Eks Pegawai: Facebook Merugikan Anak-anak dan Memicu Perpecahan

Reza Gunadha | BBC | Suara.com

Rabu, 06 Oktober 2021 | 13:28 WIB
Eks Pegawai: Facebook Merugikan Anak-anak dan Memicu Perpecahan
Ilustrasi Facebook (Unsplash)

Suara.com - Mantan pegawai Facebook mengatakan kepada Senat AS bahwa laman serta aplikasi perusahaan tersebut "merugikan anak-anak, memicu perpecahan, dan melemahkan demokrasi kita".

Frances Haugen (37), mantan manajer produksi Facebook yang menjadi whistleblower alias pelapor pelanggaran, mengkritik keras perusahaan tersebut dalam sebuah dengar pendapat di Capitol Hill.

Facebook telah menghadapi pengawasan yang terus meningkat dan tuntutan yang terus bertambah terkait regulasinya.

Sebagai pendiri dan CEO Facebook, Mark Zuckerberg membalas kritikan itu, dengan menyebutnya sebagai "gambaran palsu" dari perusahaannya

Dalam sepucuk surat kepada anak buahnya, dia mengatakan banyak klaim "tidak masuk akal".

Dia kemudian merujuk pada upayanya dalam memerangi konten berbahaya, menerapkan transparansi, dan menciptakan "riset mendalam guna mengatasi masalah-masalah penting ini".

"Kami sangat peduli dengan isu-isu seperti keselamatan, kesejahteraan dan kesehatan mental," katanya dalam sebuah surat yang dipublikasikan di halaman Facebook-nya.

"Sulit untuk melihat adanya penilaian yang tidak tepat dalam menggambarkan pekerjaan dan tujuan kami."

Facebook adalah situs media sosial terpopuler di dunia.

Perusahaan ini mengatakan mereka memiliki 2,7 miliar pengguna aktif setiap bulan.

Ratusan juta orang juga menggunakan produk perusahaan lainnya, termasuk WhatsApp dan Instagram.

Tetapi semuanya tidak luput dati kritik, mulai dianggap gagal melindungi privasi penggunanya hingga tidak melakukan cukup banyak upaya untuk menghentikan penyebaran disinformasi.

Haugen mengatakan kepada CBS News pada Minggu bahwa dia sudah membagikan sejumlah dokumen internal Facebook kepada Wall Street Journal dalam beberapa pekan terakhir.

Dengan menggunakan dokumen tersebut, WSJ melaporkan bahwa penelitian yang dilakukan atas Instagram menunjukkan bahwa aplikasi tersebut dapat membahayakan kesehatan mental anak-anak perempuan.

Hal itu adalah tema yang dilanjutkan Haugen selama kesaksiannya pada Selasa.

"Kepemimpinan perusahaan tahu bagaimana membuat Facebook dan Instagram lebih aman, tetapi tidak akan membuat perubahan yang diperlukan karena mereka telah menempatkan keuntungan mereka setinggi langit di atas kepentingan masyarakat," ujarnya.

Dia mengkritik Mark Zuckerberg karena memiliki kendali luas, dengan mengatakan bahwa "tidak ada orang yang saat ini meminta pertanggungjawaban Mark selain dirinya sendiri."

Dan dia merasa bersyukur atas gangguan pada layanan Facebook pada hari Senin, yang mempengaruhi para penggunanya di seluruh dunia.

"Kemarin kami melihat Facebook mengalami gangguan dan tak bisa diakses," katanya.

"Saya tidak tahu mengapa itu terjadi, tetapi saya tahu bahwa selama lebih dari lima jam, Facebook tidak digunakan untuk memperparah perpecahan, mengacaukan demokrasi, dan membuat remaja putri dan kaum perempuan merasa buruk tentang tubuhnya."

Jawabannya, katanya kepada para senator, adalah pengawasan kongres. "Kita harus bertindak sekarang," katanya.

Zuckerberg, dalam suratnya, mengatakan penelitian tentang Instagram telah disalahartikan dan banyak anak muda memiliki pengalaman positif menggunakan platform tersebut.

Tapi dia berkata "sangat penting bagi saya bahwa segala sesuatu yang kita bangun aman dan baik untuk anak-anak".

Perihal gangguan teknis pada hari Senin, dia mengatakan bahwa kekhawatiran yang lebih mendalam bukanlah "berapa banyak orang yang beralih ke layanan kompetitif atau berapa banyak uang yang hilang, tetapi apa artinya bagi orang-orang yang mengandalkan layanan kami untuk berkomunikasi dengan orang yang dicintai, menjalankan bisnisnya, atau mendukung komunitas mereka".

Baik senator Republik dan Demokrat pada Selasa bersepakat bahwa dibutuhkan perubahan pada perusahaan terserbut - hal yang langka antara kedua partai politik tersebut.

"Kerusakan kepentingan pribadi dan harga diri yang ditimbulkan oleh Facebook saat ini akan menghantui satu generasi," kata Senator Demokrat, Richard Blumenthal.

"Big Tech sekarang menghadapi momen kebenaran yang mengejutkan dari perusahaan raksasa tembakau," tambahnya, merujuk pada bagaimana perusahaan tembakau menyembunyikan efek berbahaya dari produknya.

Rekannya dari Republik, Dan Sullivan mengatakan dunia akan melihat ke belakang dan bertanya, "apa yang kita pikirkan?" mengingat pengungkapan tentang dampak Facebook pada anak-anak.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah rapat dengar pendapat ini, Facebook mengatakan pihaknya tidak setuju dengan "karakterisasi Haugen atas banyak isu yang dia ungkapkan".

Tapi Facebook setuju bahwa "sudah saatnya mulai membuat aturan standar di dunia internet."

"Sudah 25 tahun sejak aturan mengenai internet diperbarui, dan alih-alih mengharapkan industri membuat keputusan sosial yang menjadi milik legislator, sekarang saatnya Kongres bertindak," demikian bunyi pernyataan itu.


Akhirnya politikus Republik dan Demokrat bersepakat

Akhirnya, Partai Republik dan Demokrat di Kongres memiliki sesuatu yang dapat mereka setujui - Facebook dan ancaman yang diyakini akan ditimbulkan.

Selama kesaksian pelapor yang dilindungi (whistleblower) Frances Haugen pada Selasa, para senator di sisi kiri dan kanan menyatakan keprihatinan bahwa raksasa media sosial itu terlalu besar dan terlalu kuat.

Mereka memiliki contoh yang berbeda dalam pikiran, tentu saja.

Politikus Partai Demokrat, Amy Klobuchar, khawatir bahwa algoritme perusahaan mempromosikan jenis pandangan ekstremis yang memicu serangan 6 Januari di US Capitol.

Adapun politikus Ted Cruz dari Partai Republik menyoroti apa yang dia lihat sebagai penyensoran atas sudut pandang konservatif oleh Facebook.

Lainnya fokus pada bukti bahwa Facebook mengabaikan penelitiannya sendiri bahwa Instagram berdampak buruk pada kesehatan mental gadis remaja.

Harapan terbaik Facebook pada saat ini mungkin adalah bahwa lawan-lawan mereka terpecah belah tentang tindakan terbaik untuk mengatasi masalah ini; bahwa gravitasi politik, pada akhirnya, menegaskan kembali dirinya sendiri.

Para pimpinan Facebook memiliki waktu terbatas untuk merespons penilaian para anggota Senat.

Namun apabila mereka ingin menghindari konsensus politik yang menjadi jawaban atas masalah Facebook sama dengan yang diterapkan pada kasus Bell telephone pada 1980-an.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mark Zuckerberg Merespons Tuduhan Facebook Prioritaskan Keuntungan

Mark Zuckerberg Merespons Tuduhan Facebook Prioritaskan Keuntungan

Tekno | Rabu, 06 Oktober 2021 | 13:04 WIB

Facebook Diterpa Isu Abaikan Kesehatan Mental Remaja, Zuck Beri Tanggapan

Facebook Diterpa Isu Abaikan Kesehatan Mental Remaja, Zuck Beri Tanggapan

Bisnis | Rabu, 06 Oktober 2021 | 10:48 WIB

Ungkap Bobrok Facebook, Frances Haugen: Menyebabkan Kekerasan Etnis di Seluruh Dunia

Ungkap Bobrok Facebook, Frances Haugen: Menyebabkan Kekerasan Etnis di Seluruh Dunia

Jogja | Selasa, 05 Oktober 2021 | 18:46 WIB

Ambyar! Hitungan Jam, Mark Zuckerberg Rugi Rp 99,7 Triliun

Ambyar! Hitungan Jam, Mark Zuckerberg Rugi Rp 99,7 Triliun

Tekno | Selasa, 05 Oktober 2021 | 16:35 WIB

Facebook Minta Maaf Tapi Enggan Umumkan Penyebab Gangguan, Pakar Keamanan Ungkap Ini

Facebook Minta Maaf Tapi Enggan Umumkan Penyebab Gangguan, Pakar Keamanan Ungkap Ini

Sulsel | Selasa, 05 Oktober 2021 | 15:30 WIB

FB, WA, dan Instagram Berfungsi Lagi Setelah Gangguan, Apa Sebabnya?

FB, WA, dan Instagram Berfungsi Lagi Setelah Gangguan, Apa Sebabnya?

News | Selasa, 05 Oktober 2021 | 12:51 WIB

Bikin Heboh! Facebook, WhatsApp, dan Instagram Sempat Tumbang di Seluruh Dunia

Bikin Heboh! Facebook, WhatsApp, dan Instagram Sempat Tumbang di Seluruh Dunia

Your Say | Selasa, 05 Oktober 2021 | 12:31 WIB

WhatsApp Down, Pengguna Ramai-ramai Beralih ke Telegram dan Signal

WhatsApp Down, Pengguna Ramai-ramai Beralih ke Telegram dan Signal

Tekno | Selasa, 05 Oktober 2021 | 12:25 WIB

Terkini

Kasus Pelecehan Syekh AM: Komisi III DPR Gelar Rapat Tertutup, Khawatir Pelaku Kabur ke Mesir

Kasus Pelecehan Syekh AM: Komisi III DPR Gelar Rapat Tertutup, Khawatir Pelaku Kabur ke Mesir

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:59 WIB

Gempa M 7,6 Guncang Bitung, Kepala BNPB Langsung Terbang ke Sulawesi Utara Siang Ini

Gempa M 7,6 Guncang Bitung, Kepala BNPB Langsung Terbang ke Sulawesi Utara Siang Ini

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:55 WIB

BRIN Kembangkan Teknologi Nuklir untuk Bersihkan Air dari Logam Berat

BRIN Kembangkan Teknologi Nuklir untuk Bersihkan Air dari Logam Berat

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:50 WIB

Jadi Kurir Sabu 1 Kg di Pasar Senen, Pria di Jakpus Terancam Penjara Usai Diupah Rp20 Juta

Jadi Kurir Sabu 1 Kg di Pasar Senen, Pria di Jakpus Terancam Penjara Usai Diupah Rp20 Juta

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:48 WIB

Presiden Iran Sebut Amerika Serikat Ciptakan Musuh Palsu Demi Kendali Pasar Strategis Global

Presiden Iran Sebut Amerika Serikat Ciptakan Musuh Palsu Demi Kendali Pasar Strategis Global

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:46 WIB

Bumerang Perangi Iran: Israel Terancam Kehilangan Miliaran Dolar Akibat Manuver Turki

Bumerang Perangi Iran: Israel Terancam Kehilangan Miliaran Dolar Akibat Manuver Turki

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:41 WIB

Bima Arya Ingatkan Praja Pratama IPDN Jaga Konsistensi Kinerja Pengabdian di Aceh Tamiang

Bima Arya Ingatkan Praja Pratama IPDN Jaga Konsistensi Kinerja Pengabdian di Aceh Tamiang

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:41 WIB

KPK Sita Uang Ratusan Juta di Rumah Ono Surono, Buntut Kasus Suap Bupati Bekasi Ade Kunang

KPK Sita Uang Ratusan Juta di Rumah Ono Surono, Buntut Kasus Suap Bupati Bekasi Ade Kunang

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:30 WIB

Bina Marga Jaksel Perbaiki Jalan Berlubang di Ragunan, Warga: Mudah-mudahan Bertahan Lama

Bina Marga Jaksel Perbaiki Jalan Berlubang di Ragunan, Warga: Mudah-mudahan Bertahan Lama

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:27 WIB

Tak Bisa Hadir Jadi Saksi Kasus Ijazah Jokowi, Aiman Witjaksono Utus Tim Legal Temui Penyidik Polda

Tak Bisa Hadir Jadi Saksi Kasus Ijazah Jokowi, Aiman Witjaksono Utus Tim Legal Temui Penyidik Polda

News | Kamis, 02 April 2026 | 13:27 WIB