Menjajaki Kawruh: Seni, Desa, dan Kembali Membaca Diri dalam Biennale Jogja 18

Ayu Nabila | Ayu Nabila | Suara.com

Rabu, 09 Juli 2025 | 20:36 WIB
Menjajaki Kawruh: Seni, Desa, dan Kembali Membaca Diri dalam Biennale Jogja 18
Acara Gathering Media yang diadakan oleh Biennale Jogja 18 di Kampoeng Mataram pada Rabu (09/07/2025) [Prayogi Restu/ pemagang suarajogja)

Biennale Jogja 18 tahun 2025 hadir dengan kelanjutan pendekatan mendalam dari tema Titen pada tahun 2023 lalu. Mengangkat tema "Kawruh", perhelatan ini membentangkan seni tak hanya sebagai karya, tapi juga sebagai laku hidup, pengetahuan lokal, dan ruang bersama.

Biennale Jogja kali ini dibersamai oleh tiga kurator dan terbagi dalam dua babak. Babak pertama berlangsung di Desa Karangsewu (Padukuhan Boro), Kulon Progo pada 19-24 September 2025. Babak I akan menghadirkan interaksi langsung antara seniman dan warga. 

Sementara itu, babak kedua akan digelar di Kota Yogyakarta serta dua desa lain di Bantul, yakni Desa Bangunjiwo, Tirtonirmolo, dan Panggungharjo pada 5 Oktober-20 November 2025. Pendekatan ini tidak sekadar memindahkan lokasi, tapi menggeser pusat: dari kota ke desa, dari galeri ke komunitas.

Untuk memeluk lebih lekat Biennale Jogja 18 2025 lewat tema Kawruh, segenap rekan media menghadiri acara Gathering Media Kawruh: Tanah Lelaku yang diadakan di Kampoeng Mataram pada Rabu (09/07/2025). Berikut beberapa hal yang perlu kita simak bersama!

Membaca Ulang ‘Kawruh’: Tema Utama Biennale Jogja 18 2025

Vani san Greg Sindana (ketjilbergerak) dalam Gathering Media yang diadakan oleh Biennale Jogja 18 di Kampoeng Mataram pada Rabu (09/07/2025) [Ayu Nabila/ Suara.com]
Vani san Greg Sindana (ketjilbergerak) dalam Gathering Media yang diadakan oleh Biennale Jogja 18 di Kampoeng Mataram pada Rabu (09/07/2025) [Ayu Nabila/ Suara.com]

Greg Sindana dan Invani (ketjilbergerak), salah dua kurator Biennale Jogja 18 2025, menjelaskan bahwa Kawruh bukan sekadar pengetahuan dalam arti modern. Dalam bahasa Jawa, Kawruh merujuk pada pengetahuan yang lahir dari pengalaman, relasi, intuisi, dan rasa.

"Kita mencoba mendekati pengetahuan dari cara lain. Tidak melulu rasionalitas Barat yang jadi tolok ukur. Kawruh menawarkan pendekatan yang lebih membumi," ujar Greg.

Biennale ini dimulai dengan residensi seniman di desa. Alih-alih langsung membuat pameran, prosesnya dimulai dari hidup bersama warga: ngobrol, menanam, dan beraktivitas bersama. Hasilnya bukan hanya karya seni, tapi juga pengalaman, pembelajaran, dan hubungan.

Praktik Seni (di) Desa: Seni yang Berakar, Bukan Bertengger

Romo Ing, salah satu narsum dalam acara Gathering Media yang diadakan oleh Biennale Jogja 18 di Kampoeng Mataram pada Rabu (09/07/2025) [Ayu Nabila/ Suara.com]
Romo Ing, salah satu narsum dalam acara Gathering Media yang diadakan oleh Biennale Jogja 18 di Kampoeng Mataram pada Rabu (09/07/2025) [Ayu Nabila/ Suara.com]

Pada pemaparan narasumber lainnya, Romo Ing, menekankan bahwa desa bukan sekadar lokasi, tapi metode. 

Desa Karangsewu menjadi salah satu tempat lahirnya praktik seni yang berakar pada interaksi dan relasi.

Seniman tidak hanya berkarya, tapi ikut hidup bersama warga: ikut ronda, masak, hingga membersihkan saluran air.

"Yang penting bukan seniman bikin karya, tapi bagaimana karya itu lahir dari relasi. Dan kadang, hasil akhirnya bukan karya rupa, tapi kebersamaan," tuturnya.

Biennale kali ini ingin memindahkan pusat seni dari galeri ke masyarakat. Proses ini menjadi ruang perenungan; bukan hanya tentang seni, tapi tentang cara hidup, belajar, dan berhubungan atau relasi sosial antar warga desa.

Titen dan Kawruh: Niteni Dulu, Melestarikan Pengetahuan Kemudian

Lia dan Amos, salah dua narsum dalam Gathering Media yang diadakan oleh Biennale Jogja 18 di Kampoeng Mataram pada Rabu (09/07/2025) [Ayu Nabila/ Suara.com]
Dari kiri ke kanan: moderator, Lia,  Amos, salah dua narsum dalam Gathering Media yang diadakan oleh Biennale Jogja 18 di Kampoeng Mataram pada Rabu (09/07/2025) [Ayu Nabila/ Suara.com]

Lia dan Amos, dua peneliti Biennale Jogja sejak era Titen 2023 hingga hari ini, Kawuruh 2025, menyampaikan bahwa Titen (pengamatan lokal terhadap alam dan siklus hidup) dan Kawruh (pengetahuan) adalah bentuk penting dari cara tahu yang hidup di masyarakat.

Dalam tubuh Titen dan Kawruh, para seniman maupun kurator terus mengupayakan hingga mengeksperimentasikan batas-batas terjauh dari apa yang seni mampu lakukan bagi masyarakat yang melahirkan seni itu sendiri. 

Mereka menolak menjadikan Titen dan Kawruh sebagai tema eksotis. Sebaliknya, mereka ingin menempatkannya sebagai cara hidup yang setara dengan pengetahuan masyarakat desa.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah Affandi Koesoema, Dari Poster Film Menjadi Maestro Lukis

Kisah Affandi Koesoema, Dari Poster Film Menjadi Maestro Lukis

Your Say | Rabu, 09 Juli 2025 | 15:16 WIB

109 Koperasi Merah Putih Percontohan akan Miliki Klinik dan Apotek, Wamenkop Ungkap Tantangannya!

109 Koperasi Merah Putih Percontohan akan Miliki Klinik dan Apotek, Wamenkop Ungkap Tantangannya!

News | Rabu, 09 Juli 2025 | 10:28 WIB

Ulasan Buku Seni & Teknik Berbicara: Komunikasi Itu Ada Seninya!

Ulasan Buku Seni & Teknik Berbicara: Komunikasi Itu Ada Seninya!

Your Say | Selasa, 08 Juli 2025 | 13:42 WIB

Terkini

Tomsi Tohir Desak Pemda Turun ke Lapangan Kendalikan Inflasi, Bukan Hanya Rapat

Tomsi Tohir Desak Pemda Turun ke Lapangan Kendalikan Inflasi, Bukan Hanya Rapat

News | Senin, 27 April 2026 | 14:04 WIB

Fadli Zon Jajaki Pendirian Rumah Budaya Indonesia di Beijing

Fadli Zon Jajaki Pendirian Rumah Budaya Indonesia di Beijing

News | Senin, 27 April 2026 | 14:03 WIB

Pasokan Terancam di Selat Hormuz, Tren Kenaikan Harga Minyak Belum Reda

Pasokan Terancam di Selat Hormuz, Tren Kenaikan Harga Minyak Belum Reda

News | Senin, 27 April 2026 | 13:56 WIB

Bos Perusahaan Rokok PT Gading Gadja Mada Dipanggil KPK untuk Kasus Bea Cukai

Bos Perusahaan Rokok PT Gading Gadja Mada Dipanggil KPK untuk Kasus Bea Cukai

News | Senin, 27 April 2026 | 13:54 WIB

Isu Reshuffle Sore Ini, Bahlil: Ya Nanti Kita Lihat

Isu Reshuffle Sore Ini, Bahlil: Ya Nanti Kita Lihat

News | Senin, 27 April 2026 | 13:48 WIB

Soal Pembatasan Uang Tunai saat Pemilu, Hensa: Harus Tegas dan Bisa Ditegakkan

Soal Pembatasan Uang Tunai saat Pemilu, Hensa: Harus Tegas dan Bisa Ditegakkan

News | Senin, 27 April 2026 | 13:44 WIB

Fakta Miris Daycare di Indonesia: 44 Persen Ilegal dan Mayoritas Pengasuh Tak Tersertifikasi

Fakta Miris Daycare di Indonesia: 44 Persen Ilegal dan Mayoritas Pengasuh Tak Tersertifikasi

News | Senin, 27 April 2026 | 13:41 WIB

Lagi, KPK Periksa Dua Bos Travel Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji

Lagi, KPK Periksa Dua Bos Travel Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji

News | Senin, 27 April 2026 | 13:40 WIB

Pemerintah Klaim Kenaikan BBM Nonsubsidi Tak Ganggu UMKM

Pemerintah Klaim Kenaikan BBM Nonsubsidi Tak Ganggu UMKM

News | Senin, 27 April 2026 | 13:37 WIB

Buntut Kekerasan di Yogyakarta, DPR Desak Evaluasi Total Daycare: Harus Ada Screening Digital

Buntut Kekerasan di Yogyakarta, DPR Desak Evaluasi Total Daycare: Harus Ada Screening Digital

News | Senin, 27 April 2026 | 13:29 WIB