- Konflik Timur Tengah diprediksi menaikkan harga minyak mentah dunia hingga $100/barel, membebani APBN Indonesia.
- Pemerintah dihadapkan dilema menaikkan BBM subsidi atau menanggung beban fiskal besar, inflasi pasti meningkat.
- Pengamat menyarankan jika kenaikan harga BBM subsidi harus dilakukan, pemerintah perlu memilih momentum yang kondusif pasca-Lebaran.
"Dilemanya atau pilihannya, Indonesia dengan asumsi tadi harga di atas 100 [dolar AS per barel] gitu ya, pilihannya menaikkan harga BBM subsidi atau tetap mempertahankan harga BBM subsidi tadi," tandasnya.
"Nah, kalau tidak menaikkan harga BBM subsidi, maka beban fiskal untuk membiayai subsidi ini semakin membengkak dan menekan APBN Indonesia. Tapi sebaliknya, kalau harus menaikkan harga BBM, itu sudah pasti akan memicu inflasi, menurunkan daya beli, menambah beban bagi rakyat kecil," imbuhnya.
Terkait potensi kelangkaan BBM, Fahmy menilai hal itu justru hanya kemungkinan kecil terjadi. Pasalnya Indonesia masih memiliki beberapa pasokan dari negara-negara lain.
Hanya saja yang menjadi persoalan adalah potensi kenaikan harga minyak yang tersedia.
"Jadi kalau kesulitan pasokan, kemungkinan itu kecil gitu ya. Asal mampu beli. Nah, di situlah kemudian Indonesia dihadapkan pada pilihan apakah menaikkan BBM subsidi atau tetap bertahan tidak menaikkan, itu tadi," pungkasnya.