2025 | 22:26 WIB

Dari 18 ke 9 Tahun, Usia Nikah di Irak Picu Kemarahan Dunia soal Hak-hak Perempuan

Dari 18 ke 9 Tahun, Usia Nikah di Irak Picu Kemarahan Dunia soal Hak-hak Perempuan

News | Senin, 11 November 2024 | 12:44 WIB

Donald Trump Menang Pilpres AS, Sederet Pesohor Khawatirkan Hak-Hak Perempuan Dirampas

Donald Trump Menang Pilpres AS, Sederet Pesohor Khawatirkan Hak-Hak Perempuan Dirampas

Entertainment | Sabtu, 09 November 2024 | 08:00 WIB

Toyor Kepala Istri Termasuk Kekeraaan, Perempuan Punya Hak Tentukan Batasan Aman dan Nyaman

Toyor Kepala Istri Termasuk Kekeraaan, Perempuan Punya Hak Tentukan Batasan Aman dan Nyaman

News | Selasa, 08 Oktober 2024 | 11:21 WIB

Musik Haram, Wanita Terkekang: Taliban Terbitkan 'Undang-Undang Moral', Picu Kemarahan Aktivis HAM

Musik Haram, Wanita Terkekang: Taliban Terbitkan 'Undang-Undang Moral', Picu Kemarahan Aktivis HAM

News | Sabtu, 24 Agustus 2024 | 17:01 WIB

Kimberly Ryder Cuma Tuntut Nafkah Rp5 Ribu ke Edward Akbar, Ketahui Apa Saja Hak Perempuan Pasca Perceraian

Kimberly Ryder Cuma Tuntut Nafkah Rp5 Ribu ke Edward Akbar, Ketahui Apa Saja Hak Perempuan Pasca Perceraian

Lifestyle | Kamis, 08 Agustus 2024 | 11:56 WIB

Terkini

Sapu Jalan Berujung Maut: Petugas PPSU Tewas Ditabrak Mobil Oleng di Pejaten

Sapu Jalan Berujung Maut: Petugas PPSU Tewas Ditabrak Mobil Oleng di Pejaten

News | Kamis, 16 April 2026 | 21:26 WIB

Petani Tembakau Madura Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Rokok Ilegal

Petani Tembakau Madura Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Rokok Ilegal

News | Kamis, 16 April 2026 | 21:20 WIB

DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH

DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH

News | Kamis, 16 April 2026 | 21:03 WIB

Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah

Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah

News | Kamis, 16 April 2026 | 20:56 WIB

Aksi Kamisan ke-904 Soroti Militerisasi Sipil: Impunitas Masih Berulang

Aksi Kamisan ke-904 Soroti Militerisasi Sipil: Impunitas Masih Berulang

News | Kamis, 16 April 2026 | 20:41 WIB

Tim Advokasi Minta MK Batalkan Pasal Kontroversial UU TNI, Soroti Ruang Sipil dan Impunitas

Tim Advokasi Minta MK Batalkan Pasal Kontroversial UU TNI, Soroti Ruang Sipil dan Impunitas

News | Kamis, 16 April 2026 | 20:00 WIB

Cueki Permintaan Trump, Presiden Lebanon Ogah Bicara dengan Benjamin Netanyahu

Cueki Permintaan Trump, Presiden Lebanon Ogah Bicara dengan Benjamin Netanyahu

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:56 WIB

Gelar KWP Awards 2026, Ariawan: Pers dan Parlemen Wajib Kolaborasi untuk Negara

Gelar KWP Awards 2026, Ariawan: Pers dan Parlemen Wajib Kolaborasi untuk Negara

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:51 WIB

Mengenal Piramida Budaya Perkosaan: Dari Obrolan Digital hingga Kekerasan Nyata

Mengenal Piramida Budaya Perkosaan: Dari Obrolan Digital hingga Kekerasan Nyata

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:51 WIB

Pentagon Panaskan Mesin Perang, Negosiasi AS-Iran Terancam Kolaps

Pentagon Panaskan Mesin Perang, Negosiasi AS-Iran Terancam Kolaps

News | Kamis, 16 April 2026 | 19:42 WIB