Apa Bedanya Sekolah Rakyat dan Sekolah Biasa? Heboh Anggaran Sepatu Rp700 Ribu Sepasang

Chyntia Sami Bhayangkara

Senin, 04 Mei 2026 | 21:01 WIB
Apa Bedanya Sekolah Rakyat dan Sekolah Biasa? Heboh Anggaran Sepatu Rp700 Ribu Sepasang
sekolah rakyat (ist)
  • Menteri Sosial mengklarifikasi bahwa anggaran Rp27 miliar untuk pengadaan sepatu siswa Sekolah Rakyat belum bersifat final.
  • Sekolah Rakyat menyediakan pendidikan gratis serta fasilitas asrama lengkap bagi siswa dari keluarga ekonomi sangat rendah.
  • Berbeda dengan sekolah formal, Sekolah Rakyat menerapkan kurikulum fleksibel dengan sistem multi-entry untuk mendukung kemandirian siswa miskin.

Suara.com - Sekolah Rakyat kembali jadi perbincangan setelah muncul anggaran pengadaan sepatu untuk siswa Sekolah Rakyat mencapai Rp27 miliar.

Anggaran tersebut menjadi sorotan masyarakat luas, karena harga sepasang sepatu yang dimasukkan dalam anggaran berkisar Rp700 ribu. Lantas banyak orang penasaran, apa bedanya Sekolah Rakyat dengan sekolah biasa?

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengklaim angka yang muncul dalam anggaran hanyalah angka perencanaan awal dan belum bersifat final. Ia memastikan pengadaan melalui proses yang transparan.

Untuk menambah pemahaman, berikut ini penjelasan mengenai perbedaan Sekolah Rakyat dan sekolah biasa.

1. Kurikulum dan pendekatan belajar

Sekolah Rakyat tetap menggunakan Kurikulum Nasional seperti sekolah pada umumnya. Namun, pendekatan pembelajarannya lebih personal, fleksibel, dan adaptif terhadap kondisi siswa.

Sistem yang digunakan adalah multi-entry dan multi-exit, artinya siswa bisa masuk kapan saja dan menyelesaikan pendidikan sesuai capaian masing-masing. Ini berbeda dengan sekolah biasa yang terikat kalender akademik dan proses belajar yang seragam secara kolektif.

2. Biaya dan akses pendidikan

Perbedaan paling mencolok terletak pada biaya. Sekolah Rakyat memberikan pendidikan 100 persen gratis, mulai dari asrama, makan, seragam, hingga kebutuhan harian siswa.

Seluruh pembiayaan ditanggung negara melalui koordinasi Kementerian Sosial. Sementara itu, sekolah biasa—baik negeri maupun swasta umumnya masih membebankan biaya tambahan kepada orang tua, meski ada bantuan seperti BOS.

3. Target peserta didik

Sekolah Rakyat secara spesifik menyasar anak-anak dari keluarga termiskin, terutama yang masuk Desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Bahkan, anak jalanan dan mereka yang tidak terdata di sistem pendidikan formal juga menjadi prioritas.

Sebaliknya, sekolah biasa terbuka untuk semua kalangan tanpa segmentasi ekonomi yang ketat. Sistem seleksi biasanya berbasis zonasi atau prestasi akademik.

4. Fasilitas pendidikan

Sebagai sekolah berasrama, Sekolah Rakyat dirancang dengan fasilitas yang relatif lengkap. Mulai dari asrama, laboratorium, fasilitas olahraga, hingga ruang pengembangan diri tersedia dalam satu kawasan.

Di sisi lain, fasilitas sekolah biasa sangat bervariasi. Banyak sekolah negeri atau swasta yang masih bergantung pada anggaran daerah atau bantuan masyarakat, sehingga kualitas fasilitas tidak merata.

5. Tujuan pendidikan

Sekolah Rakyat memiliki visi yang lebih spesifik, yakni mencetak agen perubahan dari keluarga miskin. Pendidikan diarahkan untuk membangun kemandirian, kepemimpinan, dan ketangguhan agar siswa mampu keluar dari lingkaran kemiskinan.

Sementara itu, sekolah biasa cenderung fokus pada pencapaian akademik dan kelanjutan ke jenjang pendidikan berikutnya. Aspek pemberdayaan ekonomi keluarga tidak menjadi fokus utama.

6. Seleksi siswa dan guru

Proses seleksi di Sekolah Rakyat tergolong ketat dan berlapis. Siswa harus melalui verifikasi kondisi ekonomi, tes akademik, psikotes, pemeriksaan kesehatan, hingga pengukuran kemampuan kognitif.

Guru yang mengajar juga direkrut secara khusus melalui koordinasi Badan Kepegawaian Negara dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ini berbeda dengan sekolah biasa yang umumnya hanya menerapkan seleksi akademik sederhana atau sistem zonasi bagi siswa.

7. Pendanaan dan pengelolaan

Sekolah Rakyat sepenuhnya didanai negara dan dikelola lintas kementerian, dengan Kementerian Sosial sebagai koordinator utama. Model ini menempatkan pendidikan sebagai bagian dari intervensi sosial yang terintegrasi.

Sebaliknya, sekolah biasa dikelola oleh pemerintah daerah melalui dinas pendidikan atau oleh yayasan swasta. Sumber pendanaannya pun beragam, mulai dari APBD, bantuan pusat, hingga kontribusi orang tua.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Sepatu Lari Reebok Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan

5 Sepatu Lari Reebok Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan

Lifestyle | Minggu, 03 Mei 2026 | 14:55 WIB

5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng

5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng

Lifestyle | Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:34 WIB

5 Sepatu Lari Mizuno Diskon di Sports Station, Harga Turun Drastis hingga 61 Persen

5 Sepatu Lari Mizuno Diskon di Sports Station, Harga Turun Drastis hingga 61 Persen

Lifestyle | Sabtu, 02 Mei 2026 | 15:02 WIB

Terkini

Menakar Ramalan '98 Jilid 2' Noel: Nyanyian Kosong atau Ancaman Nyata Penggulingan Prabowo?

Menakar Ramalan '98 Jilid 2' Noel: Nyanyian Kosong atau Ancaman Nyata Penggulingan Prabowo?

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 22:51 WIB

'Presiden Punya Mata dan Telinga', Prabowo Pantau Terus Kasus Korupsi Imigrasi dan BGN

'Presiden Punya Mata dan Telinga', Prabowo Pantau Terus Kasus Korupsi Imigrasi dan BGN

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 22:09 WIB

Antisipasi El Nino dan Krisis Sampah, Dedi Mulyadi Kumpulkan Kepala Daerah se-Jabar

Antisipasi El Nino dan Krisis Sampah, Dedi Mulyadi Kumpulkan Kepala Daerah se-Jabar

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 22:05 WIB

Sentil Netizen, Eky Priyagung: Masyarakat Lebih Peduli Isu Viral Ketimbang Kerusakan Lingkungan

Sentil Netizen, Eky Priyagung: Masyarakat Lebih Peduli Isu Viral Ketimbang Kerusakan Lingkungan

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 21:13 WIB

KPK Sita 19 Kendaraan hingga Perhiasan dari Rumah Silmy Karim

KPK Sita 19 Kendaraan hingga Perhiasan dari Rumah Silmy Karim

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 21:06 WIB

Mobil Sport, Motor Harley, Hingga Uang Asing Dibawa KPK dari Rumah Silmy Karim

Mobil Sport, Motor Harley, Hingga Uang Asing Dibawa KPK dari Rumah Silmy Karim

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:38 WIB

Wamen Silmy Karim Tersangka Korupsi Rp145 M, Yusril Akui Imigrasi Masih Banyak Pungli

Wamen Silmy Karim Tersangka Korupsi Rp145 M, Yusril Akui Imigrasi Masih Banyak Pungli

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:20 WIB

WALHI: Target Ekonomi 8 Persen Bisa Sulap Papua Jadi Hamparan Sawit Raksasa

WALHI: Target Ekonomi 8 Persen Bisa Sulap Papua Jadi Hamparan Sawit Raksasa

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:09 WIB

Pemprov DKI Kebut Pembersihan Sampah Muara Angke, Ditargetkan Tuntas Akhir Pekan

Pemprov DKI Kebut Pembersihan Sampah Muara Angke, Ditargetkan Tuntas Akhir Pekan

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:09 WIB

'Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI', Aksi Ibu di Yogya Soroti Ekonomi hingga Korupsi

'Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI', Aksi Ibu di Yogya Soroti Ekonomi hingga Korupsi

News | Jum'at, 05 Juni 2026 | 19:55 WIB