Penduduk Dunia Tembus 8 MIliar, Bisakah Pangan Lokal Jadi Jawaban Krisis Pangan Global?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:32 WIB
Penduduk Dunia Tembus 8 MIliar, Bisakah Pangan Lokal Jadi Jawaban Krisis Pangan Global?
Ilustrasi petani di sawah (Pexels/DoDo PHANTHAMALY)

Suara.com - Di tengah populasi dunia yang telah melampaui 8 miliar jiwa, perdebatan mengenai ketahanan pangan kembali menguat. Sistem pangan berbasis petani kecil kerap dipandang kurang efisien untuk memenuhi kebutuhan global yang terus meningkat.

Namun, pandangan tersebut dinilai mengabaikan aspek lain yang semakin relevan di era krisis iklim: daya tahan ekologis.

Dalam konteks ini, pangan lokal endemik disebut memiliki keunggulan dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan spesifik tanpa harus bergantung pada intervensi input pertanian yang tinggi.

Jurnalis sekaligus pegiat pangan lokal, Ahmad Arif, menjelaskan bahwa banyak pangan lokal justru tumbuh secara alami sesuai karakter ekosistemnya, sehingga tidak memerlukan perubahan besar pada lingkungan.

Pangan lokal (Pexels/Noval Gani)
Pangan lokal (Pexels/Noval Gani)

“Yang endemik misalnya sagu, dia tumbuh di rawa-rawa gambut bahkan yang tanaman lain tidak bisa tumbuh. Kalau tanaman lain mau ditumbuhkan di situ perlakuannya banyak, mengubah pH tanah, dan sebagainya,” ujar Ahmad dalam Raksa Loka Fest 2026, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, pendekatan pertanian monokultur yang umum digunakan dalam sistem pangan industri justru membutuhkan biaya tinggi dan berpotensi meningkatkan emisi. Sebaliknya, banyak pangan lokal diproduksi dengan input kimia yang lebih rendah, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.

Ahmad juga menyoroti adanya biaya tersembunyi dalam sistem pangan modern, terutama pada komoditas utama seperti beras yang masih sangat bergantung pada pupuk kimia bersubsidi.

“Minimal dari pupuk aja, subsidi kita terhadap pupuk kimia per tahun itu 40-an triliun. Bayangkan dengan produk sagu itu gak ada input pertanian yang harus kita keluarkan,” tambahnya.

Selain sagu, tanaman sukun juga disebut memiliki potensi besar sebagai sumber pangan berkelanjutan. Satu pohon sukun dapat menghasilkan hingga 200 kilogram buah per tahun dan terus berproduksi dalam rentang waktu panjang, sekitar 6 hingga 60 tahun.

baca juga

Pandangan bahwa sistem pangan berbasis komunitas kecil tidak mampu menjawab kebutuhan pangan global juga dibantah oleh sejumlah data. Gastronom sekaligus peneliti pangan lokal, Mei Batubara, mengutip data Food and Agriculture Organization (FAO) yang menunjukkan bahwa sebagian besar pangan dunia justru berasal dari produksi skala kecil.

“Dari data FAO dinyatakan bahwa 70 persen pangan dunia itu disuplai dari kebun masyarakat, bukan korporasi bukan pemerintah,” ujar Mei.

Berdasarkan pengalamannya di berbagai daerah di Indonesia, Mei menilai masyarakat desa yang masih menjaga pangan lokal cenderung lebih tahan terhadap krisis pangan karena keragaman sumber pangan yang tersedia di sekitar mereka.

Ia juga menekankan bahwa kerentanan pangan kerap muncul bukan karena ketiadaan sumber daya, melainkan hilangnya pengetahuan lokal dalam memanfaatkan pangan yang ada di sekitar.

“Masyarakat di desa tidak kekurangan pangan. Sebenarnya mereka jadi kekurangan pangan itu karena mereka gak tahu bahwa daun itu bisa dimasak,” kata Mei.

Sementara itu, di wilayah lain, ketahanan pangan lokal juga terbukti mampu menjadi penyangga saat krisis. Aktivis pangan lokal, Zadrakh Mengge, menceritakan pengalamannya memetakan keanekaragaman pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mencatat sedikitnya 35 jenis pangan lokal adaptif.

Menurutnya, saat pandemi Covid-19, pangan lokal menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan masyarakat di tengah terganggunya rantai pasok global.

Meski demikian, para pegiat pangan menilai bahwa penguatan pangan lokal tidak bisa hanya bergantung pada praktik komunitas. Dukungan teknologi pascapanen, riset, serta kebijakan yang berpihak diperlukan agar sistem pangan lokal dapat berkembang lebih luas dan berkelanjutan.

Dalam perspektif ini, pangan lokal tidak hanya diposisikan sebagai alternatif masa lalu, tetapi juga sebagai strategi masa depan yang lebih adaptif terhadap krisis iklim, lebih rendah emisi, dan berpotensi memperkuat kemandirian pangan di tingkat lokal maupun global.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintah Harus Kaji Ulang Susu Formula di MBG: Pangan Lokal Lebih Ampuh

Pemerintah Harus Kaji Ulang Susu Formula di MBG: Pangan Lokal Lebih Ampuh

News | Jum'at, 22 Mei 2026 | 10:46 WIB

Saatnya Kembali ke Akar: Membangun Imunitas dengan Kekayaan Pangan Lokal

Saatnya Kembali ke Akar: Membangun Imunitas dengan Kekayaan Pangan Lokal

Your Say | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:24 WIB

Konflik Timur Tengah, Ketua DPRD DKI Warning Potensi Krisis Pangan di Jakarta

Konflik Timur Tengah, Ketua DPRD DKI Warning Potensi Krisis Pangan di Jakarta

News | Senin, 30 Maret 2026 | 13:06 WIB

Terkini

Pemain Ini Dianggap Biang Kerok Kekalahan Memalukan Manchester United dari Chelsea

Pemain Ini Dianggap Biang Kerok Kekalahan Memalukan Manchester United dari Chelsea

Bola | Minggu, 01 November 2026 | 16:42 WIB

Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim

Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 16:41 WIB

5 Retinol Serum untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Atasi Kerutan dan Flek Hitam

5 Retinol Serum untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Atasi Kerutan dan Flek Hitam

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 16:21 WIB

Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah

Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 16:15 WIB

Viva Face Tonic Boleh Dipakai Umur Berapa? Simak Hal yang Perlu Diketahui

Viva Face Tonic Boleh Dipakai Umur Berapa? Simak Hal yang Perlu Diketahui

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 16:13 WIB

Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 16:12 WIB

Jejak Kontroversi Willie Salim: dari Rendang Hilang, Giveaway Settingan hingga Viral di Bundaran HI

Jejak Kontroversi Willie Salim: dari Rendang Hilang, Giveaway Settingan hingga Viral di Bundaran HI

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 16:05 WIB

Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap

Super Gemas! 5 Lip Scrub Kemasan Jar Mungil untuk Bibir Halus dan Lembap

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 16:00 WIB

Kiky Saputri Ngenyek Rakyat Jelata dari Jet Pribadi Viral Lagi, Windah Basudara Serukan Rumbling

Kiky Saputri Ngenyek Rakyat Jelata dari Jet Pribadi Viral Lagi, Windah Basudara Serukan Rumbling

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 16:00 WIB

Tak Semua Pasien Kanker Payudara Harus Jalani Mastektomi, Ada Pilihan Operasi Lain

Tak Semua Pasien Kanker Payudara Harus Jalani Mastektomi, Ada Pilihan Operasi Lain

Health | Minggu, 01 November 2026 | 15:57 WIB

×