Diprediksi, total pendapatan yang diperoleh selama kunjungan istri wakil presiden dan para Menteri ini mencapai Rp44 juta.
“Untuk tahun ini, ini adalah penjualan tertinggi yang saya peroleh,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Jamaludin Maladi mengatakan jumlah transaksi di NTB Mall selama kunjungan yaitu mencapai ratusan juta.
Karena satu pengunjung berbelanja hingga Rp50 juta.
“Ini sampai ratusan. Karena tadi saya lihat ada yang sampai Rp50 juta transaksinya per orang ada yang sampai Rp30 juta. Kita pantau pada saat pembayaran,” katanya.
Ia mengatakan, dari produk-produk yang dijual, yang paling banyak diminati adalah tenun sasambo dan Mutiara.
“Tidak kalah banyak juga itu mutiara. Ada yang harganya Rp1 juta dan banyak yang beli,” ungkapnya.
Produk UMKM yang dijajakan di NTB Mall sudah melalui kurasi. Artinya, kualitas produk yang dijajakan sudah terjamin.
“Ini sudah kita kurasi produk-produk,” katanya.
Untuk diketahui, kunjungan istri presiden dan para Menteri ini berkunjung ke sejumlah lokasi yaitu RSUD Provinsi NTB menghadiri sosialisasi pencegahan perkawinan usia anak, dan ke Kabupaten Lombok Timur.
Serukan Jangan Ada Perkawinan Anak
Dalam kunjungan kerja ini, Selvi Ananda juga menyerukan upaya penghentian pernikahan usia anak agar Indonesia memiliki generasi emas yang unggul pada tahun 2045.
"Jangan lagi ada pernikahan anak usia dini, karena kita sama-sama ingin generasi muda Indonesia tumbuh menjadi generasi yang sehat dan berpendidikan untuk mencapai Indonesia Emas 2045," ujarnya dalam sosialisasi stop pernikahan anak usia dini di RSUD NTB, Mataram.
Selvi menuturkan seluruh pihak harus berkolaborasi dan bekerja sama agar fenomena pernikahan usia anak tidak lagi terjadi di tengah masyarakat.
Dia mengajak para siswa yang duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) untuk tidak menikah muda, karena dapat membuat pendidikan terputus.
"Belajar dulu yang baik, setelah ini lanjut sekolah ke SMA, kemudian ke universitas. Semoga cita-cita tercapai bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Ekonomi bisa mapan, setelah itu baru boleh melangkah ke jenjang selanjutnya, ke pernikahan," ucap Selvi.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) dari tahun 2021 sampai 2024, Nusa Tenggara Barat selalu mencatatkan angka perkawinan usia anak paling tinggi secara nasional.
Persentase perempuan sebelum usia 18 tahun yang menikah pada 2021 mencapai 16,59 persen, tahun 2022 sebanyak 16,23 persen, dan mencapai puncak tertinggi 17,32 persen pada 2023.
Sedangkan tahun 2024 mengalami penurunan sedikit ke angka 14,96 persen.
Pengadilan Tinggi Agama Mataram menyebut dispensasi perkawinan di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat sejak 2021 sampai 2024 terus mengalami penurunan dari 1.116 dispensasi menjadi 710 dispensasi, 723 dispensasi, dan 581 dispensasi.
Kontributor Buniamin