- Pemerintah Iran mencatat 3.375 korban jiwa akibat konflik bersenjata melawan Amerika Serikat dan Israel selama 40 hari.
- Serangan udara di berbagai wilayah Iran menyebabkan kerusakan luas serta menewaskan banyak warga sipil dan anak-anak.
- Presiden Donald Trump menawarkan perundingan di Pakistan, namun Iran menolak karena masih adanya blokade laut ilegal.
Suara.com - Pemerintah Iran mengungkap jumlah korban tewas akibat perang dengan Amerika Serikat dan Israel mencapai 3.375 orang.
Data ini disampaikan Kepala Organisasi Kedokteran Forensik Iran, Abbas Masjedi, setelah 40 hari konflik berlangsung.
Masjedi menyebut mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak, lansia, dan pekerja sipil.
Dari total korban, 2.875 adalah pria dan 496 perempuan, sementara empat jenazah masih belum teridentifikasi hingga kini.
Masjedi juga mengungkap sekitar 40 persen jenazah awalnya tidak dapat dikenali akibat jenis bom dan rudal yang digunakan.
“Namun, tim forensik berhasil mengidentifikasi sebagian besar korban dan menyerahkannya kepada keluarga,” ujarnya dilansir dari Tasnim News, Senin (20/4).
Salah satu insiden paling memilukan terjadi di kota Minab, selatan Iran, ketika serangan menghantam sebuah sekolah dasar.
Lebih dari 160 anak dilaporkan tewas dalam peristiwa tersebut.

Konflik pecah sejak 28 Februari setelah serangkaian serangan besar-besaran yang menargetkan berbagai wilayah di Iran.
Serangan udara disebut menghantam fasilitas militer hingga area sipil, memicu kerusakan luas.
Sebagai balasan, militer Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target AS dan Israel di kawasan.
Eskalasi ini akhirnya mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan diberlakukan pada 8 April selama dua pekan.
Terbaru, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan akan mengirim delegasi ke Islamabad, Pakistan, untuk membuka peluang perundingan dengan Iran.
Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan konflik AS-Israel dengan Iran, khususnya terkait Selat Hormuz.
Trump menyebut pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung awal pekan ini, meski belum merinci siapa saja yang akan mewakili Washington.