Banyak Perusahaan Raksasa Bermimpi Mendulang Emas di Pasar China, Kini Mereka Pergi dengan Tangan Hampa

Siswanto, ABC

Jum'at, 15 Juli 2022 | 11:58 WIB
Banyak Perusahaan Raksasa Bermimpi Mendulang Emas di Pasar China, Kini Mereka Pergi dengan Tangan Hampa
Ilustrasi Chinatown Food Street Singapura (Unsplash @lvnatikk)

Amazon ternyata bukan satu-satunya raksasa teknologi AS yang akan hengkangdari China.

AirBnB juga akan hengkang

Pada bulan Mei, salah satu pendiri Airbnb, Nathan Biecharczyk, mengatakan dalam postingannya di media sosial WeChat bahwa perusahaan itu akan menutup bisnis domestiknya pada 30 Juli. Mereka, katanya, akan fokus pada perjalanan keluar dari China sebagai gantinya.

Implikasi keputusan ini menyebabkan AirBnB akan menghapus 150.000 tempat tinggal terdaftar di China.

Pada tahun 2020, Biecharczyk menyatakan China akan menjadi yang terbesar di Airbnb.

Keputusan Kindle dan Airbnb ini menyusul keputusan perusahaan teknologi AS sebelumnya, termasuk Yahoo dan LinkedIn Microsoft, yang telah menghentikan layanan mereka dari China.Google bahkan telah keluar dari negara itu pada tahun 2010.

Perusahaan raksasa AS di luar bidang teknologi kabarnya sedang memikirkan kembali produk digital merekadi China saat ini.

Pada bulan Juni, misalnya, merek pakaian Nike mengumumkan konsumen China akan kehilangan akses ke aplikasi Runner Club-nya, yang memungkinkan pengguna untuk melacak aktivitas olahraga mereka dan berbagi data dengan teman-teman mereka.

Perusahaan itu mengatakan kepada stasiun TV CNN bahwa mereka masih akan berinvestasi dalam mengembangkan platform digital di China, dan akan meluncurkan platform "lokal" untuk para olahragawan China di masa depan.

Tertekan oleh peraturan yang kian ketat

Karena semakin banyak merek teknologi Barat meninggalkan China, sejumlah pengamat menyebut adanya dua undang-undang keamanan data negara itu sebagai faktor penyebab.

Keduanya mulai berlaku pada tahun 2021, yaitu UU Keamanan Data Negara dan UU Perlindungan Informasi Pribadi yang membatasi perusahaan dan individu untuk mentransfer data yang dihasilkan di China ke luar negeri.

Undang-undang tersebut juga mewajibkan perusahaan asing untuk melokalkan penyimpanan data mereka dan mematuhi pemeriksaan dari regulator pemerintah.

Artinya, Pemerintah China akan dapat mengakses data pengguna melalui perusahaan media sosial milik China seperti TikTok.

"

Pekan ini, TikTok mengakui data pengguna Australia dapat diakses di China, tapi menyatakan: "Kami tidak pernah memberikan data pengguna Australia kepada pemerintah China ... dan tidak akan memberikannya jika kami diminta."

"

Kendra Schaefer, konsultan dari Trivium China yang berbasis di Beijing, mengatakan upaya pengetatan peraturan telah memaksa beberapa perusahaan teknologi untuk melepaskan fitur yang dulunya menjadi sumber keuntungan mereka.

Laporan Dewan Bisnis AS-China pada bulan April menunjukkan 81 persen perusahaan AS yang disurvei khawatir tentang kebijakan keamanan data China.

Kendra Schaefer menyebutkan selain UU keamanan data, banyak perusahaan teknologi Barat mengalami pengetatan peraturan China selama beberapa tahun terakhir.

"

"Airbnb menghadapi masalah signifikan di Beijing,Shanghai dan kota-kota besardalam hal peraturan persewaan yang ketat," katanya.

"

Amazon juga menghadapi masalah lisensi karena menerbitkan buku di e-reader.

Pada tahun 2021, laporan Reuters menunjukkan upaya Amazon menyelesaikan masalah ini dengan meluncurkan proyek Buku China, yang mensyaratkan kemitraan dengan organ propaganda Partai Komunis China dalam mempromosikan buku-buku Presiden Xi Jinping.

Amazon diketahui telah menghapus komentar dan ulasan untuk buku-buku Presiden Xisetelah ada permintaan dari Pemerintah China.

Pengalaman konsumen di China

Meskipun perusahaan Barat menyebutkan peraturan ketat sebagai penghalang dalam pasar China, namun sejumlah konsumen lokal menceritakan kisah yang berbeda.

Xiaofeng Luo, seorang kutu buku berusia 25 tahun dari Provinsi Zhejiang, mengaku telah membaca "sekitar 100 buku" melalui Kindle saat dia berusia 17 tahun.

Namun dalam dua tahun terakhir, dia tidak lagi menggunakan produk Amazon itu sama sekali.

"Saya tidak dapat menemukan buku yang saya ingin baca di Kindle. Saya akan mendapatkan novelnya di Amazon, tapi anehnya tidak ada versinya di Kindle," katanya.

Teman-teman Luo merekomendasikan untuk mencoba WeRead, platform e-reading yang dibuat oleh Tencent sebagai produk sampingan dari aplikasi sosial WeChat.

"Mereka menawarkan banyak jenis buku dari penerbit yang sangat bagus, biaya keanggotaan juga murah," jelasnya.

Luo juga menikmati fitur sosial WeRead, yang memungkinkan pengguna untuk berbagi daftar bacaan mereka atau mendiskusikan konten dengan pengguna lain di platform.

"Saya memberikan akun Kindle saya kepada ibu saya, karena dia juga membaca novel dan e-book di Amazon. Tapi dia bilang tidak pernah menggunakannya," katanya.

Pengalaman Luo ini senada dengan pengamatan Mark Tanner dari perusahaan konsultan pemasaran China Skinny di Shanghai.

"Selalu ada e-reader lokal, inovatif, atau benar-benar murah,menawarkannilai yang lebih baik dan memiliki buku yang sangat bagus.Jadi tidak ada keuntungan apa pun untuk berlangganan Kindle," kata Tanner.

Airbnb juga menghadapi tantangan dari para pesaing lokal seperti Tujia, yang memiliki 2 juta akomodasi terdaftar pada tahun 2020. Jumlah ini sama dengan13 kali lebih banyak dari Airbnb.

Schaefer mengatakan kurangnya penjualan di pasar China adalah salah satu pendorong utama di balik kegagalan merek teknologi Barat di China selain faktor regulasi.

"Mereka tidak mencoba menjadi aplikasi China, padahal ada semacam ekosistem pengguna yang sangat berbeda di China denganpengguna internasional," katanya.

Masih gagal setelah dua dekade

Menurut Tanner meskipun sejumlah merek Barat sekarang telah memahami pasar China dengan baik, namun banyak yang masih kesulitan untuk mencapai keberhasilan di China.

"Perusahaan China sangat cepat dalam membuat keputusan, sangat dinamis, dan mereka siap untuk membuang banyak hal yang sulit," katanya.

Dia mengatakan banyak perusahaan Silicon Valley memiliki pola pikir yang sama, tapi karena pengambil keputusan tidak berbasis di China, mereka butuh waktu lebih lama untuk meresponpasar lokal.

"Banyak dari mereka ini yang membuat keputusan di luar China belum kembali sejak 2019," kata Tanner.

Dia menambahkan,sektor lain seperti produk kesehatan dan kecantikan, sangat sedikit merekasing yang berhasilmemenangkan pasar China.

Schaefer mengatakan perusahaan teknologi yang memasuki pasar China harus siap dengan ekosistem teknologi yang berbeda.

"Anda harus bisa melokalkan produk Anda . Sama dengan membangun produk kedua," katanya.

"Tidak bisa hanya datang dengan produk digital dari luar, lalu menerjemahkan dan meluncurkannya di China," paparnya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:17 WIB

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:14 WIB

Pertanian Jadi Penyumbang Utama Emisi Metana di Indonesia, Apa Dampaknya bagi Iklim?

Pertanian Jadi Penyumbang Utama Emisi Metana di Indonesia, Apa Dampaknya bagi Iklim?

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:07 WIB

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:02 WIB

MBG Sukses Ciptakan Ekosistem Rantai Pasok Baru di Daerah

MBG Sukses Ciptakan Ekosistem Rantai Pasok Baru di Daerah

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:56 WIB

Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum

Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:55 WIB

Timnas Indonesia Ungguli Mozambik di Babak Pertama, Ole Romeny Cetak Gol Indah

Timnas Indonesia Ungguli Mozambik di Babak Pertama, Ole Romeny Cetak Gol Indah

Bola | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:49 WIB

Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru

Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:44 WIB

Pembangunan Sekolah Rakyat di Bali Dikebut, Gus Ipul Tekankan Akselerasi

Pembangunan Sekolah Rakyat di Bali Dikebut, Gus Ipul Tekankan Akselerasi

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:39 WIB

Biar Keadilan Tak Macet, Komnas Perempuan Minta Polri Rekrut Polwan Disabilitas

Biar Keadilan Tak Macet, Komnas Perempuan Minta Polri Rekrut Polwan Disabilitas

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:39 WIB

Terkini

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:17 WIB

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:14 WIB

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:02 WIB

Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum

Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:55 WIB

Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru

Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:44 WIB

Pembangunan Sekolah Rakyat di Bali Dikebut, Gus Ipul Tekankan Akselerasi

Pembangunan Sekolah Rakyat di Bali Dikebut, Gus Ipul Tekankan Akselerasi

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:39 WIB

Biar Keadilan Tak Macet, Komnas Perempuan Minta Polri Rekrut Polwan Disabilitas

Biar Keadilan Tak Macet, Komnas Perempuan Minta Polri Rekrut Polwan Disabilitas

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:39 WIB

Kasatgas Tito: Pemulihan Pasca Bencana di Provinsi Aceh Terus Menunjukkan Kemajuan

Kasatgas Tito: Pemulihan Pasca Bencana di Provinsi Aceh Terus Menunjukkan Kemajuan

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:32 WIB

1.200 Aparat Amankan GBK, Kawal Ketat Duel Timnas Indonesia vs Mozambik

1.200 Aparat Amankan GBK, Kawal Ketat Duel Timnas Indonesia vs Mozambik

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:19 WIB

Isi Tas Ransel Sekdin Muara Enim Bikin Kaget: Ada Uang Rp323 Juta Hasil Korupsi Proyek

Isi Tas Ransel Sekdin Muara Enim Bikin Kaget: Ada Uang Rp323 Juta Hasil Korupsi Proyek

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:03 WIB