Heboh Begal Pocong, Sosiolog UGM Ingatkan Publik Jaga Nalar: Ini Cipta Kondisi Ala Orba

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:28 WIB
Heboh Begal Pocong, Sosiolog UGM Ingatkan Publik Jaga Nalar: Ini Cipta Kondisi Ala Orba
Ilustrasi begal. [ANTARA]
baca 10 detik
  • Sosiolog UGM, Andreas Budi Widyanta, menyatakan fenomena begal pocong sengaja dirancang untuk menciptakan ketakutan dan kepanikan massal di masyarakat.
  • Pola penyebaran rasa takut ini serupa dengan taktik era Orde Baru yang bertujuan mengarahkan persepsi publik melalui kecemasan.
  • Algoritma media sosial mempercepat penyebaran narasi ketakutan, sehingga masyarakat perlu bersikap kritis dan melakukan verifikasi informasi secara mandiri.

Suara.com - Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta menyoroti fenomena begal pocong yang belakangan ramai diperbincangkan di sejumlah daerah.

Menurutnya, kemunculan narasi yang menimbulkan keresahan publik tersebut tidak bisa dilepaskan dari upaya menciptakan rasa takut di tengah masyarakat.

Abe sapaan akrabnya menilai pola yang muncul dalam fenomena begal pocong memiliki kemiripan dengan berbagai kepanikan sosial bernuansa mistis yang pernah terjadi di Indonesia pada masa lalu.

Narasi semacam itu, kata dia, kerap memunculkan ketidakamanan yang kemudian mendorong masyarakat mencari sosok penyelamat.

"By design ini, untuk menciptakan ketidakamanan dan ketidaknyamanan masyarakat. Lalu akan hadir 'hero' penyelamat yang mengatasi persoalan itu," kata Abe kepada Suara.com, Selasa (26/5/2026).

Ia menyebut fenomena tersebut dapat dibaca melalui perspektif psikopolitik yang berupaya membentuk persepsi publik melalui rasa takut.

Penciptaan kondisi sosial tertentu kerap digunakan untuk mengarahkan respons masyarakat terhadap suatu situasi.

Disampaikan Abe, kemunculan fenomena begal pocong memiliki benang merah dengan berbagai fenomena kepanikan massal yang pernah muncul sebelumnya, seperti isu 'ninja' pada akhir 1990-an maupun 'kolor ijo' pada awal 2000-an.

Menurut dia, pola tersebut menunjukkan kemunculan kembali praktik lama yang memanfaatkan narasi ketakutan di ruang publik.

baca juga

"Psikopolitik 'Cipta Kondisi'. Ya inilah 'wajah lama' orde baru muncul lagi saat ini," ucapnya.

Menurut Abe, eskalasi narasi ketakutan yang berkembang saat ini memperlihatkan pola fear mongering atau penyebaran rasa takut yang pernah terjadi pada masa Orde Baru.

Pola tersebut, kata dia, kembali muncul dengan kemasan yang berbeda namun memiliki tujuan yang serupa, yakni membentuk persepsi dan perilaku masyarakat melalui rasa cemas.

Ia menilai penggunaan isu-isu yang membangkitkan kecemasan kolektif dapat berdampak pada melemahnya daya kritis masyarakat.

Dalam situasi demikian, perhatian publik berpotensi tersedot pada ancaman yang belum tentu memiliki dasar yang kuat dibanding persoalan lain yang lebih substantif.

"Ini terjadi eskalasi fear monger lagi sama persis seperti Orba. Praktik teror dan pembodohan publik ala otokrasi yang banal," tuturnya.

Perkembangan teknologi membuat penyebaran narasi yang memicu kepanikan menjadi jauh lebih cepat dibanding masa lalu.

Algoritma media sosial dinilai berperan dalam memperluas jangkauan informasi yang mengandung unsur ketakutan sehingga lebih mudah menjangkau masyarakat luas.

Lebih lanjut, Abe bilang terjadi pertemuan antara kepentingan kekuasaan dan logika bisnis platform digital yang sama-sama diuntungkan oleh tingginya perhatian publik terhadap isu-isu yang memancing emosi.

Kondisi tersebut, menurutnya, membuat warga rentan terjebak dalam arus informasi yang terus memproduksi rasa cemas dan ketakutan.

"Teknologi digital mempercepat transmisi 'fear monger' itu. Otokrasi negara bertemu otokrasi korporasi platform membuat warga terkepung gelombang narasi double otokrasi," tandasnya.

Di tengah maraknya penyebaran informasi terkait begal pocong, Abe mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menerima begitu saja setiap informasi yang beredar di media sosial.

Sikap kritis diperlukan agar publik tidak terjebak dalam narasi yang sengaja dibangun untuk menciptakan kepanikan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan masyarakat sipil sebagai benteng terhadap berbagai bentuk penyebaran ketakutan di ruang publik.

Solidaritas dan kemampuan masyarakat untuk melakukan verifikasi informasi menjadi faktor penting dalam memutus rantai kepanikan massal.

"Perkuat konsolidasi masyarakat sipil, agar tidak termakan fear monger," tegasnya.

Ia turut menaruh perhatian pada peran media massa dalam menyikapi fenomena tersebut.

Ia menilai jurnalis memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan informasi secara proporsional dan tidak ikut memperbesar narasi yang dapat memperkuat kepanikan publik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Liks | Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Waspada Lewat S. Parman! Begal Modus Polisi Gadungan Gentayangan, Tuduh Korban Bawa Narkoba

Waspada Lewat S. Parman! Begal Modus Polisi Gadungan Gentayangan, Tuduh Korban Bawa Narkoba

News | Senin, 25 Mei 2026 | 21:09 WIB

Begal Urusan Polisi Bukan TNI! Koalisi Sipil Kritik Keras Watak 'Over-Reactive' Negara

Begal Urusan Polisi Bukan TNI! Koalisi Sipil Kritik Keras Watak 'Over-Reactive' Negara

News | Senin, 25 Mei 2026 | 20:05 WIB

TNI Disuruh Urus MBG hingga Begal, Pakar UGM: Lalu Siapa yang Menjaga Pertahanan Negara?

TNI Disuruh Urus MBG hingga Begal, Pakar UGM: Lalu Siapa yang Menjaga Pertahanan Negara?

News | Senin, 25 Mei 2026 | 18:50 WIB

Polemik TNI Keluar Barak Buru Begal: Solusi Keamanan Darurat atau Benturan Tupoksi Militer?

Polemik TNI Keluar Barak Buru Begal: Solusi Keamanan Darurat atau Benturan Tupoksi Militer?

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 06:55 WIB

Bukan Dibacok Begal! Pria di Tambora Patah Kaki Hantam Beton Gara-gara Mabuk

Bukan Dibacok Begal! Pria di Tambora Patah Kaki Hantam Beton Gara-gara Mabuk

News | Senin, 25 Mei 2026 | 16:21 WIB

Ratusan Ponsel Pelaku Begal Diperiksa, Polda Metro Jaya Dalami Jaringan

Ratusan Ponsel Pelaku Begal Diperiksa, Polda Metro Jaya Dalami Jaringan

News | Jum'at, 22 Mei 2026 | 21:51 WIB

Terkini

Soal Tiga Kasus Korupsi yang Menyeret Febrie Adriansyah, Komisi III DPR Bakal Bentuk Panja Khusus

Soal Tiga Kasus Korupsi yang Menyeret Febrie Adriansyah, Komisi III DPR Bakal Bentuk Panja Khusus

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 16:03 WIB

Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU

Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 15:44 WIB

KPK Soroti Dugaan Korupsi Lintas Rezim di Sukoharjo, Diduga 'Tradisi' dari Era Suami ke Istri

KPK Soroti Dugaan Korupsi Lintas Rezim di Sukoharjo, Diduga 'Tradisi' dari Era Suami ke Istri

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:47 WIB

Sudah Mundur dari Jampidsus, Kapan Febrie Adriansyah Diperiksa? Begini Jawaban Polda Metro

Sudah Mundur dari Jampidsus, Kapan Febrie Adriansyah Diperiksa? Begini Jawaban Polda Metro

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:31 WIB

Barbuk Emas dan Uang Punya Siapa? Hensa Desak Transparansi Kasus Usai Jampidsus Febrie Mundur

Barbuk Emas dan Uang Punya Siapa? Hensa Desak Transparansi Kasus Usai Jampidsus Febrie Mundur

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:06 WIB

Usai Mundur, Jaksa Agung Tunjuk Rudi Margono Jadi Plt Jampidsus Gantikan Febrie Adriansyah

Usai Mundur, Jaksa Agung Tunjuk Rudi Margono Jadi Plt Jampidsus Gantikan Febrie Adriansyah

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:53 WIB

Jawa Tengah Darurat Korupsi? 4 Kepala Daerah Terjaring OTT KPK dalam Waktu Singkat

Jawa Tengah Darurat Korupsi? 4 Kepala Daerah Terjaring OTT KPK dalam Waktu Singkat

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:16 WIB

KPK Ungkap Modus Bupati Sukoharjo, Gunakan SK Paksa ASN Setor Insentif hingga Rp2,93 Miliar

KPK Ungkap Modus Bupati Sukoharjo, Gunakan SK Paksa ASN Setor Insentif hingga Rp2,93 Miliar

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:34 WIB

Klarifikasi Kejati Jateng: Tak Ada Pemeriksaan Personel Polri Terkait SPPG

Klarifikasi Kejati Jateng: Tak Ada Pemeriksaan Personel Polri Terkait SPPG

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:59 WIB

KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo dan Dua Pejabat Pemkab Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan

KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo dan Dua Pejabat Pemkab Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:31 WIB

×