Warna Asli Matahari: Kalau Memang Tidak Kuning, Lantas Apa?

Siswanto, BBC

Rabu, 06 Oktober 2021 | 18:49 WIB
Warna Asli Matahari: Kalau Memang Tidak Kuning, Lantas Apa?
BBC

Suara.com - Sejak kecil, kita telah belajar memilih warna kuning untuk menggambar Matahari.

Lalu, menambahkan sedikit warna jingga atau merah jika mengilustrasikan momen matahari terbit atau terbenam.

Tetapi bintang di pusat tata surya kita itu sebenarnya tidak hanya berwarna kuning, jingga, atau merah saja.

Tapi gabungan semua warna ini bersama-sama, dan banyak lagi.

Matahari memancarkan cahaya dalam spektrum warna yang berkesinambungan.

Baca juga:

Jika melihat melalui prisma, Anda akan melihat sinar Matahari dibagi menjadi merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, hingga ungu.

Ini semua adalah warna dalam spektrum yang terlihat, seperti dalam pelangi.

Faktanya, pelangi adalah bagaimana sinar Matahari yang terlihat oleh mata ketika melewati tetesan air di atmosfer, yang bertindak seperti prisma kecil.

baca juga

Kami berharap melalui artikel ini dapat memperluas informasi bintang kita yang mempesona, tetapi harap diingat bahwa Anda tidak boleh melihat Matahari secara langsung - maupun tidak langsung dengan menggunakan teleskop atau teropong - karena ini dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada penglihatan hingga menyebabkan kebutaan.

Namun, meskipun Matahari multi-warna terlihat cerah, itu tidak sepenuhnya benar.

Ketika semua warna cahaya yang dipancarkan Matahari dicampur, kita hanya mendapatkan satu warna.

Jika kita ingin tahu apa itu, ada petunjuk di langit.

Awan halus di atas sana, yang memantulkan sinar Matahari kepada kita, tidak berwarna kuning atau warna lain.

Mereka berwarna putih karena itulah warna sebenarnya yang dipancarkan Matahari.

Mengapat terlihat seperti kuning?

Setiap warna dalam spektrum Matahari memiliki panjang gelombang yang berbeda.

Di salah satu ujungnya berwarna merah, yang memiliki panjang gelombang terpanjang.

Kemudian warna memendek dalam panjang gelombang, turun dari merah ke jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ke ungu, warna dengan panjang gelombang terpendek pada spektrum.

Foton (partikel elementer) pada warna dalam panjang gelombang yang lebih pendek terlihat menyebar dan tidak beratur di atmosfer, dibandingkan gelombang yang lebih panjang.

Di ruang angkasa, di mana cahaya bergerak tanpa hambatan, tidak ada yang mendistorsi foton, dan Matahari muncul sebagai bola cahaya putih, 'warna asli' bintang kita.

Namun, ketika sinar matahari melewati atmosfer bumi, molekul di udara mendistorsi foton dengan panjang gelombang yang lebih pendek.

Warna pada spektrum dengan gelombang yang lebih panjang mencapai mata kita dengan lebih mudah.

"Atmosfer menghalangi bagian paling energik dari spektrum cahaya, yang sesuai dengan ultraviolet dan zona biru," jelas Angel Molina, yang menjalankan situs bernama The Astronomer's Diary.

"Jadi, seperti bola lampu yang hangat, Matahari terlihat di Bumi tanpa warna dingin, yang dihilangkan oleh atmosfer. Ia memperoleh warna yang lebih hangat, cenderung ke nada kuning."

Tetapi mengapa dalam rona kuning, dan bukan merah atau jingga, yang panjang gelombangnya bahkan lebih panjang?

Gonzalo Tancredi, yang mengajar astronomi di Universitas Republik di Uruguay, mengatakan kepada BBC bahwa sinar Matahari berada di tengah spektrum warna, yaitu kuning, setelah warna dengan panjang gelombang yang lebih pendek dari hijau ke ungu diserap.

Apakah matahari berwarna hijau?

Anda mungkin pernah menemukan tulisan di internet atau unggahan di media sosial yang mengeklaim bahwa Matahari sebenarnya berwarna hijau.

Gonzalo Tancredi mengatakan pendapat itu berasal dari fakta bahwa jika kita membuat grafik berwarna dari spektrum Matahari, maka akan tampak seperti gunung dengan puncaknya di zona hijau.

Mata manusia tidak dapat membedakan antara warna radiasi Matahari, tetapi ada instrumen yang dapat membedakannya, dan mereka mendeteksi warna hijau sebagai yang paling intens.

"Tapi begitu kita menghilangkan panjang gelombang yang lebih pendek, seperti biru, dari grafik itu, puncaknya akan berpindah ke warna kuning," kata Gonzalo Tancredi.

"Detail ini juga membantu menjelaskan mengapa kita melihat Matahari kuning di Bumi."

Mengapa matahari terbenam berwarna merah?

Ketika Matahari terbit atau terbenam, ia berada pada titik terdekatnya dengan cakrawala, yang membuat sinar matahari melewati lebih banyak molekul atmosfer.

Hal ini menyebabkan distorsi warna kebiruan yang lebih besar, memungkinkan warna merah dan jingga dalam gelombang yang lebih panjang mendominasi penampilan Matahari.

Bahkan, fenomena tersebut memiliki nama, yaitu hamburan Rayleigh, dinamai menurut fisikawan Inggris abad ke-19 Lord Rayleigh.

Saat Matahari bergerak di langit, sudutnya ke Bumi terus berubah, memberikan warna yang berbeda pada waktu yang berbeda dalam sehari, termasuk pemandangan Matahari terbenam berwarna merah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Sinar Matahari Menjadi Sumber Energi Utama dalam Ekosistem?

Mengapa Sinar Matahari Menjadi Sumber Energi Utama dalam Ekosistem?

Tekno | Kamis, 08 Oktober 2026 | 16:08 WIB

Bahan Aktif Skincare Apa yang Paling Cepat Memudarkan Flek Hitam?

Bahan Aktif Skincare Apa yang Paling Cepat Memudarkan Flek Hitam?

Lifestyle | Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Dokter Sarankan Tetap Pakai Sunscreen Meski di Dalam Ruangan, Ini Alasannya

Dokter Sarankan Tetap Pakai Sunscreen Meski di Dalam Ruangan, Ini Alasannya

Lifestyle | Senin, 05 Oktober 2026 | 12:45 WIB

Jangan Dibiarkan, Ini 7 Cara Mengatasi Kulit Wajah Memerah dan Terbakar Matahari

Jangan Dibiarkan, Ini 7 Cara Mengatasi Kulit Wajah Memerah dan Terbakar Matahari

Lifestyle | Kamis, 01 Oktober 2026 | 13:01 WIB

AS dan Eropa Mau Rekayasan Iklim Global, Kurangi Sinar Matahari Jatuh ke Bumi

AS dan Eropa Mau Rekayasan Iklim Global, Kurangi Sinar Matahari Jatuh ke Bumi

News | Kamis, 24 September 2026 | 14:28 WIB

Apakah Krim Malam Boleh Dipakai Saat Tidur Siang atau Kerja Shift Malam? Ini Penjelasan Dokter

Apakah Krim Malam Boleh Dipakai Saat Tidur Siang atau Kerja Shift Malam? Ini Penjelasan Dokter

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 13:41 WIB

Azarine Gandeng Nailoong Ajak Masyarakat Lepas Penat di Tengah Paparan Sinar Matahari

Azarine Gandeng Nailoong Ajak Masyarakat Lepas Penat di Tengah Paparan Sinar Matahari

Lifestyle | Sabtu, 12 September 2026 | 19:30 WIB

Mengenal Efek Fotovoltaik, Cara Kerja Panel Surya Mengubah Sinar Matahari Jadi Listrik

Mengenal Efek Fotovoltaik, Cara Kerja Panel Surya Mengubah Sinar Matahari Jadi Listrik

Tekno | Kamis, 10 September 2026 | 12:47 WIB

4 Cara Mencegah Bintik Freckles Bertambah Banyak dan Makin Gelap, Sunscreen Saja Tak Cukup

4 Cara Mencegah Bintik Freckles Bertambah Banyak dan Makin Gelap, Sunscreen Saja Tak Cukup

Lifestyle | Kamis, 10 September 2026 | 11:31 WIB

Dampak Badai Matahari, Sinyal GPS di Bumi Alami Gangguan Presisi

Dampak Badai Matahari, Sinyal GPS di Bumi Alami Gangguan Presisi

Tekno | Senin, 07 September 2026 | 18:05 WIB

Terkini

Bank Danamon-MUFG Merger, Bagaimana Nasib Nasabah?

Bank Danamon-MUFG Merger, Bagaimana Nasib Nasabah?

Bisnis | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 05:50 WIB

Roemah Umara Kenalkan Ballroom Berkapasitas 600 Orang di Jakarta

Roemah Umara Kenalkan Ballroom Berkapasitas 600 Orang di Jakarta

Foto | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Rayakan 10 Tahun di Indonesia, Big Bad Wolf Kembali Hadir 24 Jam di ICE BSD

Rayakan 10 Tahun di Indonesia, Big Bad Wolf Kembali Hadir 24 Jam di ICE BSD

Lifestyle | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 00:03 WIB

Spill Lagunya di SNADA Indonesia 2026, Anggun Dukung Inisiatif Sosial 3T: Mereka Tidak Sendiri

Spill Lagunya di SNADA Indonesia 2026, Anggun Dukung Inisiatif Sosial 3T: Mereka Tidak Sendiri

Entertainment | Kamis, 08 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Rumah Perwira TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Rumah Perwira TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Video | Kamis, 08 Oktober 2026 | 23:05 WIB

RUU Pemilu 2029 Mulai Dibahas, DPR Buka Pintu Masukan Publik

RUU Pemilu 2029 Mulai Dibahas, DPR Buka Pintu Masukan Publik

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Imigrasi Sumut Petakan Risiko Hukum Penanganan Pengungsi

Imigrasi Sumut Petakan Risiko Hukum Penanganan Pengungsi

Sumut | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Reses Bukan Hambatan DPR Tindaklanjuti Putusan MK soal Gibran

Reses Bukan Hambatan DPR Tindaklanjuti Putusan MK soal Gibran

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:53 WIB

2.399 Unit Huntap untuk Korban Bencana di Aceh Tamiang Ditargetkan Rampung 2026

2.399 Unit Huntap untuk Korban Bencana di Aceh Tamiang Ditargetkan Rampung 2026

Sumut | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kebakaran di Kawasan Pemukiman Padat Penduduk Kramat Pulo, 30 Mobil Damkar Dikerahkan

Kebakaran di Kawasan Pemukiman Padat Penduduk Kramat Pulo, 30 Mobil Damkar Dikerahkan

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:42 WIB

×