- Militer AS menyerang lokasi strategis di Bandar Abbas, Iran, untuk mengamankan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
- Iran membalas serangan tersebut dengan menargetkan pangkalan udara AS, sementara Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udara nasionalnya.
- Ketegangan militer ini memicu lonjakan harga minyak dunia lebih dari tiga persen di pasar energi global.
Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat menyusul serangan militer AS sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat sejumlah negara Teluk seperti Kuwait langsung mengaktifkan sistem pertahanan udaranya menyusul ancaman rudal dan drone balasa dari Iran yang mengincar pangkalan militer AS.
Militer Kuwait melalui pernyataan di platform X mengatakan suara ledakan yang terdengar di sejumlah wilayah berasal dari sistem pertahanan udara yang mencegat serangan masuk.
Namun, Kuwait tidak menjelaskan dari mana asal rudal dan drone tersebut.
Washington disebut melakukan serangan terhadap sebuah lokasi militer yang dinilai mengancam pasukan AS dan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
![Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/28/82282-as-serang-bandar-abbas-iran.jpg)
Seorang pejabat AS mengatakan serangan itu menyasar lokasi yang diyakini berpotensi mengganggu keamanan lalu lintas maritim di kawasan strategis tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang sebuah pangkalan udara milik Amerika Serikat setelah serangan AS dilakukan di luar Bandara Bandar Abbas.
“Jika itu diulangi, respons kami akan lebih tegas,” tulis IRGC dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, Tasnim.
Selain operasi militer, Washington juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap Persian Gulf Strait Authority, lembaga Iran yang mengatur lalu lintas kapal dan pungutan biaya di Selat Hormuz.
Pemerintah AS menuding otoritas tersebut memberikan keuntungan bagi IRGC melalui pengumpulan biaya dari kapal-kapal yang melintas.
Washington juga memperingatkan pihak yang bekerja sama dengan lembaga itu berisiko terkena sanksi.
Ketegangan yang terus meningkat langsung memengaruhi pasar energi global.
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3 persen, baik untuk Brent maupun West Texas Intermediate (WTI), akibat kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz.