- Acara Halalbihalal ASN di Pendopo Lebak pada 30 Maret 2026 memicu ketegangan antara Bupati dan Wakil Bupati.
- Perseteruan terbuka dipicu teguran Bupati mengenai kewenangan wabup dan ungkapan status mantan narapidana.
- Akibat insiden tersebut, Wabup menyerang balik dengan menuding Bupati sering tidak menjalankan tugas kedinasan.
Suara.com - Suasana khidmat acara Halalbihalal Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pendopo Kabupaten Lebak, Banten, pada Senin (30/3/2026) mendadak berubah menjadi arena ketegangan.
Acara yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi pasca libur Lebaran itu justru membongkar perseteruan terbuka antara Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, dan Wakil Bupati (Wabup), Amir Hamzah.
ketegangan terjadi saat Wakil Bupati nyaris melabrak sang Bupati di atas mimbar akibat tak terima masa lalunya diungkit di depan ratusan pegawai pemerintahan.
"Uyuhan (masih mending) mantan napi jadi wakil bupati geh bersyukur," ujar Hasbi, yang dikutip pada Selasa (31/3/2026).
Merespons insiden memalukan tersebut, Amir secara terpisah meluapkan kekecewaannya.
"Kalau hanya menyebut nama saya mungkin biasa. Tapi menyebut saya mantan narapidana di depan umum, itu sudah masuk penghinaan pribadi," tegas Amir.
Berikut 5 fakta di balik insiden Bupati Lebak yang menyinggung status mantan napi Wabup:
1. Dipicu Sentilan soal Batas Kewenangan Wabup
Ketegangan awal bermula ketika Hasbi memberikan pidato resmi yang menyinggung soal batasan kewenangan seorang wakil kepala daerah berdasarkan Pasal 66 Undang-Undang ASN.
Tidak berhenti di situ, suasana yang dihadiri oleh ratusan tamu undangan itu mendadak berubah canggung ketika Hasbi secara terang-terangan melontarkan teguran menohok yang ditujukan langsung kepada Amir Hamzah.
Sang wakil bupati tersebut dikritik secara terbuka lantaran dinilai telah mengambil langkah indisipliner dengan sering memanggil sejumlah kepala dinas untuk merapat ke kediaman pribadinya tanpa adanya instruksi, koordinasi, maupun pendelegasian tugas yang sah dari bupati.
2. Meledak Akibat Sebutan "Mantan Napi"
Situasi yang awalnya hanya berupa sindiran birokrasi berubah memanas ketika Hasbi mulai menyentuh ranah pribadi dengan mengungkit status masa lalu Amir sebagai mantan warga binaan.
Merasa direndahkan di depan umum, Amir yang saat itu duduk di barisan depan langsung berdiri dan berusaha menghampiri mimbar dengan penuh emosi.
Keributan tersebut beruntung bisa segera dicegah oleh Sekretaris Daerah, asisten pribadi, dan istri bupati, sebelum akhirnya Amir dibawa keluar dari area pendopo oleh sejumlah ASN.