- Entin merintis usaha warung Madura 24 jam di Tebet, Jakarta Selatan, sejak empat tahun lalu bersama keluarganya.
- Warung ini beroperasi sepanjang waktu untuk memenuhi kebutuhan warga sekaligus memberikan pelayanan bagi pelanggan saat malam hari.
- Hasil pendapatan harian mencapai satu hingga dua juta rupiah untuk biaya hidup serta pendidikan anak-anak mereka.
Suara.com - Ketika gemerlap ibu kota mulai memudar, sebuah sudut di Jalan Tebet, Jakarta Selatan, justru memancarkan terang. Di saat minimarket modern berlomba-lomba menutup pintu, sebuah warung kecil dengan etalase penuh sesak barang kebutuhan sehari-hari tetap berdiri tegak.
Bagi sebagian orang, ini hanyalah tempat singgah untuk membeli sebungkus rokok atau sebotol air mineral. Namun, bagi pemilik warung Madura, Entin, warung berukuran tak seberapa ini adalah pelita keluarga, saksi bisu kerasnya perjuangan, dan “napas” bagi para perantau.
Sudah empat tahun Entin dan keluarganya merawat nyala warung ini. Di awal kedatangannya dari Pulau Garam, tak ada jaminan kesuksesan yang menanti.
Modalnya bukanlah uang bermiliar-miliar, melainkan apa yang ia sebut sebagai “darah perantauan”: kombinasi antara kejujuran, nyali yang nekat, dan tulang yang tahan banting.
“Semua dimulai dari nol,” kenang Entin, senyum tipis mengembang di wajahnya yang menyiratkan ketegaran. Tangannya sibuk menata rentengan kopi instan.
"Dulu, rak-rak di warung ini masih banyak yang kosong. Tapi kami pilih usaha ini karena perputarannya cepat. Orang butuh rokok, kopi, atau mi instan itu tidak mengenal waktu," ujar Entin di warung tempat mengais rezekinya, Senin (6/4/2026).
Kini, rak kosong itu hanya tinggal kenangan. Etalasenya padat, tumpukan galon berjajar rapi, dan tabung gas elpiji siap diangkut kapan saja.
Warung ini menyatu dengan rumah tinggalnya, hasil merombak bagian depan rumah dengan modal awal sekitar sepuluh juta rupiah. Sistemnya dikelola secara gotong royong bersama suami dan adiknya.
Falsafah Waktu: "Rezeki Tak Punya Jam Operasional"
Banyak yang bertanya dengan nada heran kepada Entin, "Buk, apa nggak capek buka terus 24 jam?"
Bagi Entin, warung yang tak pernah tutup bukanlah sekadar strategi bisnis, melainkan sebuah keyakinan spiritual dan empati sosial.
“Rezeki itu nggak ada jam operasionalnya,” ucapnya.
"Kalau saya tutup jam 10 malam, lalu ada orang kelaparan di tengah malam hanya cari mi instan, saya kehilangan kesempatan bersedekah dan membantu orang. Lagi pula, buka 24 jam itu sudah jadi 'merek' Warung Madura. Kalau kami tutup, orang nanti ragu mau datang lagi," tambahnya.
Menjaga warung tanpa henti tentu bukan tugas untuk satu pasang mata. Entin menerapkan sistem pergantian.
Siang hingga sore adalah wilayah kekuasaannya, sementara saat malam hingga azan subuh berkumandang, sang suami yang mengambil alih.
Senjata suami untuk melawan pekatnya malam dan kantuk yang menyerang terbilang sederhana: kopi hitam pekat, rokok, tegukan air putih yang banyak, dan satu hal yang tak pernah ditinggalkan, ibadah.