- Seorang petani bernama Rahmat diserang beruang saat menyadap karet di Hutan Air Pohal, OKU, pada Kamis (16/4/2026).
- Korban mengalami luka robek dan cakaran parah akibat duel dengan beruang sebelum akhirnya berhasil menyelamatkan diri sendiri.
- Polres OKU mengevakuasi korban ke rumah sakit serta mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hewan buas tersebut.
Suara.com - Rahmat (55), seorang petani karet di Desa Rantau Kumpai, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan menderita luka robek parah pada betis kanan akibat gigitan beruang saat sedang bekerja di kawasan Hutan Air Pohal, Kamis (16/4/2026).
Selain luka robek di kaki, korban juga mengalami luka cakaran di tangan kiri setelah terlibat duel maut dengan hewan buas tersebut.
Kapolres OKU, AKBP Endro Aribowo menyebut insiden berdarah itu terjadi pada siang hari saat korban tengah menyadap pohon karet.
"Peristiwa ini terjadi siang tadi sekitar pukul 11.10 WIB," ujar Endro Aribowo di Baturaja, Kamis (16/4/2026).
Peristiwa bermula ketika seekor beruang secara tiba-tiba muncul dari balik semak belukar dan langsung menerkam Rahmat. Dalam kondisi terdesak, Rahmat melakukan perlawanan sengit menggunakan sebilah golok yang ia bawa untuk bekerja.
Upaya pembelaan diri tersebut memaksa sang beruang melarikan diri kembali ke arah hutan.
Meski berhasil menyelamatkan nyawanya, hantaman kuku dan gigitan taring beruang tersebut meninggalkan luka serius di tubuh korban. Rahmat segera dievakuasi oleh warga setempat menuju pusat layanan medis terdekat.
"Korban langsung dibawa ke RSUD Ibnu Sutowo, Baturaja, untuk mendapatkan perawatan intensif," ungkap Endro.
Pasca-kejadian, Polres OKU telah menerjunkan personel ke lokasi kebun karet guna melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Polisi juga mengeluarkan imbauan keras agar warga di sekitar kawasan Hutan Air Pohal meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas demi menghindari serangan susulan.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pihak kepolisian akan segera menggandeng otoritas terkait untuk menangani keberadaan hewan buas di pemukiman warga.
"Kami juga akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel guna mengantisipasi potensi serangan hewan liar serupa di kemudikan hari," pungkasnya. (Antara)