Akibat Panas Esktrem, Makam Kuno dan Desa yang Hilang Tahun 1974 di Pedu Muncul Lagi

Bernadette Sariyem | Suara.com

Jum'at, 27 Maret 2026 | 19:22 WIB
Akibat Panas Esktrem, Makam Kuno dan Desa yang Hilang Tahun 1974 di Pedu Muncul Lagi
Makam kuno dan desa yang hilang pada tahun 1974 muncul kembali di Kuala Nerang, Kedah, Malaysia. Fenomena ini terjadi karena kemarau dan panas ekstrem. [hmetro.com]
  • Kemarau ekstrem di Kuala Nerang, Kedah, menyebabkan air Bendungan Pedu menyusut, memunculkan pemakaman kuno dan desa tersembunyi.
  • Kawasan yang sebelumnya merupakan pemukiman penduduk tahun 1974, kini menjadi lokasi wisata dadakan dan surga pemancing ikan toman.
  • Data MADA menunjukkan krisis air signifikan; Bendungan Muda mencapai rekor terendah 7,84 persen akibat dampak cuaca panas ekstrem.

Suara.com - Makam kuno dan desa yang hilang sejak beberapa dekade silam muncul kembali di Kuala Nerang, Kedah, Malaysia.

Hal itu lantaran kemarau panjang yang disertai cuaca panas ekstrem menyebabkan permukaan air di Bendungan Pedu dekat daerah itu menyusut ke titik sangat rendah.

Setelahnya, daratan yang selama puluhan tahun tenggelam di bawah permukaan air, kini kembali muncul ke permukaan, termasuk area pemakaman kuno yang sudah lama terlupakan.

Kawasan yang paling terdampak adalah Kampung Mong Gajah. Berdasarkan pemberitaan hmetro.com, Kamis (26/3/2026), area yang biasanya dipenuhi air kini telah berubah menjadi padang rumput yang sangat luas.

Pemandangan unik ini tidak hanya menarik perhatian peneliti lingkungan, tetapi juga warga lokal dan para penggemar olahraga memancing dari berbagai daerah.

Secara historis, kawasan ini merupakan bekas pemukiman penduduk yang terpaksa dipindahkan pada tahun 1974 silam.

Relokasi besar-besaran tersebut dilakukan demi memberikan ruang bagi pembangunan proyek bendungan.

Sejak saat itu, seluruh bangunan dan tanah perkuburan leluhur warga setempat tenggelam di bawah takungan air bendungan yang sangat dalam.

Munculnya Makam Leluhur yang Terpendam

Salah satu momen yang paling emosional bagi warga lokal adalah ketika batu-batu nisan dari pemakaman lama mulai terlihat kembali.

Penampakan makam-makam ini, memberikan suasana mistis sekaligus nostalgia bagi mereka yang mengetahui sejarah tempat tersebut.

Fenomena ini sebenarnya bukan yang pertama kali terjadi, namun kali ini penyusutan air dinilai cukup signifikan.

Zakaria Abdul Hamid, seorang pemancing berusia 63 tahun yang sering menghabiskan waktu di area tersebut, menceritakan pengalamannya melihat perubahan drastis landskap bendungan.

Menurutnya, pemandangan tahun ini hampir sama seperti fenomena serupa yang terjadi dua tahun lalu.

"Sebelumnya makam-makam ini tidak terlihat, tapi sekarang sudah tampak jelas. Hal itu membuat suasana di sini terasa berbeda. Saat malam hari, banyak orang yang menginap di sini, biasanya setelah waktu Asar orang-orang mulai berdatangan. Saya sendiri hampir setiap bulan datang memancing di sini sejak lima tahun lalu setelah mengetahuinya lewat Facebook," ujar Zakaria, dikutip hari Jumat (27/3/2026).

Lokasi Wisata Dadakan dan Surga Pemancing

Meskipun penyusutan air adalah pertanda buruk bagi cadangan air wilayah, bagi sebagian orang, fenomena ini justru menciptakan peluang rekreasi baru.

Daratan luas yang kini kering menyerupai lapangan hijau yang estetik, menjadikannya tempat yang sempurna untuk berkemah dan bersantai di sore hari.

Banyak warga yang datang membawa tenda dan perlengkapan memasak untuk bermalam di dasar bendungan yang mengering tersebut.

Kehadiran ikan-ikan air tawar yang terkonsentrasi di sisa-sisa aliran air, juga menjadi daya tarik utama bagi para pencari ikan predator seperti ikan toman.

Rashid Yusuf, seorang pemancing berusia 46 tahun asal Kampung Chong Sik, mengakui bahwa kondisi air saat ini mengalami penurunan yang sangat jauh dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Fenomena ini menurutnya menjadi momen langka yang harus dimanfaatkan untuk menyalurkan hobi.

"Kalau sebelum puasa saya ke sini, airnya belum surut seperti sekarang. Kali ini benar-benar terlihat banyak daratan yang muncul. Saya datang karena hobi memancing ikan toman, jadi kami berkemah dan bermalam di sini. Banyak yang datang membawa perlengkapan kemah dan menginap. Kawasan ini pun jadi seperti padang luas yang cantik, cocok untuk aktivitas santai," ungkap Rashid dengan antusias.

Data Teknis: Krisis Air yang Menghantui

Di balik keindahan "padang luas" yang baru muncul tersebut, data menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan bagi ketahanan air daerah setempat.

Lembaga Kemajuan Pertanian Muda (MADA) terus memantau penurunan level air di beberapa bendungan utama yang menjadi tulang punggung irigasi pertanian dan kebutuhan domestik.

Berdasarkan data terbaru dari MADA, Bendungan Muda mencatatkan rekor penurunan paling tajam hingga mencapai level 7,84 persen.

Sementara itu, Bendungan Pedu berada pada level 39,81 persen, dan Bendungan Ahning berada pada posisi 54,21 persen.

Secara akumulatif, total takungan air di seluruh bendungan tersebut hanya menyisakan sekitar 39,17 persen.

Penyusutan ini merupakan dampak langsung dari cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah Asia Tenggara dalam beberapa bulan terakhir.

Meskipun pemandangan "desa yang hilang" ini menarik banyak pengunjung, pihak berwenang terus mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya penghematan air di tengah krisis iklim yang tidak menentu ini.

Fenomena munculnya makam di Bendungan Pedu menjadi pengingat visual yang nyata betapa hebatnya dampak perubahan cuaca terhadap lingkungan sekitar kita.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Suami Istri Tewas dengan Kepala Terpenggal di Rumah, Sang Anak Ikut Meninggal

Suami Istri Tewas dengan Kepala Terpenggal di Rumah, Sang Anak Ikut Meninggal

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 19:04 WIB

PM Malaysia Anwar Ibrahim ke Jakarta, Ingin Bertemu Prabowo Bahas Dampak Konflik Asia Barat

PM Malaysia Anwar Ibrahim ke Jakarta, Ingin Bertemu Prabowo Bahas Dampak Konflik Asia Barat

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 17:52 WIB

Di Tengah Blokade Iran, Malaysia Dapat Jalur Khusus Lewati Selat Hormuz

Di Tengah Blokade Iran, Malaysia Dapat Jalur Khusus Lewati Selat Hormuz

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 15:07 WIB

PM Malaysia Anwar Ibrahim Kunjungi Jakarta, Polda Metro Siapkan Pengamanan Rute VVIP

PM Malaysia Anwar Ibrahim Kunjungi Jakarta, Polda Metro Siapkan Pengamanan Rute VVIP

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 10:57 WIB

Malaysia Pangkas Kuota BBM Subsidi RON 95 Mulai April 2026, Ini Dampaknya bagi Konsumen dan Ekonomi

Malaysia Pangkas Kuota BBM Subsidi RON 95 Mulai April 2026, Ini Dampaknya bagi Konsumen dan Ekonomi

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 08:51 WIB

Beda Nasib Indonesia dan Malaysia di Selat Hormuz, Kenapa Pemerintah Tak Mampu Lobi Iran?

Beda Nasib Indonesia dan Malaysia di Selat Hormuz, Kenapa Pemerintah Tak Mampu Lobi Iran?

Bisnis | Jum'at, 27 Maret 2026 | 08:23 WIB

Panas Ekstrem Diduga Picu Kebakaran di Kramat Jati

Panas Ekstrem Diduga Picu Kebakaran di Kramat Jati

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 18:44 WIB

Timnas Indonesia Salip Ranking Malaysia yang Kena Sanksi Imbas Skandal Naturalisasi

Timnas Indonesia Salip Ranking Malaysia yang Kena Sanksi Imbas Skandal Naturalisasi

Bola | Rabu, 18 Maret 2026 | 16:21 WIB

Terkini

50 Santriwati di Pati Diduga Jadi Korban Seksual, LPSK Siapkan Perlindungan

50 Santriwati di Pati Diduga Jadi Korban Seksual, LPSK Siapkan Perlindungan

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:10 WIB

Hati-hati! Eks Intelijen BAIS Sebut RI Bisa Jadi 'Padang Kurusetra' Rebutan AS-China

Hati-hati! Eks Intelijen BAIS Sebut RI Bisa Jadi 'Padang Kurusetra' Rebutan AS-China

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 21:36 WIB

Fantastis! Korupsi Chromebook Rugikan Negara Rp5,2 T, Jauh Melampaui Dakwaan Jaksa

Fantastis! Korupsi Chromebook Rugikan Negara Rp5,2 T, Jauh Melampaui Dakwaan Jaksa

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 21:19 WIB

Prabowo Minta UMKM Diprioritaskan, Cak Imin Usulkan Tambahan Anggaran Rp1 Triliun

Prabowo Minta UMKM Diprioritaskan, Cak Imin Usulkan Tambahan Anggaran Rp1 Triliun

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 20:54 WIB

Polisi Buka Peluang Tambah Tersangka Kasus Daycare Little Aresha

Polisi Buka Peluang Tambah Tersangka Kasus Daycare Little Aresha

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 20:47 WIB

Nyawa Dijaga Malah Diajak Berantem: Curhat Eks Penjaga Rel Liar Hadapi Pemotor 'Batu' di Jalur Tikus

Nyawa Dijaga Malah Diajak Berantem: Curhat Eks Penjaga Rel Liar Hadapi Pemotor 'Batu' di Jalur Tikus

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 20:37 WIB

Wamen PANRB Tinjau MPP Kota Kupang untuk Perkuat Pelayanan Publik Terintegrasi

Wamen PANRB Tinjau MPP Kota Kupang untuk Perkuat Pelayanan Publik Terintegrasi

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 20:15 WIB

Tim Advokasi Bongkar Sisi Gelap Tragedi PRT Benhil: Penyekapan, Gaji Ditahan, hingga Manipulasi Usia

Tim Advokasi Bongkar Sisi Gelap Tragedi PRT Benhil: Penyekapan, Gaji Ditahan, hingga Manipulasi Usia

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 19:41 WIB

Dua Hakim Dissenting Opinion: Ibam Seharusnya Dibebaskan di Kasus Chromebook

Dua Hakim Dissenting Opinion: Ibam Seharusnya Dibebaskan di Kasus Chromebook

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 19:39 WIB

MBG di Kalbar Serap 22 Ribu Tenaga Kerja, BGN: Ekonomi Masyarakat Bawah Bergerak Kencang

MBG di Kalbar Serap 22 Ribu Tenaga Kerja, BGN: Ekonomi Masyarakat Bawah Bergerak Kencang

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 19:35 WIB