- Ivany Rosaline, seorang ibu tunggal di Jakarta, bekerja sebagai pengemudi taksi untuk memenuhi kebutuhan hidup kedua anaknya.
- Sebagai perempuan di sektor transportasi, Ivany menghadapi stigma negatif penumpang namun tetap profesional menjalankan tanggung jawab pekerjaannya.
- Pendapatan Ivany sebagai pengemudi taksi bersifat fluktuatif, bergantung pada kondisi pasar dengan rata-rata penghasilan bulanan yang tidak menentu.
Di atas kertas, pekerjaan ini terlihat menjanjikan, namun realitasnya penuh fluktuasi. Pendapatan Ivany tidak pernah tetap, sangat bergantung pada waktu, musim, dan permintaan pasar.
“Rata-rata sekitar Rp7 juta sampai Rp8 juta per bulan, tapi itu kalau kondisi lagi bagus,” tuturnya.
Ada masa panen saat libur akhir tahun di mana penghasilan bisa melonjak hingga dua kali lipat, namun ada pula masa sepi yang terasa begitu panjang.
“Februari itu paling drop. Saya cuma dapat lima jutaan. Itu pun harus kerja keras sekali,” kenangnya.
Setiap hari adalah ketidakpastian. Setiap perjalanan adalah harapan. Selama satu tahun delapan bulan menjadi pengemudi, Ivany telah bertemu banyak orang—dari mereka yang kemudian menjadi pelanggan tetap, sahabat, hingga penumpang yang datang dalam kondisi paling rapuh.
Salah satu momen yang paling membekas adalah saat ia mengantar seorang lansia yang sedang sakit dan tampak sangat pesimis dengan hidupnya. Di dalam mobil, Ivany tidak sekadar menyetir; ia hadir sebagai pendengar dan pemberi semangat.
“Dia tidak menyangka masih ada orang yang peduli,” kenang Ivany.
Bagi Ivany, itu mungkin hanya satu perjalanan rutin, namun bagi penumpangnya, percakapan itu bisa jadi adalah sebuah titik balik.

"Hanya Saya yang Bisa Diandalkan!"
Meski tantangan di jalanan begitu keras, beban terberat Ivany justru berada di rumah. Salah satu anaknya hidup dengan kebutuhan kesehatan khusus sejak sekolah dasar, yang memerlukan perhatian dan kontrol kesehatan secara rutin.
Saat anak keduanya, Angel, didiagnosis diabetes, dunianya seolah jungkir balik. Ia sempat berada di fase merasa gagal sebagai ibu, ditambah lagi ia harus berjuang sendirian setelah pernikahannya berakhir.
“Intinya, cuma saya yang bisa diandalkan,” ujar Ivany dengan suara yang bergetar setiap kali menceritakan keluarganya.
Kini, kondisinya perlahan membaik. Sebagai pencari nafkah tunggal, ia bersyukur bisa memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Meski tidak mewah, keikhlasan dan ketangguhannya di balik kemudi telah membuktikan bahwa martabat seorang ibu bisa tegak berdiri, bahkan di tengah debu dan kerasnya aspal jalanan.