- Pasar Santa di Jakarta Selatan mengalami penurunan jumlah pengunjung akibat kalah bersaing dengan kawasan Blok M saat ini.
- Fasilitas fisik yang minim, terutama suhu ruangan yang panas, menyebabkan pelanggan lebih memilih bertransaksi belanja secara daring.
- Penutupan gerai makanan dan minuman mengakibatkan Pasar Santa kehilangan daya tarik bagi pengunjung yang sekadar berjalan-jalan santai.
Pasar piringan hitam milik Aduy kini lebih banyak mengandalkan kolektor loyal, mulai dari bapak-bapak, para DJ yang mencari single untuk beraksi, hingga turis asing (bule) yang mencari rekaman langka musisi Indonesia saat ada gelaran festival besar seperti DWP (Djakarta Warehouse Project).
Harapan Perbaikan Fasilitas
Tiga tahun berjualan di Pasar Santa, Aduy berharap ada sentuhan perbaikan dari pihak pengelola, terutama soal suhu ruangan dan lahan parkir yang kerap menjadi kendala di akhir pekan.
Ia membandingkan kenyamanan pasar lain seperti Tanah Abang yang sudah dilengkapi pendingin ruangan (AC).
“Hawa-hawanya tuh di sini panas gitu kan, panas. Ya nggak nyaman lah pokoknya untuk proses jual beli tuh menurut saya di sini tuh agak kurang nyaman gitu,” tutup Aduy yang tetap setia membuka tokonya tujuh hari seminggu, mulai pukul 12 siang hingga 8 malam, di tengah sunyinya lorong-lorong Pasar Santa yang kian mendingin. (Dinda Pramesti K)