- Sekjen DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji meluncurkan buku berjudul Kekuasaan Yang Menolong di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (20/4/2026).
- Buku tersebut berisi refleksi filosofi politik Sarmuji yang memandang kekuasaan sebagai sarana pengabdian nyata untuk membantu kepentingan masyarakat luas.
- Karya ini memuat pemikiran strategis Sarmuji dalam merespons berbagai isu kerakyatan serta harapannya meninggalkan warisan kebaikan bagi generasi mendatang.
Suara.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, meluncurkan karya literasi terbarunya berjudul “Kekuasaan Yang Menolong”.
Melalui buku ini, Sarmuji menegaskan garis politiknya yang memandang kekuasaan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sarana pengabdian untuk membantu masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa buku ini merupakan refleksi mendalam dari perjalanannya di dunia politik. Peluncuran karya ini dilakukan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (20/4/2026).
“Yaa saya menerbitkan dua buku plus satulah. Satu itu buku kenangan. Tapi dua buku itu yang pertama adalah ‘Kekuasaan Yang Menolong’,” ujar Sarmuji kepada wartawan.
Sarmuji menjelaskan, filosofi politik dalam buku tersebut memiliki kaitan erat dengan pesan spiritual dari nama putranya, Muhammad Sutojoyo atau Sulthanan Nashir.
Istilah Sulthanan Nashira yang menjadi judul buku tersebut ia maknai sebagai mandat bagi setiap pemegang kekuasaan untuk memberikan manfaat nyata bagi sesama.
“Kekuasaan Yang Menolong itu adalah sebenarnya terjemahan dari Sulthanan Nashira. Yaitu nama putra kami Muhammad Sutojoyo, Sulthanan Nashir,” tuturnya.
Bagi Sarmuji, nama tersebut adalah komitmen politik yang diprasastikan sejak ia memutuskan terjun ke dunia politik. Ia berharap setiap kebijakan dan langkah politik yang diambilnya senantiasa berpihak pada kepentingan rakyat.
“Dulu memang saya memberi nama Sulthanan Nashir itu untuk menjadi pengingat saya. Saya prastastikan menjadi nama anak saya. Karena waktu itu saya sudah masuk dalam dunia politik. Jadi saya berharap keberadaan saya dalam dunia politik itu menjadi Sulthanan Nashira, menjadi Kekuasaan Yang Menolong. Sebagaimana anak saya, saya namai,” jelas Sarmuji.
Meski putranya telah wafat, Sarmuji menegaskan bahwa nilai tersebut kini menjadi ruh dalam aktivitas politiknya di parlemen maupun di internal Partai Golkar. Ia ingin menjadikan politik sebagai jalan yang mulia.
“Tapi ya ternyata Allah berkendak lain, putra kami dipanggil pulang karena leukemia. Tetapi namanya tetap tersimpan dalam hati dan tetap menjadi pengingat bagi saya. Untuk menjadikan politik menjadi Sulthanan Nashira, menjadi Kekuatan atau Kekuasaan Yang Menolong,” ungkapnya.
Dalam isi bukunya, Sarmuji membedah bagaimana praktik politik seharusnya diimplementasikan untuk merespons persoalan rakyat. Sebagai Sekjen Golkar, ia banyak menuangkan pandangannya terhadap berbagai isu strategis yang berkembang di DPR.
“Kalau bukunya, dari bab pertama itu saya menjelaskan tentang politik sebagai Kekuasaan Yang Menolong. Lalu bab-bab berikutnya tentang pernyataan-pernyataan saya menanggapi situasi yang berkembang. Isu-isu kerakyatan yang berkembang di DPR dan beberapa isu yang kami tanggapi sebagai sekretaris jenderal (DPP Partai Golkar),” katanya.
Lebih lanjut, Sarmuji menekankan bahwa ia ingin mengakhiri karier politiknya dengan meninggalkan warisan kebaikan (legacy), merujuk pada doa Nabi Ibrahim AS agar setiap langkah politiknya menjadi buah tutur yang baik bagi generasi masa depan.
“Penutupnya itu kami berharap kami ini secara paripurna menjadi politisi itu seperti doa Nabi Ibrahim. Doa Nabi Ibrahim itu, Ya Allah jadikanlah aku ‘waj'allii lisana shidqi fiil akhiriin’. Itu di bab penutupnya. ‘Jadikanlah aku menjadi buah tutur yang baik bagi generasi yang datang kemudian’,” katanya.