-
Mojtaba Khamenei belum muncul ke publik sejak menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
-
Absensi fisik Mojtaba digunakan sebagai taktik melindungi negosiator dari kritik kelompok garis keras.
-
Elit politik Iran kini mengendalikan diplomasi di tengah ketidakpastian kondisi fisik pemimpin mereka.
Suara.com - Keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru yakni Mojtaba Khamenei masih menjadi teka-teki besar bagi publik dunia.
Enam minggu sejak menggantikan ayahnya yang tewas dalam pembunuhan berencana, sosok Mojtaba belum pernah terlihat secara fisik.
Dikutip dari CNN, Absensi ini terjadi saat Teheran menghadapi ancaman eksistensial paling serius dalam kurun waktu lima dekade terakhir.

Hingga kini publik hanya menerima pernyataan tertulis atau video berbasis kecerdasan buatan yang disiarkan televisi nasional.
Kondisi ini memicu spekulasi luas mengenai apakah sang pemimpin sedang terluka parah atau berada di luar negeri.
Gaya kepemimpinan tertutup ini sangat bertolak belakang dengan mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang selalu tampil vokal.
Laporan internal menyebutkan Mojtaba mengalami cedera serius pada kaki dan wajah akibat serangan yang menewaskan ayahnya.
Meski demikian sumber lain mengklaim ia tetap memimpin rapat penting melalui konferensi audio dari lokasi rahasia.
Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai sistem politik Iran sengaja memanfaatkan situasi ini.
"Sistem ini sengaja menonjolkan keterlibatan Mojtaba karena hal itu memberikan perisai pelindung bagi sistem tersebut terhadap kritik internal," ujarnya.
Peran Krusial Mohammad Bagher Ghalibaf
Ketidakhadiran Mojtaba secara fisik memberikan ruang bagi tokoh veteran seperti Mohammad Bagher Ghalibaf untuk tampil ke depan.
Ghalibaf kini menjadi jembatan antara kepentingan militer Garda Revolusi dan tuntutan diplomatik di meja perundingan.
Ia memimpin delegasi besar ke Islamabad untuk menunjukkan persatuan rezim di mata dunia internasional dan domestik.
"Mojtaba hilang dalam tugas, jadi menghubungkan pandangan dengannya adalah kedok yang baik bagi para negosiator Iran untuk melindungi diri mereka dari kritik," tambah Vaez.