- Sumartiwi, seorang perempuan berusia 76 tahun, telah berjualan nasi rames di Jalan Kolonel Sugiyono, Yogyakarta, sejak tahun 2001.
- Mbah Tiwi mengelola warung sederhananya secara mandiri dengan memasak menggunakan tiga tungku arang tradisional setiap harinya.
- Meski hidup sebatang kara, ia tetap gigih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung kepada orang lain.
Suara.com - Di sebuah sudut Jl. Kolonel Sugiyono, Wirogunan, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengepul asap tipis dari lapak sederhana seorang perempuan tua.
Warung kecil itu berdiri nyaris menyatu dengan trotoar. Sebuah gerobak sederhana berlapis kaca menjadi etalase sekaligus dapur, dengan tulisan 'Warung Mbah Tiwi' yang mulai pudar dimakan waktu.
Tak mewah memang, tak ada meja kursi, tak ada sekat, hanya ruang sempit yang dipenuhi wajan, ketel, ember air, dan tiga tungku arang yang terus menyala.
Dia adalah Sumartiwi atau yang akrab disapa Mbah Tiwi, menjalani hari-harinya dengan sederhana namun penuh keteguhan.
Di usianya yang telah menginjak 76 tahun, ia masih berdiri di balik meja dagangannya. Demi menyambung hidup dengan cara yang paling terhormat: bekerja.
Di tengah ruang yang serba terbatas itu, Mbah Tiwi bergerak pelan. Tubuhnya sudah bungkuk, seolah mengikuti arah gravitasi yang tak lagi bisa dilawan usia.
Ia mempersiapkan semua dagangannya itu sendiri. Mulai dari belanja, membawa perkakas, memasak hingga mencuci piring dan gelas bahkan memasang terpal di kala hujan.
Rambutnya yang memutih tersisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis-garis usia di wajahnya. Keriput tampak jelas di setiap sudut, tetapi sorot matanya tetap hidup, tenang, fokus, dan penuh kehangatan.
Sejak tahun 2001, Mbah Tiwi telah menggantungkan nasibnya pada seporsi nasi rames, ayam goreng, dan aneka sayur mayur. Ia kini sebatang kara usai sang suami berpulang ke pangkuan Tuhan setelah badai pandemi Covid-19 berlalu.
"Sudah sejak 2001 jualan di sini. Sekarang sendirian, suami sudah meninggal. Ini jualan nasi rames, ayam goreng, sayur sama minum-minuman," kata Mbah Tiwi ditemui Suara.com, Rabu (22/4/2026).
Kini, ia menjalani keseharian seorang diri di rumah peninggalan ibunya di kawasan Kotagede, tanpa ingin merepotkan siapa pun untuk urusan finansial.
Hangat di Sekitar Bara Arang
Keunikan dari masakan Mbah Tiwi terletak pada cara pengolahannya yang masih mempertahankan tradisi lama. Di tengah gempuran teknologi kompor gas yang instan, perempuan kelahiran tahun 1950-an ini memilih setia menggunakan tiga tungku arang untuk mematangkan seluruh dagangannya.

"Menggunakan tiga tungku arang untuk memasak, tidak pakai kompor gas, mahal," ujarnya.
Setiap hari, ritme hidupnya dimulai jauh sebelum matahari mencapai puncaknya. Sekitar jam 07.00 pagi, ia sudah berangkat dari rumah untuk berbelanja kebutuhan pokok seperti ayam dan sayur mayur di pasar.