- Pemerintah Jerman berencana mengerahkan tiga kapal untuk mendukung misi internasional pengamanan pelayaran di Selat Hormuz pada 2026.
- Dewan Keamanan Nasional Jerman mensyaratkan mandat resmi dari Dewan Keamanan PBB sebelum memulai partisipasi dalam misi tersebut.
- Selain kapal, Jerman turut mempertimbangkan penggunaan pesawat pengintai yang saat ini berada di Djibouti untuk misi pengamanan.
Suara.com - Jerman berencana ikur campur dalam konflik yang terjadi di Selat Hormuz.
Tak tanggung-tanggung, mereka akan mengerahkan tiga kapal untuk berpartisipasi dalam misi internasional pengamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Hal itu terungkap dalam pertemuan dewan tersebut yang dipimpin Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Sejumlah isu politik dan ekonomi penting juga turut dibahas, termasuk situasi di Timur Tengah seperti yang diwartakan RIA Novosti, Rabu (22/4/2026).
Dalam laporan itu disebutkan bahwa Dewan Keamanan Nasional Jerman diharapkan dapat mengerahkan dua kapal penyapu ranjau dan satu kapal pasokan untuk berpartisipasi dalam misi tersebut.
![Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz dan bisa memicu perang terbuka dengan negara lain [Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/23543-ilustrasi-perang-terbuka-di-selat-hormuz.jpg)
Pengerahan kapal itu juga perlu mendapat mandat internasional, yang sebaiknya dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), sebagai prasyarat utama bagi partisipasi Jerman dalam misi tersebut.
Selain itu, Jerman telah mengusulkan akan mengerahkan pesawat pengintai kecil, yang saat ini ditempatkan di Djibouti sebagai bagian dari Operasi Aspides.
Sebelumnya diberitakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal April lalu mempertimbangkan dengan serius untuk menarik Amerika Serikat dari Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) karena anggota aliansi tersebut menolak mendukung AS dan Israel dalam berperang melawan Iran.
Trump pun mengatakan dia tidak lagi menganggap Eropa sebagai mitra pertahanan yang dapat diandalkan karena menolak permintaannya untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz.
[ANTARA]