- Masjid Mujahidin di Magelang memasang panel surya sejak 2025 untuk mendukung efisiensi energi melalui program 1000 Cahaya Muhammadiyah.
- Pemasangan panel surya berhasil menurunkan tagihan listrik bulanan masjid sebesar 50 persen dengan memanfaatkan energi matahari yang disimpan.
- Selain transisi energi, masjid ini juga mengolah limbah kotoran hewan kurban menjadi pupuk kompos untuk menjaga kebersihan lingkungan serta mencegah pencemaran air.
Bagi pengurus, cara ini bukan sekadar teknis pengelolaan limbah, tetapi bagian dari komitmen menjaga lingkungan. Prinsip masjid ramah lingkungan diterapkan tidak hanya pada penggunaan energi, tetapi juga pada bagaimana limbah dikelola agar tidak mencemari sekitar.
Setiap Idul Adha, Masjid Mujahidin dapat menyembelih hingga belasan sapi dan kambing. Seluruh limbah kotoran dan jeroan yang dihasilkan tidak dibuang begitu saja, melainkan dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk kompos yang lebih bermanfaat dan ramah lingkungan.
Nantinya, pupuk kompos yang dihasilkan dari proses pengolahan ini tidak dibiarkan menumpuk. Pengurus masjid mengemasnya dalam wadah sederhana dan membagikannya kepada para jemaah.
“Kalau sudah jadi kompos, siapa saja bisa ambil sendiri,” ujar Aslam.
Praktik ini juga sejalan dengan regulasi pemerintah. Merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 90 Tahun 2016 tentang penyelenggaraan pemotongan hewan kurban, limbah sisa kurban tidak boleh dibiarkan berceceran.
Pembuangan jeroan secara sembarangan, terutama ke sungai, berisiko mencemari lingkungan dan sumber air, menimbulkan bau tidak sedap, mengundang lalat dan hama penyakit hingga dapat menyebabkan masalah kesehatan masyarakat.

Kekuatan Transisi Energi Berbasis Komunitas
Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan menyebut, Masjid Mujahidin sebagai salah satu praktik baik yang didampingi program tersebut dalam mendorong target emisi nol bersih di Indonesia.
Menurutnya, persoalan perubahan iklim tidak bisa dilihat sebagai tanggung jawab individu semata, melainkan menjadi urusan bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Berangkat dari pemahaman itu, Program 1000 Cahaya Muhammadiyah berupaya meningkatkan kesadaran sekaligus kapasitas masyarakat sipil dan lembaga keagamaan untuk beralih ke energi bersih, sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
“Fokus kami di ranting, cabang, masjid, pondok pesantren, sekolah, dan kampus. Kenapa? Karena di tingkat ini model-model transisi energi yang kita jalankan bisa diperluas,” ujar Hening kepada Suara.com.
Ia menilai komunitas memiliki peran kunci dalam menyebarkan praktik baik. Dengan jaringan akar rumput Muhammadiyah yang kuat, inisiatif seperti ini dinilai punya potensi dampak yang luas jika dijalankan secara kolektif.
Dalam salah satu forum bersama perwakilan ranting Muhammadiyah, muncul gagasan agar setiap ranting memiliki setidaknya satu sumber energi terbarukan. Meski masih dalam tahap pembahasan, ide ini dianggap sebagai pijakan awal untuk mendorong transisi energi berbasis komunitas yang lebih luas lagi.
“Bayangkan kalau ranting Muhammadiyah yang jumlahnya sekitar 4.000 ranting, masing-masing membangun energi terbarukan, hampir pasti mereka sudah mengerjakan efisiensi dan transisi,” kata Hening.
Pandangan serupa disampaikan pakar energi dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Rachmawan Budiarto, S.T., M.T., IPU. Ia menilai pembangunan panel surya oleh komunitas merupakan langkah strategis dalam mendukung pengurangan emisi karbon.
“Peran komunitas membangun panel surya ini sangat strategis untuk pengurangan emisi karbon,” ujarnya.