Krisis Energi Tekan Kelas Menengah Indonesia, Satu Guncangan Bisa Jadi Miskin

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Rabu, 29 April 2026 | 16:55 WIB
Krisis Energi Tekan Kelas Menengah Indonesia, Satu Guncangan Bisa Jadi Miskin
Ilustrasi kelas menengah. (Unsplash/Adrian Pranata).

Suara.com - Krisis energi global pada 2026 akibat ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya memukul anggaran negara, tetapi juga memberi tekanan besar pada kelas menengah di Indonesia. 

Data BPS menunjukkan bahwa proporsi kelas menengah turun menjadi 16,6 persen dari total populasi pada 2025. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kelompok menengah kini menjadi semakin rentan, terutama ketika terjadi guncangan ekonomi seperti kenaikan harga energi. 

Dalam forum Meningkatkan Ketahanan Energi di Tengah Bara Timur Tengah pada (28/4/2026),ekonom dan peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan bahwa kelompok kelas menengah lah yang paling terdampak saat harga energi meningkat. 

Lantas, apa yang membuat kelas menengah begitu rentan? 

Fenomena “One Accident Away From Being Poor” 

Salah satu faktor utamanya adalah tipisnya jaring pengaman sosial. Berbeda dengan negara maju yang memiliki tunjangan pengangguran (unemployment benefit) dengan bantuan tunai dan pembatuan pencarian lapangan kerja yang cocok, kelas menengah Indonesia tidak memiliki perlindungan serupa. 

Akibatnya, ketika terkena mengalami PHK, mereka cenderung kesulitan untuk segera kembali ke pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka. Banyak yang akhirnya beralih ke sektor informal, seperti ojek online atau pekerjaan serabutan lainnya.  

“Kelas menengah itu anekdotnya one accident away from the poor,” ucap Teuku.  

Artinya, satu guncangan saja, seperti kehilangan pekerjaan atau krisis kesehatan serta energi, dapat langsung meruntuhkan status ekonomi mereka. Kerentanan ini semakin besar karena banyak dari mereka juga termasuk sandwich generation, yang harus menanggung kebutuhan dirinya sendiri, keluarganya dan orang tua di saat bersamaan. 

“Jadi banyak masyarakat itu yang orang tuanya sudah pensiun, dianya mungkin baru lulus kuliah. Nah, dia harus menanggung orang tuanya,” tegas Teuku. 

Beban Energi yang Tak Proporsional 

Kerentanan tersebut membuat kelas menengah menjadi kelompok yang paling tertekan jika harga energi naik. 

“Dari total konsumsi kelas menengah itu 8,8 persennya habis untuk spending energi. Untuk beli bahan bakar, beli listrik, beli kemudian LED dan sebagainya," ujar Teuku saat memaparkan materi. 

Akibatnya, di tengah pendapatan yang terbatas dan tanggungan yang besar, mereka tetap harus menanggung kenaikan biaya energi secara penuh. 

Perlunya Intervensi Kebijakan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?

Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:34 WIB

Pemerintah Klaim Ketergantungan Indonesia ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen

Pemerintah Klaim Ketergantungan Indonesia ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:02 WIB

Kelas Menengah Terus Mengelus Dada: Gaji Tak Naik-naik dan Daya Beli yang Kian Payah

Kelas Menengah Terus Mengelus Dada: Gaji Tak Naik-naik dan Daya Beli yang Kian Payah

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 15:43 WIB

Terkini

Andi Gani Tegaskan Perayaan May Day di Monas 'Nol Dana Negara' Meski akan Dihadiri Prabowo

Andi Gani Tegaskan Perayaan May Day di Monas 'Nol Dana Negara' Meski akan Dihadiri Prabowo

News | Rabu, 29 April 2026 | 17:04 WIB

Pola Kekerasan Sejak Lama, LPSK Sebut Masih Ada Potensi Lonjakan Korban Daycare Little Aresha

Pola Kekerasan Sejak Lama, LPSK Sebut Masih Ada Potensi Lonjakan Korban Daycare Little Aresha

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:56 WIB

Transportasi Publik Belum Jadi Layanan Dasar, ITDP Dorong Penguatan Kebijakan Nasional

Transportasi Publik Belum Jadi Layanan Dasar, ITDP Dorong Penguatan Kebijakan Nasional

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:45 WIB

Dunia Harus Tahu! 8 Juta Warga Sudan Terancam Kelaparan, 700 Ribu Anak di Ambang Maut

Dunia Harus Tahu! 8 Juta Warga Sudan Terancam Kelaparan, 700 Ribu Anak di Ambang Maut

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:44 WIB

Stasiun Bekasi Timur Dibuka Lagi, KAI Pastikan Asepek Keselematan Sudah Terpenuhi

Stasiun Bekasi Timur Dibuka Lagi, KAI Pastikan Asepek Keselematan Sudah Terpenuhi

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:40 WIB

Dikritik Perang Lawan Iran, Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman: Dia Gak Tahu Apa-apa

Dikritik Perang Lawan Iran, Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman: Dia Gak Tahu Apa-apa

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:36 WIB

Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?

Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:34 WIB

Raja Charles Sindir Trump di Gedung Putih, Candaan soal Bahasa Prancis Bikin Ruangan Pecah

Raja Charles Sindir Trump di Gedung Putih, Candaan soal Bahasa Prancis Bikin Ruangan Pecah

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:27 WIB

Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh

Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:25 WIB

Lasarus PDIP: Pintu Kereta Api Jadi Akar Masalah, Harus Diurus Pemerintah Pusat

Lasarus PDIP: Pintu Kereta Api Jadi Akar Masalah, Harus Diurus Pemerintah Pusat

News | Rabu, 29 April 2026 | 16:22 WIB