Suara.com - Chelsea akhirnya resmi memboyong Enzo Fernandez dari Benfica dengan biaya transfer sebesar 121 juta euro atau sekitar Rp2,2 triliun dengan kontrak delapan setengah tahun.
Dengan uang sebesar itu, bisa digunakan untuk membiayai Liga 1 Indonesia selama 55 tahun. Karena, untuk menyelenggarakan Liga 1 Indonesia selama satu musim dibutuhkan biaya berkisar Rp300 miliar hingga Rp500 miliar.
PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan Liga Satu memang tak pernah memerinci besaran dana yang digelontorkan selama satu musim.
Namun, kita bisa meniliknya dari jumlah kontribusi komersial yang diberikan PT LIB kepada masing-masing klub peserta Liga 1. Dana komersial merupakan istilah lain untuk subsidi.
Untuk diketahui, pada musim 2022-2023 ini PT LIB memberikan Rp5,5 miliar kontribusi komersial untuk setiap klub. Jika Liga 1 diikuti oleh 18 tim, maka kucuran dana ini bisa mencapai Rp99 miliar.
Biaya ini belum termasuk biaya wasit, rapat, hingga konferensi pers. Dengan demikian, sangat masuk akal jika satu musim Liga Satu mampu menghabiskan ratusan miliar atau bahkan mendekati triliunan rupiah.
![Pesepak bola Persija Jakarta Riko Simanjuntak (kiri) berebut bola dengan pesepak bola Barito Putera M Luthfi Kamal B (kanan) saat pertandingan BRI Liga 1 di Stadion Demang Lehman Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (11/9/2022). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/foc]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/09/12/79611-persija-jakarta-vs-barito-putera-liga-1.jpg)
Biaya Peralatan
Komponen biaya lain yang merogoh kocek cukup dalam di Liga Satu adalah peralatan. Salah satunya adalah wacana penggunaan asisten wasit virtual atau VAR. Wacana ini terus digulirkan mengingat skandal dalam pertandingan sepak bola Indonesia tidak ada habisnya, mulai dari pengaturan skor hingga wasit yang tidak profesional.
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) belum berencana memakai asisten wasit video atau yang lebih dikenal VAR di Liga Indonesia musim depan lantaran biaya alat yang mahal.
Ketua Komite Wasit PSSI, Ahmad Riyadh mengatakan untuk gelaran Liga Indonesia belum ada yang memakai VAR karena penganggaran alat tersebut masih dalam pembahasan.
"Belum (untuk musim depan). VAR masih penganggaran. Satu lapangan, VAR bisa Rp80 miliar," ujar Ahmad Riyadh.
Sebagai gantinya, PSSI menggunakan tambahan asisten wasit yang ditugaskan di dekat gawang masing-masing tim yang berlaga. Mereka dilengkapi tongkat dan gelang yang terhubung dengan wasit tengah untuk menganulir atau mengoreksi keputusan yang kurang tepat.
Riyadh menyebut asisten wasit tambahan ini sekarang sudah diterapkan di sisa-sisa pertandingan Liga 1 musim 2022. Sementara untuk antisipasi praktik pengaturan skor oleh mafia bola, Riyadh lebih memilih jalur pembinaan terhadap wasit dan klub peserta liga.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni